Selasa, 24 Jun 2008 12:50 WIB

Limbah Elektronik Tebar Racun di Negara Berkembang

- detikInet
Jakarta - Revolusi teknologi mengubah dunia dengan beragam produksi perangkat canggih. Namun salah satu dampak yang sukar ditangani adalah sampah elektronik. Menurut para ilmuwan lingkungan, selain pemanasan global, masalah sampah elektronik adalah yang paling mengancam planet bumi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan, sekitar 20 sampai 50 juta ton sampah elektronik dihasilkan per tahunnya. Parahnya, 70 persen dari limbah itu dibuang di negara-negara miskin dan berkembang.

Adapun menurut studi lembaga lingkungan Greenpeace, pada tahun 2010 akan terjadi peningkatan ratusan persen jumlah sampah elektronik di negara berkembang. Ekspor limbah mudah terjadi karena lemahnya regulasi di negara -negara itu, semisal di China, Filipina atau Vietnam.

Efeknya pun amat buruk. Para pekerja yang ingin mendapat untung dari sisa-sisa elektronik terekspos racun dari tumpukan sampah. Demikian pula dengan alam sekitar jadi tercemar mengingat banyak bahan beracun dipakai dalam pembuatan perangkat elektronik.

Kritik pun berdatangan bahwa negara maju semacam Amerika Serikat, Uni Eropa atau Kanada tidak berbuat apa-apa meski masalah terus terjadi. Mereka terus saja membuang sampah elektronik ke negara lain.

"Amerika dan Kanada tetap mengekspor sampah komputer ke negara berkembang karena dalam hukum di sana, komputer bekas dianggap bukan limbah," ungkap Ibrahim Shafii, Technical Program Officer untuk Secretariat of the Basel Convention, perjanjian lingkungan mengenai limbah elektronik.

Solusinya, regulasi sampah elektronik dunia harus diperketat. Kesadaran masyarakat juga perlu ditingkatkan soal bahaya sampah elektronik. Demikian seperti dikutip detikINET dari Govtech, Selasa (24/6/2008).

Ngobrol seru soal teknologi? Yuk, gabung di detikINET Forum!

(fyk/wsh)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed