Meski berjaya di segmen DSLR dan kamera saku, namun Canon harus mengakui ketertinggalanya untuk urusan mirrorless. Beberapa merek lain menyalip Canon di mirorrless seperti Fujifilm dan Sony dengan pertumbuhan pasar yang menggembirakan.
Hal itu diakui oleh Marketing Manager Image Communications Product PT Datascrip Angelie Ivone usai peluncuran PowerShot G5 X dan G9X di Bandung, Senin (15/12) malam. Datascrip merupakan distributor tunggal Canon di Indonesia.
"Kalau dibandingkan dengan brand lain kita memang agak tertinggal" kata Ivone.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mirrorless itu pengguna DSLR yg maunya lebih ringkas, lebih kecil lebih ringan. Tapi dia sudah punya deretan lensa banyak, dia pakainya Canon M," imbuh Ivone.
"Kalau G5 X (kamera saku Rp 8,9juta) menyasar ke pengguna yang dia sudah biasa pakai kamera poket ingin naik kelas yang profesional. Tapi tidak tertutup kemungkinan yang profesional ke seri G," terangnya.
Akan tetapi asumsi itu sedikit meleset dengan pertumbuhan mirrorless yang cukup kencang. Keutamaan mirrorless yang bisa gonta-ganti lensa seperti kamera profesional membuat segmen entry level kepincut. Sekaligus mendorong prosumer dan profesional untuk mencoba mirrorless karena bodi lebih ringkas namun tidak perlu kehilangan lensa berkualitas yang tajam.
Menjawab tantangan itu, Canon bersiap melakukan rebranding untuk mengejar ketertinggalan. Yaitu dengan rebranding EOS M pada Januari mendatang lewat seri EOS M10.
"Kita mau merecover, merebranding (mirrorless Canon). Mudah mudahan di bulan Januari nanti yang EOS M10," tukas Ivone percaya diri.
Sanggupkah M10 mengangkat pamor Canon di level terhormat jajaran kamera mirrorless? "Tunggu tanggal mainnya," pungkas Ivone.
(Ari/fyk)