Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Kilas Balik TI
Era Game Konvensional Berakhir di 2009?
Kilas Balik TI

Era Game Konvensional Berakhir di 2009?


- detikInet

Jakarta - Tahun 2009 boleh jadi menjadi tahun dimana game dengan beragam teknologi baru mulai diperkenalkan. Mulai dari sisi tampilan yang mewah hingga cara bermain yang unik. Apakah ini pertanda berakhirnya game konvensional?

Teknologi yang makin mendapat perhatian dari para pengembang game itu pun, lambat laun mulai tampak sempurna hingga benar-benar membawa gamer pada sensasi berbeda ketika bermain game.


Grafis Menawan

Kualitas grafis merupakan salah satu faktor yang paling diperhatikan oleh kebanyakan pengembang game. Jadi tidak heran, jika generasi game terbaru haruslah memiliki kualitas grafis yang lebih baik.
Β 
Kesempatan para pengembang game untuk memaksimalkan kualitas grafis produk mereka pun, tidak lepas dari peran serta raksasa sofware Microsoft ataupun pabrikan kartu grafis Nvidia ataupun AMD.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berkat dukungan fitur-fitur khusus yang disediakan para perusahaan itu, tampilan game pun terlihat makin aduhai, luar biasa dan menakjubkan.

Sebut saja penerapan teknologi PhysX yang makin marak. PhysX meski sejatinya bukan satu teknologi yang baru-baru amat dalam industri game, namun dengan adanya fitur ini, sebuah game akan terlihat lebih hidup berkat efek kehancuran ataupun partikel pada game yang terlihat sangat alami.

Teknologi PhysX sendiri merupakan kalkulasi yang diterapkan dalam game untuk mensimulasikan benda-benda fisik sehingga berlaku layaknya di dunia nyata. Secara teknologi PhysX mengacu pada teknologi di kartu grafis dan juga pada piranti lunak yang digunakan untuk mengembangkan game.

Berkat teknologi ini, beberapa judul game ternama ikut menuai sukses. Sebut saja Batman Arkham Asylum, Dragon Age: Origins ataupun Need for Speed: Shift.

Terlepas dari teknologi PhysX, Nvidia juga masih memililik teknologi yang dapat memberikan sensasi berbeda bermain game yakni, 3D stereoscopic.

Berbeda dengan PhysX, 3D stereoscopic membutuhkan perangkat khusus berupa kacamata dan LCD dengan spesikasi tertentu untuk memaksimalkan fitur tersebut. Fitur yang kian marak digunakan ini sudah dapat dicicipi pada game Resident Evil 5.

Selain Nvidia, Microsft dengan AMD juga memiliki andil besar dalam perkembangan industri game di seluruh dunia. Fitur teranyar yang diusung kedua perusahaan raksasa tersebut adalah DirectX 11.

DirectX 11 mulai digaungkan Microsoft pada Gamefest tahun 2008 di Seattle, Amerika Serikat. Application Programming Interfaces (API) terbaru ini, memungkinkan segala macam penghitungan yang rumit dapat dilakukan oleh Graphics Processing Unit (GPU).

Dengan demikian, game dengan lingkungan yang lebih kompleks pun dapat makin dikembangkan tanpa mengurangi kualitas sedikit pun.

DirectX 11 telah hadir bersamaan dengan sistem operasi anyat Microsoft yakni, Windows 7 yang telah dilucurkan pada bulan Oktober 2009 silam. Dan dapat dipastikan, beberapa game yang akan meluncur pada 2010 telah mendukung fitur ini, seperti Assassin's Creed II, Crysis 2, F1 2010, dan masih ada beberapa game besar lainnya.


Evolusi Bermain Game

Jika game berbasis komputer (PC) menawarkan kualitas game, entah itu grafis ataupun tatanan suara yang mengagumkan, lain halnya dengan konsol.

Setelah kemunculan Nintendo Wii pada tahun 2006 silam, beberapa pembesut konsol lain pun mengikuti langkah serupa dengan sistim permainan yang lebih atraktif. Nintendo Wii, memanfaatkan sensor gerak untuk mengendalikan permainan. Sehingga game dirasakan lebih menyenangkan dan atraktif.

Konsol game yang telah berusia tiga tahun ini pun dikabarkan segera memiliki generasi penerus dengan spesifikasi yang lebih 'sangar', sehingga permainan tidak hanya lebih atraktif namun juga memiliki kualitas yang baik pula.

Semenjak kemunculan Nintendo Wii dengan sensor gerak-nya, memunculkan inspirasi bagi Microsoft dan Sony untuk mengikuti langkah serupa. Sony misalnya, telah melakukan terobosan dengan membuat sistim kendali yang hampir mirip dengan nama Sphere.

Sphere ditampilkan sebagai dua tongkat dengan bola bundar di ujungnya. Tongkat itu, plus sebuah kamera, bisa menghadirkan pemain ke dalam game dan berinteraksi dengan berbagai benda virtual.

Selain Sony, pabrikan konsol lain yang mengikuti jejak Nintendo adalah Microsoft. Namun langkah yang diambil oleh perusahaan milik Bill Gates ini cukup revolusioner dan berbeda dengan konsol lain.

Microsoft menamakan kendali tersebut sebagai 'Project Natal'. Project Natal sendiri merupakan sistim kendali game yang keseluruhannya memanfaatkan gerak tubuh. Dengan kata lain, badan pemain sendiri yang menjadi 'gamepad' dalam game yang dimainkannya.

Baik Sony maupun Microsoft, sama-sama sesumbar bahwa sistim kendali yang mereka miliki mempunyai tingkat akurasi yang baik, sehingga pemain tidak akan menjumpai kendala apapun.

Entah itu dalam sistem grafis ataupun cara bermain yang baru, tentunya memiliki satu tujuan khusus yakni, membuat game makin menyenangkan untuk dimainkan.

Serangakaian perubahan ini dijanjikan mulai dapat dirasakan terhitung sejak 2010 nanti. Bahkan beberapa pengembang game ternama seperti Electronics Arts dan Ubisoft telah mengantongi sejumlah judul yang memanfaatkan teknologi baru itu.

Dengan demikian, lantas, apakah game dengan teknologi usang mulai ditinggalkan? Belum tentu. Tidak peduli menggunakan teknologi terkini atau yang sudah usang, jika game tersebut masih cukup menyenangkan untuk dimainkan, rasa-rasanya akan senantiasa digandrungi gamer.

(eno/rou)





Hide Ads