Salah satu pendiri Google, Sergey Brin, sempat pensiun tapi kini kembali aktif. Salah satu orang terkaya dunia itu mengatakan bahwa mundur dari pekerjaan sehari-hari tidak lagi masuk akal seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), yang mendorongnya untuk bekerja lagi.
Baru-baru ini saat berbicara di Universitas Stanford, Brin merasa dirinya mulai kehilangan arah dan tidak tajam lagi. Perasaan itu membawanya kembali ke pengembangan AI di Alphabet, perusahaan induk Google.
Pria berusia 52 tahun itu mengatakan ia pensiun sekitar sebulan sebelum pandemi COVID melanda, dengan rencana duduk santai di kafe dan belajar fisika. Ketika rutinitas menghilang, ia mengaku merasa gelisah tanpa adanya penyaluran teknis dan merasa tidak terstimulasi secara mental.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat Alphabet secara bertahap mengizinkan sejumlah kecil karyawan kembali ke kantor, ia mulai datang lebih sering. Kembalinya Brin ke kantor mengarah pada keterlibatan yang lebih dalam pada pekerjaan internal AI, termasuk model AI Gemini Google, yang menurutnya sangat memuaskan. Ia pun mengatakan bahwa tetap pensiun akan menjadi kesalahan besar.
Brin juga memberikan penilaian mengenai arah perjalanan AI Google. Ia mengatakan perusahaan kurang berinvestasi setelah menerbitkan makalah penelitian Transformer pada tahun 2017, yang kemudian menjadi fondasi bagi banyak model AI
Kehati-hatian internal Google memperlambat perilisan luas karena kekhawatiran bahwa chatbot bisa bicara hal-hal bodoh. Saat Google menahan diri, pesaing bergerak lebih cepat. Brin mengatakan OpenAI mengambil peluang dan melesat.
Meski begitu, ia mengatakan Google diuntungkan oleh investasi jangka panjang dalam penelitian neura -network chip yang dibuat khusus, dan pusat data berskala besar. Brin menyebutkan sangat sedikit perusahaan yang beroperasi di seluruh lapisan teknologi AI pada skala tersebut. Google pun kini kembali terdepan di bidang AI.
Saat ditanya bagaimana mahasiswa harus mempersiapkan karier yang dipengaruhi oleh AI, Brin memperingatkan agar tidak meninggalkan bidang teknis. Ia mengatakan bahwa memilih disiplin ilmu lain hanya karena AI bisa menulis kode adalah kesalahan. "Saya takkan beralih ke sastra hanya karena Anda pikir AI jago coding," ujarnya.
Kini terlibat erat dengan pengembangan model AI, Brin menyebut laju kemajuan teknologi ini membuatnya tetap bersemangat. "Jika Anda melewatkan berita tentang AI selama sebulan, Anda sudah sangat tertinggal," cetusnya yang dikutip detikINET dari Yahoo News.
(fyk/fay)