Anak Desa yang Kini Berduit Rp 106 Triliun dan Mau Nyapres

FotoINET

Anak Desa yang Kini Berduit Rp 106 Triliun dan Mau Nyapres

Istimewa - detikInet
Rabu, 17 Apr 2019 18:50 WIB

Jakarta - Terry Gou yang berencana maju nyapres di negaranya Taiwan, adalah salah satu sosok paling powerful di jagat teknologi. Ia berasal dari keluarga sederhana.

Terry Gou adalah pemilik Foxconn yang merupakan manufaktur elektronik terbesar di dunia. Seperti diketahui, Apple mempercayakan perakitan iPhone dan gadgetnya yang lain kepada Foxconn. Tak heran berkat sukses Foxconn, Terry termasuk orang terkaya di dunia, harta terakhirnya di kisaran USD 7,6 miliar.Foto: Reuters

Bersama Masayoshi Son dan Jack Ma. Orang tuanya berasal dari desa Gewan, propinsi Shanxi, China. Ayahnya adalah tentara China yang terlibat dalam perang melawan Jepang pada tahun 1931 sampai 1945. Sesudah masa perang, sang ayah jadi polisi. Tapi kemudian terjadi pergolakan kekuasaan di China. Sang ayah dan istrinya pun mengungsi ke Taiwan pada tahun 1949. Di sana, mereka menetap. Tahun 1950, Terry lahir dengan nama Gou Tai-ming.Foto: Getty Images

Terry adalah anak sulung, dua adiknya laki-laki. Berhasil tamat kuliah, Terry mendapat pekerjaan pertama sebagai karyawan pabrik. Ia kemudian memutuskan menikah pada usia 24 tahun dengan Serena Lin, yang berasal dari keluarga cukup berada. Foto: Getty Images

Beruntunglah Terry Gou. Ia menikah dengan wanita Taiwan bernama Serena Lin, yang keluarganya lumayan makmur. Inilah awal kesuksesannya. Pada tahun 1974, Terry ingin mencoba peruntungan di bidang bisnis. Ia pun meminjam uang pada mertuanya senilai USD 7.500, jumlah yang cukup besar kala itu. Dengan modal itulah, lahirlah perusahaan Hon Hai, yang nantinya menjadi induk pabrik Foxconn.Foto: Reuters

Kantor pertama Hon Hai berlokasi di pinggiran Taipei, di wilayah yang dinamakan Tucheng. Di sinilah ia merintis Foxconn, benar-benar dari bawah. Klien pertamanya adalah Admiral TV yang membuat televisi hitam putih. Menyadari pentingnya bahasa Inggris, dia serius belajar hingga akhirnya menguasainya. Dia kerap bepergian ke Amerika Serikat untuk bertemu dengan calon klien. Kerja kerasnya pun membuahkan hasil. Foto: Internet

Pada tahun 1980, pabriknya mulai dipercaya mensuplai konektor untuk konsol game Atari. Atari waktu itu adalah nama besar di industri game, sehingga pesanan konektor ke Hon Hai cukup banyak. Tahun 1991, Hon Hai Precision didaftarkannya di bursa saham Taiwan Stock Exchange untuk membiayai ekspansi. Terry fokus mengembangkan pabrik di China yang dianggapnya akan segera menjadi pusat manufaktur dunia. Foto: Getty Images

Foxconn semakin besar. Pada tahun 1996, Michael Dell berkunjung ke China dan Terry mendekatinya dengan intensif. Akhirnya, Dell setuju menandatangani kontrak dengan Foxconn. Semakin banyak perusahaan tertarik menjadi mitra manufaktur Foxconn, termasuk Apple yang akhirnya menjadi salah satu klien terbesar mereka. Foto: Reuters

Meski lahir di Taiwan, Terry tidak melupakan asal-usul orang tuanya, di desa Gewan. Saat sudah kaya, dia menyumbang banyak uang untuk membangun sekolah, peternakan, bahkan mendirikan pabrik Foxconn yang lokasinya berdekatan dengan desa itu, dengan jumlah pekerja 20 ribu orang. Foto: Reuters

Saking kaya raya, ia pernah membeli rumah layaknya istana senilai 21 juta poundsterling di Taipei pada tahun 2010, di kawasan termewah Taiwan. Ia membeli pula ruang parkir yang luas untuk menampung banyak kendaraan mewah. Selain itu, Terry tercatat punya sebuah kastil mewah di Republik Ceko senilai USD 30 juta. Juga pesawat jet pribadi Gulftsream G550 yang digunakannya ke mana-mana. Tentu saja masih banyak harta lain yang dimilikinya.Foto: Reuters

Bersama presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foxconn berinvestasi di Amerika Serikat dengan membangun pabrik di Wisconsin. Foto: Andy Manis/Getty Images

Meski tinggal menikmati hidup, Gou tergerak untuk nyapres di pemilu Taiwan tahun 2020 yang menurutnya sangat menentukan. "Jadi aku bertanya pada diriku sepanjang malam. Aku perlu bertanya pada diriku apa yang dapat kulakukan. Apa yang bisa kulakukan untuk anak muda? 20 tahun ke depan akan menentukan nasib mereka," kata Guo sambil menahan air mata. Foto: Reuters

Guo mengungkap pula keinginannya untuk lengser dalam beberapa bulan ke depan untuk memberi kesempatan pada eksekutif muda.Foxconn kemudian menjelaskan bahwa Gou akan tetap menjadi chairman perusahaan itu. Namun dia tidak akan begitu aktif dalam operasional sehari-hari. Foto: Reuters

(/)