Menjadi seorang pekerja sosial krisis berarti harus menangani kasus-kasus berat seperti kekerasan dan tunawisma di bawah sistem yang kekurangan dana. Beban kerja yang luar biasa ini memicu kelelahan fisik dan trauma sekunder karena setiap hari mereka harus menyerap cerita penderitaan orang lain. Foto: BoredPanda
Profesi asisten rumah tangga di Arab Saudi sering kali menjebak pekerja migran dalam isolasi di rumah majikan dengan jadwal kerja yang tidak menentu. Selain upah yang rendah, mereka menghadapi risiko penahanan paspor serta eksploitasi hak dasar yang membuat mereka sangat sulit untuk melarikan diri. Foto: BoredPanda
Para buruh tani di Meksiko harus berjuang memanen hasil bumi di tengah panas terik sambil terpapar pestisida dan mesin yang berbahaya. Stres mereka makin bertambah karena ketidakpastian upah akibat perubahan iklim serta kondisi tempat tinggal sementara yang sangat buruk dan tidak higienis. Foto: BoredPanda
Bekerja sebagai buruh pabrik garmen di Bangladesh menuntut seseorang untuk menyelesaikan beban kerja yang sangat cepat dan jam kerja panjang dalam kondisi ruangan yang panas. Stres mereka dipicu oleh kuota produksi yang ketat, struktur bangunan yang tidak aman, hingga tekanan verbal dan ketidakpastian upah yang seringkali memicu protes terkait pelanggaran hak asasi manusia. Foto: BoredPanda
Para pekerja konstruksi di kawasan kumuh Brasil membangun dan memperbaiki rumah di lahan yang tidak stabil dengan alat seadanya tanpa jaminan keselamatan formal. Selain risiko fisik seperti terjatuh atau tersengat listrik, mereka juga harus menghadapi potensi kekerasan dari geng lokal yang menguasai wilayah tersebut. Foto: BoredPanda
Seorang perawat di kamp pengungsi Suriah harus merawat ribuan orang yang mengalami malnutrisi dan trauma dengan sumber daya yang sangat terbatas. Kondisi kamp yang sesak dan kekurangan pasokan medis membuat mereka bekerja tanpa henti tanpa ada waktu untuk istirahat ataupun memiliki kehidupan pribadi. Foto: BoredPanda