Call of Duty: Black Ops 3 Tak Sekadar Perang Teknologi

Review Game

Call of Duty: Black Ops 3 Tak Sekadar Perang Teknologi

Mohammad Miradi - detikInet
Kamis, 17 Des 2015 10:48 WIB
Jakarta -

Tak dipungkiri, dari sekian banyak judul game besutan Activision, seri Call of Duty menjadi waralaba andalan yang sangat diperhitungkan. Kemunculannya selalu dinanti-nanti oleh setiap gamer first-person shoot (FPS) di seluruh dunia.

Hal ini nyatanya kembali terjadi di seri ke 12 Call of Duty atau yang dikenal judul Call of Duty: Black Ops 3. Hadirnya seri ketiga dari Black Ops ini bisa dikatakan sebagai kebangkitan dari tidur yang cukup panjang, dimana seri ini telah melalui masa absen selama tiga tahun.

Dalam penggarapannya, Activision masih mempercayakan penggarapan Black Ops 3 pada developer langganannya, Treyarch. Penasaran dengan game FPS yang rajin muncul tiap tahunnya ini? Berikut ulasannya.

Misi yang Tak Lagi Basi

Treyarch yang kembali dipercaya untuk menakhodai Black Ops 3 -- layaknya Infinity Ward dengan trilogi Modern Warfare -- diakui memang memiliki fanbase yang cukup besar. Terlebih ketika merilis seri World at War yang berfokus setting di masa perang dingin serta aksi pasukan elite di seri Black Ops.

Tak heran, ketika Activision mengumumkan Black Ops 3 untuk pertama kalinya, fanbase Treyarch langsung bersorak menyambut peluncurannya. Seperti yang kita ketahui, Call of Duty merupakan game tembak-tembakan yang kental dengan gaya penceritaan bernuansa Hollywood.

Nuansa ini bahkan sudah terasa sejak kemunculan dan kesuksesan di seri Modern Warfare bersama Infinity Ward. Dengan menggandeng Treyarch, sebenarnya Activision memiliki satu harapan, yakni gamenya mampu menampilkan aksi-aksi serta karakter protagonis yang tidak monoton dan selalu dipersepsikan sebagai 'Rambo' atau one man show.



Hal ini kemudian dibuktikan dengan adanya mode bermain secara cooperative atau co-op pada mode single player di Black Ops 3. Selama menjajal game ini, kami menemukan satu hal yang menarik, yakni setiap level kini didesain sedikit berbeda dari sebelumnya.

Hal ini bisa jadi demi menyesuaikan dengan konsep co-op yang mungkin terinspirasi oleh beberapa game FPS lain yang sudah lebih dulu mengimplementasikan co-op play pada mode single player campaign-nya. Dengan fitur baru tersebut, kini Artificial Intelligence (AI) musuh tidak lagi terus menerus muncul (respawn) di tempat yang sama. Map level yang terbuka memberikan kebebasan bagi para gamer yang bermain untuk menyerang dari berbagai sudut atau flanking.

Sebelum memulai mode single player campaign, gamer kini dapat memilih gender protagonis, apakah pria atau wanita. Begitu pula dengan tampilan wajahnya, dimana Anda bisa melakukan sedikit modifikasi. Sayang, kustomisasi wajah di Black Ops 3 hanya terbatas di pemilihan template. Tentu berbeda dan tidak sevariatif Fallout 4 yang menjadi pesaing di periode sama.

Ketika menyelesaikan dua misi pertama, kalian bisa mengakses safe house. Nah, fitur ini terbilang menarik. Mengapa? Karena fitur ini memberikan gamer kebebasan untuk memilih senjata serta kemampuan dari cyber cores dan cyber rigs yang kalian miliki sebelum memulai misi.

Saat mencoba, detikINET bermain dengan difficulty veteran. Butuh sekitar 30-45 menit untuk menyelesaikan satu misi dengan total kurang lebih 8-12 jam gameplay secara keseluruhan. Berbicara mengenai difficulty, Treyarch juga menambahkan difficulty Realistic. Sesuai namanya, difficulty ini menjadi difficulty tersulit, dimana hanya butuh satu peluru untuk membunuh pemain.



Jalan Cerita Sedikit Njelimet

Lalu bagaimana dengan kisah yang diusung? Seri Black Ops 3 ini memiliki cerita futuristik. Mengambil setting di masa depan, tepatnya di tahun 2065, bumi digambarkan sudah semakin rusak akibat perubahan iklim dan kemajuan teknologi. Tak cuma menguntungkan, kemajuan teknologi yang begitu pesat terutama di bidang militer membuat para negara berlomba-lomba membangun sistem mutakhir keamanan terutama Air Defense. Perang pun tak terhindarkan.

Bagi yang tak terbiasa bermain seri Black Ops, bermain Black Ops 3 mungkin akan dibuat sedikit bingung. Pasalnya, game ini tetap mempertahankan ciri khas bernuansa psyloghical dark dan gore dengan pembawaan narasi yang sedikit membuat Anda mengerenyitkan dahi dan berpikir: kita ini penjahat atau jagoan sih?

Hal ini tentu jelas berbeda dengan gaya cerita yang mudah dicerna di seri Modern warfare, dimana sudah terlihat jelas antagonis dan protagonisnya. Nuansa game yang kelam dan gelap itu pula sempat bikin mata terbelalak melihat adegan penutup di misi pertama. Kami pun sepakat bahwa game ini sejatinya memang bukan untuk dikonsumsi oleh gamer dibawah umur.

Meski jalan cerita dan narasi yang sedikit membingungkan, namun aksi stunt, ledakan, dan kejar-kejaran ala film action tetap tersaji dengan seru. Apalagi jika bermain dengan menggunakan home theatre ataupun gaming headset yang mumpuni.

Multiplayer Banyak Aksi

Seperti seri-seri sebelumnya, multiplayer Call of Duty selalu menjadi primadona. Walaupun tak sedikit dari gamer yang mengatakan bahwa Call of Duty kurang nyata, terutama dalam hal recoil senjata jika dibandingkan dengan Battlefield.

Imba atau imbalance menjadi momok menakutkan bagi pemain yang baru memulai multiplayer atau newbie. Biasanya, ketakutan itu terjadi tatkala bertemu dengan pemain yang sudah memiliki level atau prestige yang tinggi.



Tidak ingin dicap sebagai game shooter yang itu-itu saja, pada mode multiplayer Treyarch memperkenalkan multiplayer classes yang disebut Specialist. Sedikitnya ada sembilan kelas yang bisa gamer pilih. yaitu Ruin, Outrider, Battery, Prophet, Reaper, Nomad, Seraph, Spectre, dan Firebreak.

Setiap kelas memiliki kekuatan berbeda-beda dan bisa disesuaikan dengan mode multiplayer yang kalian pilih, baik itu Team Deathmatch, Ground War, maupun Hardpoint, atau Capture the Flag. Namun, semua kelas itu baru akan terbuka apabila gamer telah mencapai level 22.

Sementara itu, bagi gamer yang baru mencoba multiplayer harus puas dengan hanya mencicipi empat kelas 4 specialist. Bingung untuk memilih mana kelas yang cocok? Gamer yang gemar bermain rush dan frontal disarankan untuk menggunakan Battery dengan ability Kinetic Armor.

Ya, menurut kami kemampuan ini cocok bagi Anda dengan cara bermain yang suka berlari dan menggunakan shotgun tanpa perlu takut cedera parah karena pada dasarnya kelas ini dilengkapi dengan armor yang kuat. Pun demikian, Anda harus tetap waspada. Karena meski Anda akan kuat ditembaki di badan, kelas ini juga akan tumbang hanya dengan satu tembakan di kepala (headshot).

Ketika memainkan mode online multiplayer seperti domination maupun hardpoint, Anda dapat menggunakan Specialist Prophet dengan power weapon Tempest. Senjata ini dapat menembakan listrik yang terbukti ampuh dan efektif dalam melumpuhkan sekelompok pemain yang berkumpul di satu tempat ketika sedang mengamankan area.

Perubahan lainnya yang muncul adalah ketika melakukan melee attack atau serangan fisik Anda perlu melakukan dua kali pukulan untuk membunuh lawan. Namun, jika serangan dilakukan dari belakang, Anda cukup menekan satu kali saja. Hal ini sedikit memberikan keseimbangan terhadap permainan.



Seperti di Advanced Warfare, map pada online multiplayer tetap dibuat untuk mengoptimalkan fitur wall running. Tidak hanya itu, ada beberapa map yang kini menambahkan elemen air. Perang dalam air pun tak kalah seru dengan perang di udara saat wall running.

Bukan Call of Duty namanya jika kita tidak bisa mengoprek-oprek senjata. Ada banyak senjata baru yang ditawarkan seperti KUDA dengan fire rate yang sangat tinggi. Anda juga diberi kebebasan sepenuhnya untuk memilih attachment yang akan dipasang di masing-masing senjata yang dipilih. Yang menarik adalah, senjata-senjata tersebut dilengkapi dengan fitur paintshop. Jadi, Anda bisa membuat skin senjata sesuka hati.

Zombie Mode

Mode Zombie menjadi salah satu mode yang tak kalah menarik. Meskipun jauh dari konsep survival ala Left for Dead atau Dying light, mode Zombie di Black ops 3 tetap menawarkan sejumlah pengalaman bermain seru. Anda bisa bermain bersama tiga orang teman, bahu membahu menghadapi hordes ofzombie. Ada dua mode cerita dan dua map yang disuguhkan di mode zombie, yakni Shadows of Evil dan The Giant (DLC) di Kota Morg.

Dalam mode Zombie, Anda akan memerankan salah satu dari empat karakter yang bisa digunakan, yakni Nero the Magician, Jessica the Femme Fatale, Vincent the Cop, dan Campbell the Boxer. Tidak tanggung-tanggung, keempat karakter tersebut diperankan oleh aktor dan aktris terkenal Hollywood ,yaitu Jeff Goldblum (Jurassic park), Heather Graham (The Hangover), Neal McDonough (Minority Report), dan Ron Perlman (Pacific Rim).



Mencoba Shadows of Evil, dengan hanya dua orang pemain terasa cukup menantang. detikINET hanya mampu melaju hingga wave delapan. Map kali ini lebih luas dibanding sebelumnya dengan boss fight yang kian sulit. Layaknya mode single player dan online multiplayer, di mode Zombie juga kebagian mekanisme XP. Ya ,kini kalian bisa membelanjakannya untuk membuka attachments dengan menukar XP kalian.

Opini

Tidak ada kata bosan untuk setiap game Call of Duty yang notabene rilis satu tahun sekali. Dengan tenggat waktu perilisan yang ketat, toh masih banyak gamer yang memburu dan memainkan game ini. Black Ops 3 bahkan masuk nominasi Shooter of the Year di The Game Awards 2015.

Sebetulnya, masih banyak mode yang bisa dimainkan. Bisa dibilang Black Ops 3 kali ini merupakan penyempurnaan dari Advanced Warfare dari segi mode permainan. Begitu banyak bonus yang diberikan oleh Treyarch seakan tidak memberikan waktu yang cukup untuk menyelesaikan seluruh modenya.

Sebut saja mode Free Run, Dead Ops 2, sekuel game arcade yang kembali dapat dimainkan ketika masuk mode vault di safe house, mode Nightmare, dan lain-lain. Berbeda dengan kampenye utama yang serba teknologi, di Nightmare mode kalian akan melawan Zombie dengan senjata lawas dan beraroma mistis.

Shooting mechanics yang memang sudah menjadi ciri khas Call of Duty makin fluid dengan adanya wall running. Sulit menggunakannya? Anda dapat berlatih di Free Run mode jika ingin sering-sering menggunakannya pada saat bermain multiplayer. Treyarch juga tidak meninggalkan mode jadul, seperti split-screen untuk bermain baik single player maupun online dalam satu layar. Sebuah hal yang jarang namun positif untuk game next gen.

Call of Duty: Black Ops 3 merupakan game yang penuh dengan fitur dan mode yang kesemuanya bisa dimainkan seru-seruan bersama teman, baik offline maupun online. Bisa dibilang Activision dan Treyarch kali ini sukses memberikan service kepada penggemarnya, terutama penggemar seri Black Ops.

 

*) Penulis, M. Miradi merupakan kontributor xboxid.net serta admin di @xboxliveid. Di dunia maya, ia dikenal sebagai @mohmiradi.

(ash/ash)