Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Tips Fotografi
3 Cara Temukan Warna-warna Indah nan Menggoda
Tips Fotografi

3 Cara Temukan Warna-warna Indah nan Menggoda


Ari Saputra - detikInet

Pemandangan Jungfraujoch, Swiss saat musim dingin. (Ari Saputra/Detikcom)
Jakarta -

Perancang fashion tidak sekedar berfikir untuk membuat baju yang indah dan menarik. Ia akan menyelami bagaimana menghasilkan itu. Kerja keras mereka lakukan untuk menentukan pola, garis, warna, tren sampai bahan material untuk memastikan sukses tidaknya suatu desain.

Fotografer, sedikit banyak akan seirama dengan metode para desainer tersebut. Perbedaanya, mereka bertutur soal keindahan lewat adibusana, sementara fotografer lewat ide-ide visual.

Nah, salah satu yang membuat foto terasa menyenangkan yakni kehadiran warna atraktif. Ia bisa tampil sendiri atau beramai-ramai. Bisa dijumpai saat parade budaya atau dalam cangkir kopi di sebuah coffeeshop yang sepi. Dapat direkayasa dalam sebuah pemotretan yang terkonsep, dapat pula muncul sekonyong-konyong saat naik mobil atau berjalan kaki.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Persoalannya, bagaimana supaya fotografer bisa fokus untuk menemukan komposisi warna yang menarik di depan mata itu?

Pertama, gunakan metode logika deduktif-induktif. Logika detuktif merupakan cara melihat hal-hal besar terlebih dahulu kemudian mengerucut pada hal-hal kecil yang tidak bisa diabaikan. Sebaliknya, logika induktif ini berfikir dari hal kecil ke arah global dan menyeluruh.

 

 Mug San Francisco di tempat biasa (kiri) dan setelah mengganti background foto. (Ari Saputra/Detikcom)

 

Saat fotografer berada di suatu lingkungan, cari pola umum dan dominasi warna tertentu di tempat tersebut. Lalu temukan warna-warna khusus yang mencolok, menarik, unik, khas dan berbeda dari pola umum di sekelilingnya. Gunakan 'noktah' tersebut untuk mengontrol pesan kepada khalayak. Sekaligus manfaatkan kekhususan sebagai cara untuk mencari dan mencuri perhatian dalam foto yang dijepret.

Dalam contoh foto pertama (Salju di Jungfraujoch), semua berfikir landscape salju berupa hamparan putih yang monoton. Jika dipotret apa adanya, akan terasa datar dan kurang enerjik. Sampai akhirnya terdapat tong sampah berwarna oranye yang benar-benar berbeda dari sekelilingnya. Terdapat garis biru kecil di samping tong, menjadi figuran apik bagi elemen utama.

Sebaliknya, pada logika induktif, bila menemukan warna mencolok yang menarik namun sekelilingnya kurang mendukung, dapat mencari spot lain untuk menemukan sisi kontras yang apik. Bisa juga dengan menggeser angle sehingga memperoleh komposisi yang pas atau mencari background lain.

Seperti pada contoh mug putih beraksen merah 'San Francisco' yang terlihat menarik namun terlihat biasa saja pada foto pertama. Untuk mengakalinya, cukup dengan menggeser mug sampai menemukan background atau kondisi umum di sekelilingnya yang kontras. Alhasil, mug putih-merah menjadi menyala dan lebih berbicara.

Kedua, gunakan metode dua sisi yang berlawanan: hitam-putih, salah-benar, baik-buruk, kiri-kanan. Dengan menggunakan logika ekstrim ini, menemukan warna-warna yang saling beradu, kontras dan tajam menjadi lebih cepat dan efektif. Bisa ditampilkan berlawanan, bisa dihadirkan beramai-ramai dan saling menabrakan warna satu dengan yang lain.

Misalkan sedang memotret di pantai dengan dominasi warna langit dan laut yang membiru. Maka tinggal mencari warna primer lain yang bertolak belakang seperti merah atau kuning. Bisa menunggu orang lewat atau mengganti kostum model dengan warna yang kontras.

 

 

Warna-warna primer yang kontras dan menyala di Pantai Ujung Genteng, Sukabumi. (Ari Saputra/Detikcom)

Ketiga, gunakan warna tidak hanya sebagai pemanis atau tempelan semata. Gunakan sebagai inti dari pesan yang ada dalam foto tersebut. Jika cara pertama dan kedua memposisikan warna sebagai decoratif, maka trik ketiga ini menjadikan warna sebagai fokus cerita yang utuh. Warna menjadi simbol, pesan dan karakter tertentu.

Dengan membawa misi tersebut sejak awal, fotografer bisa fokus untuk mengkonsep sebuah foto. Eksekusi pemotretan pun menjadi lebih terarah dengan membingkai subjek sesuai ide yang ingin disampaikan lewat permainan warna.

Misalkan ingin menonjolkan karakter dinamis, harapan, keberanian, pengambil resiko, fotografer bisa menonjolkan warna merah. Begitupula dengan warna-warna lain yang mewakili pesan tertentu, bisa dikejar hingga foto mampu mewakili apa yang diinginkan.

Setelah menemukan warna-warna yang menarik, tinggal dibingkai dalam komposisi yang serasi. Dapat dipadupadankan dengan garis, pola tertentu, momen, cahaya, atau elemen lain.

Gunakan taste, selera dan takaran yang tepat hingga menghasilkan foto yang tidak hanya sebatas image yang indah melainkan mempunyai kekuatan sebagai sebuah pernyataan fotografi. Semacam statement yang mewakili emosi, perasaan dan cara berfikir atas apapun yang ingin disampaikan fotografer.

(Ari/rns)







Hide Ads