Fofografer Kawakan pun Gugup Saat Motret Supermoon

Fofografer Kawakan pun Gugup Saat Motret Supermoon

- detikInet
Rabu, 20 Agu 2014 09:47 WIB
Darrin Zammit Lupi (Ist.)
Jakarta -

Jam terbang tampaknya tidak cukup bagi Darrin Zammit Lupi untuk meredam rasa gugup. Yakni saat ia hendak memotret supermoon beberapa waktu lalu di Malta, negara kepulauan di selatan Italia.

Penyebabnya bukan masalah kemampuan memotret melainkan karena penghitungan koordinat dan waktu yang kemungkinan meleset.

"Saat waktunya semakin dekat, saya merasa gugup. Bagaimana jika aplikasi yang saya gunakan tidak benar dan perhitungannya kacau? (Untuk mengusir rasa gugup) saya bercanda kalau waktunya supermoon, saya bisa berubah menjadi manusia serigala," kelakar Darrin Zammit Lupi seperti dilansir Reuters sambil menyebut namanya 'Lupi' yang berarti serigala dalam bahasa Italia.

Aplikasi yang dimaksud Darrin Zammit yakni penghitungan kedudukan bulan, matahari dan bumi di iPhone.

Dengan aplikasi tersebut, Darrin Zammit dapat mencari posisi dan waktu yang tepat untuk urusan supermoon. Juga titik koordinat (lokasi) yang baik untuk memotret supermoon pada ukuran bulan paling besar.

"Aku menghabiskan waktu yang lama meneliti lokasi dan spot yang tepat untuk mendapatkan gambaran yang dramatis. Akhirnya saya memilih Katedral ikonik di Mdina, ibukota kuno Malta," kata Darrin.



"Aplikasi di iPhone membantu saya mencari kapan posisi bulan akan muncul di antara menara gereja, juga membantu waktu, kapan dan dimana posisi terbaik memotret," imbuh fotografer yang sempat meliput konflik di Libya, Kosovo dan perpecahan di Yugoslavia awal 90-an tersebut.

Setelah yakin tidak ada masalah, Darrin Zammit menyambar kamera dan lensa tele 400 mm. Plus tele converter 1.4 sehingga lensanya setara dengan lensa 560 mm. Tentu dengan ditopang tripod yang kokoh supaya gambar tetap stabil. Sayang, Darrin Zammit tak memberitahu berapa waktu yang ia gunakan untuk menyelesaikan pekerjaannya.

"Ketika kulihat posisi bulan terlalu tinggi, saya memasukkan lagi perlengkapan," kata Darrin tanpa merinci maksud ungkapan 'terlalu tinggi'.

Saat hendak pulang, ia memperoleh momen yang cukup menarik. Yakni pesta kembang api di langit Malta. Awalnya, Darrin Zammit mengabaikan karena ia fikir kembang api dapat terjadi kapan saja. Tetapi pesona bulan di belakang kembang api merubah pikirannya.

"Saat di sebuah lembah, saya melihat kembang api. Saya pikir itu hal biasa. Tetapi kemudian saya berteriak, bulan... !!," ungkapnya dengan rasa sangat senang.

Alhasil, ia menghentikan mobil dan mengeluarkan kameranya. Ia lalu membuat perpaduan bulan dengan kembang api di langit Malta. Baginya, momen tersebut mengingatkan pada film-film di televisi yang bertema luar angkasa.

"Seperti di televisi. Tentang ledakan bintang dan planet-planet, supernova, bulan menembus awan debu kosmik antarplanet," kata Darrin Zammit yang meraih gelar master (MA) dari sebuah universitas di London berkat dedikasinya untuk foto jurnalis.



(Ari/ash)