Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Catatan oleh Rama:
Tuna Netra Jadi Pawang Monster Online
Catatan oleh Rama:

Tuna Netra Jadi Pawang Monster Online


- detikInet

Jakarta - Meski tidak melihat bukan berarti tuna netra tak dapat menikmati game. Dengan memanfaatkan indera pendengaran, tuna netra dapat memainkan game yang didesain khusus menggunakan suara, yang selanjutnya dikenal dengan audio game atau accessible game (game yang selain dapat dimainkan oleh orang berpenglihatan juga dapat dimainkan oleh tuna netra).

Beberapa game dirancang khusus sehingga tuna netra dapat memainkannya berdasar pada instruksi suara yang muncul di game, misalnya permainan ular tangga, balap mobil, atau kartu. Game-game semacam ini memanfaatkan suara komentator atau sound effect yang dijadikan sebagai petunjuk bermain.

Tuna netra juga dapat menikmati game ber-genre text-base, artinya game-gamenya dimainkan dengan membaca teks yang tertera dalam game. Biasanya permainan jenis ini didesain untuk dimainkan menggunakan browser di internet, dan ragam permainannya pun bervariasi, mulai dari simulasi, kuis, hingga role-playing game. Untuk membacanya tuna netra dapat menggunakan program pembaca layar yang akan menyuarakan teks yang muncul di layar monitor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nah, kali ini Penulis ingin membahas sekilas tentang Monster Breeder, sebuah text-base game yang tak hanya dapat dimainkan oleh orang berpenglihatan, tapi juga dapat diakses tuna netra.

Game ini dirancang oleh seorang programmer PHP asal Amerika dengan nama sandi Vail Victus, dan sudah beroperasi sejak Desember 2006. Secara khusus, Vail Victus menyediakan opsi "Visual Aid" pada setting game agar tuna netra dapat lebih nyaman memainkan game ini, di mana elemen-elemen visual yang tak dapat dilihat tuna netra akan tampil dalam bentuk teks, misalnya peta lokasi dan petunjuk arah.

Dalam Monster Breeder, kita akan bertualang menjelajahi berbagai desa dan kota untuk mengamankan area-area tersebut dari gangguan monster. Seperti julukan yang diberikan pada kita (Monster Breeder-red), maka profesi kita adalah sebagai pawang monster yang ditugaskan memelihara monster yang nantinya dapat digunakan untuk bertarung di medan tempur atau bekerja mencari uang guna membeli kebutuhan hidup.

Saat memulai game, kita diminta membeli telur monster dan menetaskannya. Setelah itu, kita harus melatih monster tersebut di pusat latihan yang terdapat di kota, dan bila levelnya sudah cukup tinggi barulah kita dapat membawanya dalam misi-misi yang diberikan.

Monster pun dapat kita pilih jenisnya, mulai dari Evil (jago dalam pertempuran), Good (Panjang umur), Cute (Punya mantera penyembuhan yang mujarab), Worker (Jago bekerja), dan Normal (sedang-sedang saja untuk semua profesi). Semakin tinggi level tiap monster, maka mereka akan tumbuh semakin besar dan akan memiliki keahlian sendiri-sendiri. Keahlian itulah yang nanti dapat kita gunakan saat melawan monster lain (skill serang, skill penyembuhan, dll).

Kita juga dapat membeli senjata atau perlengkapan yang gunanya memperkuat monster-monster kita, atau membeli makanan yang dibutuhkan monster-monster kita untuk bekerja. Uang juga dapat digunakan untuk meng-upgrade tempat tinggal, membayar biaya rumah sakit jika monster piaraan terluka, atau bepergian menggunakan kereta api dari satu kota ke kota lain (tidak disarankan karena ongkosnya mahal dan kita tidak dapat menaikkan level monster kita sebab kita tak bertualang secara langsung).

Misi dan cerita yang muncul pun beraneka ragam, mulai dari yang sederhana seperti mengeposkan surat ke kota lain, sampai yang paling gawat seperti memberantas 200 ekor beruang yang mengepung sebuah kota!

Nah, jika level kita dan monster kita sudah semakin tinggi, maka kita dapat memelihara lebih dari satu monster dan dapat membawa lebih banyak barang bawaan. Kita dapat meng-upgrade rumah tinggal serta kandang untuk monster-monster kita.

Menurut Penulis (tuna netra), Monster Breeder merupakan salah satu game yang sangat aksesibel bagi tuna netra. Selain tak perlu instalasi (cukup registrasi dan login via browser), game ini pun berjalan mulus karena hanya me-load teks dan tak memerlukan obyek-obyek lain yang biasanya menghambat akses browser.

Dengan bantuan Visual Aid, penulis dapat mengakses seluruh informasi yang ada dalam game tanpa ada kesulitan, mengingat modus ini berhasil menerjemahkan elemen visual yang tak dapat diakses tuna netra dalam modus normal.

Mengingat Monster Breeder adalah text-base game berjenis MMORPG (Massive Multi Player Online Role-Playing Game), maka elemen cerita dan interaksi sosial yang disuguhkan sangatlah kompleks, jadi bagi tuna netra yang belum terbiasa berpikir berat, menahan diri karena harus berjam-jam melawan monster dan menaikkan level, atau berinteraksi dengan pemain lain dari seluruh dunia, maka persiapkanlah otak dan waktu kalian!

Sejauh ini, penulis telah memelihara 4 monster dengan level rata-rata di atas 100.

Lewat artikel ini, penulis berharap makin banyak programmer dan pengembang game lokal yang tertarik untuk membuat game bagi tuna netra. Tak perlu coding atau pemrograman yang rumit, cukup game berbasis teks dan browser yang punya jalan cerita bagus dan tentu saja mudah diakses. Untuk memainkan game ini, silakan kunjungi www.monbre.com.

Penulis, Eko Ramaditya Adikara (Rama), adalah seorang tuna-netra multi profesi, ia dikenal sebagai penulis buku berjudul 'Blind Power', seorang motivator dan juga terlibat dalam sound engineering beberapa game terkenal. Penulis tergabung dalam Yayasan Mitra Netra (MitraNetra.or.id). Blog pribadinya dapat dibaca di alamat www.ramaditya.com.
(faw/faw)







Hide Ads