Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Catatan oleh Rama
5 Fitur Andalan DSi
Catatan oleh Rama

5 Fitur Andalan DSi


- detikInet

Jakarta - Pembaca, akhirnya Nintendo merilis juga sekuel dari konsol genggam terkininya, Nintendo DSi. Setelah November 2008 lalu adik Nintendo DS ini digelontorkan di negeri asalnya, Jepang, bulan ini giliran Amerika dan Eropa yang mencicipi si mungil kaya fitur itu. Para gamer yang sudah memiliki Nintendo DS pun tak keberatan membeli DSi, padahal sama-sama DS-nya. Mungkin beberapa dari Anda malah sudah berencana
memilikinya sama seperti mereka? Nah, sebelum memutuskan, dan sambil menunggu DSi benar-benar masuk ke Indonesia, yuk kita lihat-lihat dulu lima fitur andalannya!

Setelah sukses merilis Nintendo DS tahun 2004, dan versi rampingnya Nintendo DS Lite pada 2006, Nintendo kembali meluncurkan versi ketiga dari handheld layar gandanya. Kali ini dengan bentuk yang lebih "singset" serta fitur-fitur baru yang tentunya menggiurkan untuk dicoba, seperti dual-camera, aplikasi untuk merekam suara dan mengambil gambar, atau fitur berbelanja game secara online.

Seperti yang sudah-sudah, peluncuran DSi pun laris manis. Menurut presiden Nintendo, Satoru Iwata, bulan ini saja, Nintendo sudah berhasil menjual DSi sekitar 600.000 ribu unit di kawasan Amerika dan Eropa. Di negeri Sakura, penjualan DSi yang sudah berjalan sekitar 5 bulan bahkan sudah mencapai tiga kali lipatnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lewat artikel ini, penulis ingin menunjukkan lima fitur yang membedakan DSi dengan DS versi sebelumnya, dengan harapan dapat membantu Anda memutuskan apakah Anda ingin kembali merogoh uang sekitar dua jutaan untuk membeli DSi atau tidak. Kalau tidak, lumayan kan uangnya bisa ditabung?

1. Pemutar Musik

Dengan ditanamkannya fitur pemutar musik pada DSi, kini Anda dapat mendengarkan musik-musik kesayangan Anda di mana saja layaknya menggunakan iPod atau ponsel multimedia. Tersedia juga fungsi-fungsi audio editing, seperti ECHO, PITCH, bahkan perekam suara dan penghapus vokal. Jadi, kalau Anda ingin membuat suara Anda bergema, atau mengacak-acak file musik yang sudah ada, semuanya dapat dilakukan tanpa perlu komputer dan aplikasi audio editing lagi!

Sayangnya, pemutar musik DSi hanya mendukung file audio berformat AAC, dan tidak -- atau barangkali belum -- mendukung format MP3.

2. Kamera

Ada dua buah kamera yang terpasang di DSi. Satu menghadap ke arah pemain, satunya lagi membelakangi pemain. Kedua kamera itu dapat digunakan untuk mengambil gambar atau bermain game. Namun, hingga saat ini belum ada game yang secara spesifik hanya diperuntukkan untuk DSi dan memanfaatkan fasilitas kamera yang ada.

Bicara soal aplikasi foto editornya, kalau Anda pernah bermain-main dengan aplikasi iPhoto di Macbook barangkali Anda sudah dapat menebak seperti apa kira-kira fungsinya. Seperti sebuah editor foto sederhana, Anda dapat meng-edit gambar yang Anda masukkan ke dalam memory card atau memory DSi.

Terdapat beberapa efek lucu dalam aplikasi editor foto DSi, seperti penambah kumis, pembesar wajah, atau penyatu gambar (dua gambar disatukan menjadi satu gambar). Tapi, jangan berharap mendapatkan aplikasi pengolah gambar secanggih Photoshop, ya?

3. Download

Dengan adanya tambahan slot memory card serta integrasi perangkat wi-fi, kini Anda dapat men-download berbagai game dan aplikasi yang ditawarkan Nintendo melalui DSiWare shop channel, mirip seperti toko online di konsol Wii.

Fitur ini juga menjawab keinginan pecinta Nintendo yang ingin memainkan game-game lawas dari konsol genggam produksi Nintendo terdahulu, seperti GameBoy, GameBoy Color, dan GameBoy Advance. Ini juga merupakan alasan kenapa port untuk memasukkan cartridge game GameBoy Advance dihilangkan dari DSi, karena nantinya game-game GameBoy Advance akan dijual secara digital.

Selain itu, nantinya akan tersedia game-game khusus yang dijual melalui toko online ini. Anda dapat membelinya dengan menukarkan DSi point, semacam voucher yang dapat Anda beli menggunakan kartu kredit. Misalnya, Anda membeli DSi point sebesar 1000 poin, dan Anda membeli game yang dihargai 800 poin, maka sisa poin Anda tinggal 200. Begitu seterusnya.

4. Bentuk

Kalau Anda membandingkan bentuk DSi dengan DS versi awal, Anda akan melihat perbedaan yang sangat jauh, bak orang gemuk ketemu orang kurus! Biarpun begitu, bila Anda sudah memiliki DS Lite, bedanya tidak terlalu jauh, karena DS Lite sudah cukup ramping untuk ukuran sebuah konsol genggam.

Susunan tombol dan layout DSi telah diatur sedemikian rupa, sehingga sangat ergonomis dan mudah dioperasikan. Sistem operasi yang menyajikan tampilan DSi pun didesain seperti Wii, sehingga pemain dapat dengan mudah mengakses fitur-fitur DSi. Cukup drag and drop atau tunjuk dengan pointer, maka aplikasi atau menu dapat langsung dibuka.

5. Ruang Tampung

Dengan kapasitas memori penyimpanan internal yang lebih besar (250 MB), dan ketersediaan slot untuk SD dan SDHC card, maka pemain dapat lebih leluasa menyimpan musik, video, atau game tanpa khawatir kehabisan tempat. Fasilitas inilah yang tidak tersedia di versi DS sebelumnya.

Hal ini juga membuka kesempatan kepada mereka yang jago membuat aplikasi, atau programmer yang ingin berkreasi, karena dengan adanya slot SD card akan memungkinkan mereka membuat program atau game individu yang langsung dapat dijalankan melalui DSi. Ya, asal Nintendo tidak menutup dan membatasi akses mereka.

Kesimpulan

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Anda -- khususnya bagi yang sudah punya DS sebelumnya -- butuh membeli DSi atau tidak? Pasalnya, meskipun sudah dipersenjatai dengan amunisi baru, DSi tetaplah DS, setidaknya hingga Nintendo benar-benar mengeluarkan game dan aplikasi yang memanfaatkan seluruh kemampuan DSi.

Untuk orang dewasa yang sudah punya iPhone atau iPod Touch, rasanya fitur-fitur yang ditawarkan DSi tidaklah dapat menggantikan apa yang sudah dipunyai kedua gadget di atas. Namun, bagi anak muda, wanita, atau anak-anak yang punya rasa ingin tahu yang tinggi, DSi boleh jadi merupakan "kotak ajaib" yang menawarkan segudang fitur menarik yang dapat mereka pakai, setidaknya sebelum mereka punya iPhone sendiri.


Penulis, Eko Ramaditya Adikara (Rama), adalah seorang tuna-netra multi profesi, ia dikenal sebagai penulis buku berjudul 'Blind Power', seorang motivator dan juga terlibat dalam sound engineering beberapa game terkenal. Penulis tergabung dalam Yayasan Mitra Netra (MitraNetra.or.id). Blog pribadinya dapat dibaca di alamat www.ramaditya.com.

(wsh/wsh)






Hide Ads