Rabu, 19 Feb 2020 14:49 WIB

Review

Fujifilm X100V, Penerus Tradisi Kamera Fuji yang Ikonik

Enche Tjin - detikInet
Fujifilm X100V Fujifilm X100V, Penerus Tradisi Kamera Fuji yang Ikonik. Foto: Enche Tjin
Jakarta -

Kamera seri Fujifilm X100 dimulai dari tahun 2011 dan sejak saat itu diperbarui secara berkala kurang lebih dua tahun sekali. Saat ini, seri kamera tersebut sudah memasuki generasi ke-5 dan dinamakan Fujifilm X100V.

Secara desain dan spesifikasi, kamera ini. Desainnya menyerupai kamera film rangefinder zaman dulu, dengan lensa fix 23mm f/2 ekuivalen dengan 35mm di format full frame. X100V ini dalam barisan kamera Fuji, termasuk kategori kamera compact premium. Artinya, ukurannya relatif kecil dan ringan tapi tidak bisa berganti lensa.

X100V dibandingkan pendahulunya banyak peningkatannya, antara lain lensanya sudah ditingkatkan kualitasnya, sehingga hasilnya lebih tajam terutama saat menggunakan bukaan terbesar (f/2) saat motret close-up atau jarak dekat.

Bahan kameranya sekarang menggunakan alumunium alloy yang memberikan kesan kokoh dan mewah. Kamera ini juga sudah weathersealed, artinya tahan air dan debu, tapi harus menggunakan adaptor dan filter protector. Peningkatan lainnya yaitu layarnya sekarang sudah bisa di-tilt ke atas dan ke bawah sehingga memudahkan fotografer mengambil foto di sudut yang sulit.

Fujifilm X100V, Penerus Tradisi Kamera Fuji yang Ikonik Foto: Enche Tjin

Didukung dengan prosesor terkini, X100V memiliki berbagai film simulation, termasuk yang terbaru Classic Negative, Eterna dan Acros. Sistem autofokusnya saat ini juga sudah lebih cepat, mendukung face dan eye detection.

Pengalaman memakai Fujifilm X100V

Setelah menggunakan Fuji X100 V selama beberapa hari, saya cukup enjoy memakainya untuk street photography. Kamera ini unik, tidak seperti kamera lain. Jadi sebelum membeli, tentu perlu mempertimbangkan beberapa hal, misalnya kamera ini tidak bisa ganti lensa dan jarak fokal lensanya ekuivalen 35mm.

Jarak fokal ini tidak lebar, jadi untuk foto pemandangan yang lebar atau arsitektur tidak begitu cocok. 35mm ini cocok untuk memotret aktivitas manusia dari jarak yang cukup aman, sekitar 1,5-2,5 meter.

Soal ukuran dan berat, meskipun jauh lebih kecil dan ringan daripada Fuji X-PRO 3 + lensa 23mm f/2, saya rasa kamera ini relatif besar dibandingkan dengan kamera compact lainnya. Yang pasti, X100 tidak bisa kecil karena punya jendela bidik hybrid (optik dan elektronik), juga punya built-in flash.

Terus terang, saya hampir tidak pernah menggunakan jendela bidik karena ukurannya relatif kecil, dan saya merasa layar LCD sudah cukup detail, apalagi sekarang bisa ditekuk ke atas dan ke bawah.

Ketiadaan tombol empat arah yang diganti dengan joystick dan operasi layar sentuh tentunya bisa jadi polemik di antara Fuji X shooter. Sebagian mungkin senang, tapi mungkin juga ada yang merasa kehilangan. Karena perasaan 'tactile' saat menekan tombol berbeda dengan layar sentuh atau menggunakan joystick.

Soal sistem autofokus meski sudah ada peningkatan, saya merasakan juga masih ada sedikit jeda/lag dalam mengunci fokus baik subjek bergerak maupun diam dibandingkan dengan kamera-kamera kekinian. Mungkin bukan masalah di sistem autofokus tapi lebih ke motor lensanya.

Terlepas dari keluhan saya soal pilihan desain Fuji, kualitas gambar yang dihasilkan menurut saya sangat baik di kelas APS-C. Mungkin salah satu yang terbaik di kelasnya, baik di ISO rendah maupun tinggi (6400), gambar masih terlihat baik dan tajam dan warnanya masih bagus. Tapi jika dibandingkan dengan kamera bersensor full frame generasi yang sama, kamera full frame menghasilkan detail yang lebih baik.

Saya juga menyukai film simulation baru dari Fuji yaitu Classic Negative. Hasil fotonya menyerupai hasil kamera film di masa lalu. Cirinya, bagian yang terang misalnya warna kulit, langit, atau tembok putih menjadi sedikit kekuningan seperti sepia, dan bagian yang gelap (black & shadow) tidak benar-benar gelap tapi jadi seperti dark gray (abu-abu tua). Film simulation ini cocok untuk foto-foto di tempat-tempat kuno seperti kawasan kota tua atau pasar tradisional.

Satu fitur penting khas X100 lainnya yang perlu saya bahas yaitu flash sync speed-nya yang mencapai 1/1000 detik di f/2, 1/2000 di f/4-16 dan 1/4000 di f/8-16. Flash sync yang tergolong sangat cepat ini berkat desain leaf shutter dan dengan ditambah fitur Built-in ND filter 4 stop, kita bisa berkreasi dengan flash/strobist kondisi yang sangat terang tanpa masalah. Catatan bahwa ND filternya hanya untuk fotografi saja, tidak berlaku saat merekam video.

Berikut ini adalah beberapa contoh foto menggunakan Fujifilm X100V.

Fujifilm X100V, Penerus Tradisi Kamera Fuji yang Ikonik ISO 1000, f/2.8, 1/250, Classic Negative. Foto: Enche Tjin
Fujifilm X100V, Penerus Tradisi Kamera Fuji yang Ikonik ISO 800, f4, 1/250, Classic Negative. Foto: Enche Tjin

Fujifilm X100V, Penerus Tradisi Kamera Fuji yang Ikonik ISO 1250, f/2.8, 1/250, Classic Negative (sedikit di crop). Foto: Enche Tjin

Fujifilm X100V, Penerus Tradisi Kamera Fuji yang Ikonik ISO 640, f/4, 1/250 Classic Negative. Foto: Enche Tjin

Fujifilm X100V, Penerus Tradisi Kamera Fuji yang Ikonik ISO 800, f/2.8, 1/250, Classic Negative. Foto: Enche Tjin

Fujifilm X100V, Penerus Tradisi Kamera Fuji yang Ikonik ISO 400, f/2.8, 1/250, Classic Negative. Foto: Enche Tjin

Fujifilm X100V, Penerus Tradisi Kamera Fuji yang Ikonik ISO 250, f/8, 1/250, Astia. Foto: Enche Tjin
Fujifilm X100V, Penerus Tradisi Kamera Fuji yang Ikonik ISO 250, f/8, 1/250, Astia. Foto: Enche Tjin
Fujifilm X100V, Penerus Tradisi Kamera Fuji yang Ikonik ISO 1250, f/4, 1/250, Acros. Foto: Enche Tjin
Fujifilm X100V, Penerus Tradisi Kamera Fuji yang Ikonik ISO 320, f/6.5, 1/250, Acros. Foto: Enche Tjin

Kesimpulan

Fuji X100V meneruskan tradisi seri kamera Fuji yang ikonik, yang selalu diminati oleh penghobi fotografi baik street, travel sampai photojournalism. Yang saya sayangkan adalah tidak ada stabilizer di kamera ini. Tapi pada praktiknya, kamera ini menyenangkan untuk digunakan dan mampu menghasilkan kualitas gambar yang bagus dan menarik.

Spesifikasi Fujifilm X100V

  • 26MP X-Trans APS-C sensor
  • Lensa 23mm f/2 (ekuivalen 35mm)
  • Shutter: 1/4000-900 detik (Mechanical), 1/32000-900 detik (Electronic)
  • ISO 80-51200
  • Hybrid Phase & Contrast detect autofocus
  • Kecepatan foto berturut-turut: sampai dengan 10 foto per detik (mechanical), 20 foto perdetik (electronic)
  • Kualitas video: 4K/30p, Full HD 120p
  • Jendela bidik elektronik: 3,67 juta titik, magnifikasi 0,5x, cakupan 100%
  • Jendela bidik optik: magnifikasi 0,52x, cakupan 95%
  • Layar LCD: 1,6 juta titik, 3 inch, layar sentuh
  • Built-in flash & hot shoe
  • Built-in mic input port
  • 1 SD card slot
  • Dimensi: 128 x 74,8 x 53,3 mm
  • Berat: 478 gram.
(rns/rns)