Kamis, 15 Okt 2015 07:22 WIB

Review Game

FIFA 16: Makin Sempurna?

Mohamad Miradi - detikInet
Jakarta -

Tepat pada 24 September 2015 lalu, EA Sports resmi merilis FIFA 16 di benua Eropa dan Asia -- setelah di Amerika Serikat hadir lebih dulu yakni pada 22 September 2015. Sebagai salah satu game sepakbola dengan basis penggemar terbesar, FIFA 16 tentu sangat dinanti.

Sebelumnya, detikINET telah mereview versi demo FIFA 16. Saat itu kesan pertama yang muncul adalah, game ini menawarkan permainan sepakbola nan indah.

Sayang, karena versi demo, kami tak sempat mengulas FIFA 16 lebih detail. Untungnya versi full FIFA 16 sudah melenggang. Kami pun bisa dengan leluasa mengupas FIFA 16 lebih mendalam. Penasaran? Berikut ulasannya.

Gameplay

Ketika pertama kali dirilis, FIFA 16 dibanderol dengan harga yang tidak murah. Lalu apakah ada alasan bagi gamer untuk membeli FIFA 16? Tentu ada! Selain karena lisensi lengkap dari organisasi sepakbola dunia, EA Sports mengklaim bahwa FIFA 16 merupakan penyempurnaan dari seri-seri sebelumnya.

Jika di FIFA 15, gamer diberikan pengalaman bermain lebih arcade, passing cepat, serta dominasi perpaduan kekuatan dan kecepatan pemain, seperti Messi ataupun Christiano Ronaldo. Maka FIFA 16 hadir dengan cita rasa berbeda yang (mungkin) melencengkan ekspektasi para fans. Ya, FIFA 16 datang dengan membawa perombakan berbagai elemen, mulai dari urusan passing, crossing, dribbling sampai shooting.



Seperti yang diulas pada demo sebelumnya, pace permainan menjadi sedikit lebih lambat. Ragam fitur disematkan untuk memperkuat alasan mengapa cara bermain di FIFA 16 ini tidak secepat FIFA 15. Agar lebih lengkap, detikINET mencoba di tiga mode berbeda, yakni Career Mode, Seasons, serta Pro Club. Fitur yang kami maksud di sini adalah Confidence in Defending.

Dari ketiga mode yang dicoba hanya Career mode dan Pro Club yang terasa perbedaannya. Di mode Pro Club, pemain belakang yang kadang dikendalikan oleh artificial intelligence (AI) kini dapat dengan sigap melakukan covering dengan cepat dan tekel lebih efisien saat kita tidak mengontrolnya. Meskipun kadang, AI justru lebih banyak melakukan passing tidak penting di area pertahanan sendiri dan tidak jarang juga melakukan error pass yang berujung gol.

Sedangkan di Career Mode, pemain belakang semakin militan menjaga area pertahanannya dan tidak jarang, pemain sekelas Benteke disenggol jatuh oleh bek yang justru memiliki postur dan secara fisik lebih kecil seperti Luke Shaw.

Tampaknya fitur yang satu ini agak sedikit overpowered dan tidak balance. Pasalnya secara statistik, sang penyerang memiliki body balance yang lebih besar ketimbang bek Manchester United tersebut.

Bagaimana dengan Control in Midfield? Hal ini mungkin masih bergantung pada formasi yang gamer pilih. Jika menggunakan formasi menyerang seperti 3-4-3 ataupun 4-2-1-3, maka pemain akan jarang melakukan intercept sebagaimana yang dijanjikan. Passing di FIFA 16 masih sama seperti seri lawas. Cukup dengan menekan tombol R1 dan X pemain akan melakukan driven pass, bola yang ditendang akan melaju lebih cepat dan bertenaga.



Namun hal ini juga bisa jadi bumerang ketika sang penerima bola tidak memiliki statistik kontrol bola yang baik. Driven pass sangat berguna kala striker diapit oleh dua atau lebih pemain bertahan. Passing yang cepat dan akurat akan dapat menyusup di antara bek dan mudah bagi penyerang untuk melakukan penetrasi.

Moments of Magic

Masih ingat gol spektakuler Messi melewati hampir seluruh pemain Getafe? Atau Ronaldo (Inter Milan) pada final 1998 piala UEFA melakukan step over melewati kiper Lazio, Luca Marchegiani?

Ya, momen tersebut diwujudkan dalam No-Touch Dribbling, sebuah gerakan tanpa bola yang terinspirasi oleh dua pemain kelas dunia tersebut.

Untuk bisa mewujudkan itu, EA Sports secara eksklusif merekam sang masterpiece, Lionel Messi. Penasaran, detikINET pun mencoba melakukan gerakan ini yang hasilnya, pemain belakang AI berhasil dilewati dengan sukses. Hanya saja, butuh skill dewa untuk bisa mengaplikasikan fitur tersebut pada gamer lainnya.

FIFA Trainer

Salah satu fitur unik yang tak bisa dilewatkan adalah FIFA Trainer. Banyaknya perubahan di FIFA 16 kali ini mendorong EA Sports menyematkan tutorial dalam bentuk in-game HUD (Heads-Up Display). FIFA Trainer berfungsi layaknya asisten pelatih. FIFA Trainer akan memberikan saran tindakan apa yang harus dilakukan pada kondisi tertentu.

Semisal, sang penyerang dalam posisi menembak di luar kotak penalti, FIFA Trainer akan memunculkan opsi antara tendangan direct atau melakukan tendangan pisang. Hal ini juga tergantung posisi menembak dan skill si pemain. Fitur bisa dimatikan dan dimunculkan semudah menekan tombol R3 atau analog kanan.



Terkesan simpel memang. Tetapi bagi gamer yang baru mencicipi game FIFA, fitur ini sangat berguna. Lalu bagaimana dengan gamer yang sudah bertahun-tahun memainkan FIFA? Jangan salah, fitur ini juga berguna buat kalian. Bedanya, kalian cukup melakukan setting dari auto menjadi manual. Sedikitnya ada 6 level berbeda yang bisa dipilih, dimana setiap level pada trainer tentunya akan membantu gamer bermain FIFA lebih efisien dan efektif.

FIFA Ultimate Team

EA Sports tahu betul, FIFA Ultimate Team atau lebih dikenal dengan nama FUT merupakan mode yang paling banyak dimainkan oleh penggila game FIFA. Sejak pertama kali dikenalkan sebagai DLC (downloadable content) pada FIFA 2009 dan kemudian menjadi gratis pada FIFA 2010 di akhir periodenya, jumlah pemain FUT melonjak drastis. Hingga kini FUT merupakan salah satu andalan EA Sports dalam mendulang keuntungan melalui penjualan FIFA Points.

Tak pelak, EA Sports juga mau tak mau menawarkan beberapa fitur baru, di antaranya FUT Draft, yang menurut detikINET merupakan additional feature paling seru, terutama bagi gamer yang baru mencicipi FUT. Selain itu, EA Sports juga mengimprovisasi tampilan FUT jadi lebih segar.

Sekadar informasi, bagi gamer veteran FIFA, EA Sports memberikan bonus seperti unlocked boots, traits, atau memulai seasons mode dengan divisi satu tingkat lebih tinggi. Bagi pemain FIFA Ultimate Teams, bonus yang didapatkan bergantung pada frekuensi Anda bermain. Ada yang mendapatkan loan pemain kelas dunia, ada pula sekedar tambahan koin untuk membeli item/pemain. Satu hal lagi, FIFA Points yang Anda dapatkan di PlayStation 3 otomatis bisa ditransfer ke PlayStation 4.

Sayangnya di FIFA 16 versi Playstation 4, kalian masih tidak bisa memainkan legenda seperti Robbie Fowler, Dennis Bergkamp, George Best maupun Paolo Maldini. Hal ini dikarenakan FUT Legends masih eksklusif untuk konsol Xbox 360 dan Xbox One besutan Microsoft.

Career Mode

Career mode menawarkan sejumlah pembaharuan, di luar gameplay tentunya. Salah satunya adalah Pre-season Cup. Layaknya tim-tim besar yang berpartisipasi pada turnamen pra-musim sebelum memulai liga, Anda akan diikutsertakan pada turnamen pra-musim. Meski terkesan tidak terlalu penting, namun jika gamer memenangkan turnamen ini, pemilik klub yang Anda kelola akan memberikan bonus berupa tambahan dana untuk membeli pemain! Cukup keren bukan?

Kami juga mencoba training pada Career Mode. Ingatkah Anda dengan skill game yang biasanya muncul pada loading screen? Ya, kini EA Sports menjadikan skill game sebagai fitur tambahan di Career Mode. Meski sekadar fitur tambahan, namun Skill Games di Career Mode memegang peranan penting bagi perkembangan statistik pemain yang Anda latih.



Sangat disarankan agar Anda tidak melakukan simulasi pada pemain yang menu latihannya tidak sesuai dengan posisi sang pemain. Hal ini karena skor latihan yang disimulasikan menentukan perkembangan sang pemain. Contohnya, ketika pemain posisi bek diberi latihan finishing, bisa dipastikan skor yang dihasilkan akan buruk, karena tidak sesuai. Oleh karena itu latihlah pemain sesuai dengan posisinya.

Semakin sering Anda melatih pemain dan skor yang didapatkan juga bagus, maka rapor pemain akan semakin bagus. Ini tentu akan berpengaruh terhadap nilai jual si pemain ketika bursa transfer.

Bermain Sebagai Timnas Wanita

Salah satu upgrade yang paling terlihat di FIFA 16 tentunya adalah hadirnya Women's Football. Ya, sebuah gebrakan yang terbilang cukup signifikan. Tak hanya menjadi penyegaran tampilan, Anda bisa merasakan asyiknya bermain sebagai timnas wanita.



Karena yang Anda mainkan adalah pesepakbola wanita, sudah pasti kontrol pemainnya pun berbeda. Kontrol bola timnas wanita terasa lebih lincah ketimbang pria. Sedikitnya ada 12 timnas wanita yang bisa Anda pilih di FIFA 16.

Hasil Akhir

Benteke di Liverpool, De Bruyne di Manchester City, Pedro di Chelsea, sejumlah nama tersebut memang menjadi alasan sebagian gamer membeli FIFA 16. Gemerlap Liga Inggris juga menjadi official partner di FIFA 16, liga yang konon paling terkenal di seluruh dunia ini dan paling banyak pangsa pasarnya memang sangat dinomorsatukan oleh EA Sports Canada selaku developer.



Hampir seluruh wajah pemain Liga Inggris terlihat mirip dengan aslinya. Namun hal ini justru kebalikannya dengan Serie A Italia ataupun Bundesliga Jerman. Beberapa wajah pemain masih terlihat menggunakan cetakan FIFA 15, termasuk jersey yang sengaja dibuat gelap di area ketiak, sehingga GPU tidak perlu usaha ekstra untuk merender shadows dan highlights.

Memang benar game ini masih seru dan lancar untuk dimainkan. Tapi sejumlah repetitive di beberapa sektor perlu pembenahan -- server EA yang bug -- agar game yang harganya kini justru lebih mahal dari game sekelas The Witcher atau Metal Gear Solid: Phantom Pain itu tidak bisa seenaknya keluar setiap tahun.

Toh, kembali ke awal, bagaimana kita ingin bermain indah jika keindahan itu sendiri terusik masalah klasik?

(ash/ash)