Berburu Foto Arsitektur yang Kaya Cerita

Berburu Foto Arsitektur yang Kaya Cerita

Ari Saputra - detikInet
Senin, 26 Okt 2015 09:50 WIB
Beragam arsitektur rumah bergaya Victorian di San Francisco. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Foto arsitektur menjadi salah satu genre fotografi yang mengasikan. Selain mengasah kemampuan teknis dan nalar kreatif, foto arsitektur menuntut sentuhan estetika dan kepiawaian menemukan aura sebuah subjek arsitektur yang menarik.

Yang patut diperhatikan, foto arsitektur tidak sekedar foto gedung-gedung mewah dengan teknik pencahayaan maksimal. Namun bangunan sederhana dan tradisional termasuk bagian dari arsitektur yang patut direkam. Tidak terkecuali produk arsitektur urban yang tidak biasa seperti halte bus, rumah kumuh, taman kota, pom bensin hingga jembatan.

"Untuk memperoleh foto arsitektur, terkadang perlu mengabaikan teknis fotografi. Menemukan detil, fungsi dan element arsitektur itu lebih penting" kata kurator seni fotografi Museum Ludwig Jerman Rinhold Mibelbeck dalam buku 20th Century Photography (Taschen; 2013).

Untuk mendekati tuntutan itu, ada beberapa trik yang bisa dilakukan. Apa saja?

1. Mulailah dengan dari yang mudah

Untuk memulai mengoleksi foto arsitektur bisa dimulai dengan bangunan yang ada di lingkungan masing-masing. Sejak rumah sendiri lalu meluas ke kompleks perumahan dan rumah ibadah. Kemudian bisa melanjutkan ke kawasan perkantoran, pertokoan, jembatan dan taman kota hingga appaun yang dinilai menarik.

Sesekali manjakan mata dengan traveling untuk melihat keanekaragaman arsitektur tradisional, modern atau kontemporer. Nikmati lompatan-lompatan setiap gaya arsitektur, perbedaan corak, trend warna, elemen material, permainan garis dan perubahan yang terjadi di setiap era.

 

Foto Museum Bir di Sapporo (kiri atas) dan Masjid Jamik Sintang Kalimantan Barat (kanan atas) menggunakan lensa normal. Di bagian bawah menggunakan lensa lebar sehingga bangunan menjadi miring. (Ari Saputra/detikcom)

 

2. Memilih lensa yang pas

Pemilihan lensa yang sesuai sangat menunjang untuk foto arsitektur. Direkomendsikan menggunakan lensa normal dengan focal lenght 50mm atau lebih. Kalaupun menggunakan lensa zoom seperti 18-55mm, disarankan pada ukuran normal yakni 55mm.

Tujuannya untuk merekam elemen arsitektur yang paling krusial yakni garis dengan akurat. Lensa normal akan menjamin garis bangunan terlihat sesuai aslinya dan terhindar dari distorsi berlebihan. Apakah lurus melengkung, patah-patah atau longitudinal. Bayangkan jika menggunakan lensa lebar atau super wide, maka bangunan akan meleyot (melengkung) dan pesan arsitektur menjadi terdistorsi. Tiang yang harusnya tegak lurus menjadi bengkok dan membuat informasi menjadi kabur.

Kekayaan sejarah dan cerita arsitektur (searah jarum jam) dari Kastil De Blois di Prancis, Gedung Opera di Amsterdam, rumah Joglo di Jogjakarta dan bangunan bergaya modern kontemporer di Singapura. (Ari Saputra/detikcom)

 

3. Memilih white balance dan cahaya alami yang tepat

Sebuah bangunan maupun kumpulan berbagai bangunan yang direkayasa menjadi arsitektur lansekap bukan permainan yang homogen. Ada warna, tekstur dan bentuk yang saling melengkapi dan fungsional. Sejak variasi warna natural yang atraktif seperti batu, tanah dan kayu sampai warna buatan seperti cat dan besi.

Nah, kamera bisa merekam keanekaragaman detil, warna dan material bangunan tersebut dengan akurat melalui pencahayaan dan white balance yang sesuai. Bila perlu disiapkan filter khusus untuk mengantisipasi perbedaan exposure. Sekaligus memperoleh ilusi optik yang maksimal.

Tidak ada salahnya mempelajari atau survei singkat terlebih dahulu untuk mengetahui posisi bangunan terhadap arah cahaya matahari. Apakah menatap matahari terbit ataukah terbenam; menghadap utara atau selatan. Dengan memahami arah cahaya, dapat diprediksi kemungkinan bayangan yang ditimbulkan dan cara mengantisipasinya.

Tindakan selanjutnya yakni tinggal mencocokan white balance yang mampu mewakili warna sesungguhnya. Apakah perlu mode WB direct sunlight, cloudy ataukah manual (kelvin). Fotograferlah yang paling tahu kecocokan warna tersebut.

4.Cari posisi terbaik untuk angle dan angle yang tepat

Langkah ini bisa dikatakan aksi paling bertenaga dan membutuhkan kesabaran. Bisa jadi, tak cukup satu atau dua jam mengamati bangunan sampai menemukan angle yang tepat. Kadang perlu berputar-putar sekedar mencari spot terbaik.

Terlebih jika ukuran bangunan terbilang besar dan berada di kawasan padat (kiri-kanan bangunan mentok jalan atau bangunan lain) yang membuat angle pemotretan menjadi terbatas. Terkadang terfikir menggunakan lensa lebar namun harus diurungkan karena distorsi yang berlebihan.

Kalau sudah demikian, tidak perlu memaksakan jika memang sulit dilakukan kecuali jika di-hire khusus untuk memotret itu. Maka usaha apapun akan dilakukan seperti membawa tangga lipat bahkan menyewa boom lift.

Arsitektur lansekap di Golden Gate Park San Francisco (atas) dan The Jungle Bogor. (Ari Saputra/detikcom)

5. Koreksi di komputer dan simpan dengan baik

Melakukan pembetulan gambar di komputer menjadi ritual wajib. Terlebih untuk foto-foto arsitektur, koreksi minor sampai olah digital yang rumit (jika diperlukan) akan dilakukan sampai menghasilkan foto sesuai dengan kebutuhan. Apakah untuk keperluan dokumentasi, editorial, traveling, stockphoto ataukah untuk kepentingan klien (industri) yang membutuhkan faktor estetika dan keindahan sebuah foto.

Jangan lupa untuk menyimpan dan menjadi pengingat suatu hari kelak. Sebab, di dalam foto arsitektur tersimpan sejarah, tradisi, dinamika masyarakat dan local genius setempat. Dapat untuk diwariskan sebagai sebuah cerita, bisa juga untuk dikenang sebagai penanda zaman yang berharga.

(Ari/rns)