Bila dibandingkan dengan negara lain, Indonesia bisa dianggap ketinggalan, misalnya saja dari Vietnam. Pasalnya, negara yang tadinya jauh tertinggal dibanding Indonesia, justru lebih dipercaya vendor besar seperti Intel untuk membangun pabriknya. Tak tanggung-tanggung, US$ 3 miliar digelontorkan.
Tentu saja hal itu membuat iri banyak pihak, khususnya S.D. Darmono. Sebagai Presiden Director Jababeka, ia ingin sekali vendor-vendor besar masuk ke Indonesia dan membangun pabrik ICT di kota industri binaannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedatangan dua pembesar ICT dunia ke Tanah Air, Bill Gates dari Microsoft dan Craig Barret dari Intel, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk membuka gerbang ICT dunia masuk ke Indonesia. Namun sayangnya, hal itu belum bisa diwujudkan. Kedua orang besar itu tadi datang bukan dengan misi bangun pabrik.
Penulis sempat berbincang dengan perwakilan Intel di Indonesia. Katanya, bangun pabrik bukan solusi buat Indonesia, melainkan menumbuhkan kemampuan SDM lokal. Paling banter, Intel dengan Indonesia cuma bisa kerjasama pusat riset.
Oleh Hewlett-Packard juga, Indonesia juga belum dimasukan ke dalam daftar singgah bangun pabrik vendor itu. Kali ini, faktor distribusi dijadikan alasan untuk tidak bangun pabrik.
Kalau cuma pusat riset, Indonesia melalui Jababeka sudah menjalin kerjasama dengan pemerintah Korea Selatan. Menkominfo Mohammad Nuh berharap akan ada kerjasama sejenis dari negara lainnya.
"Mestinya kalau pemerintah pintar, sehabis Korea, undang juga dong negara lain, seperti Jepang, Jerman, Prancis. Contohnya saja Singapura, mereka undang tiap negara berbeda. Tiap negara dipanas-panasi untuk memberikan sumbangan teknologi ke sebuah politeknik, akhirnya banyak politeknik negara. Setelah semuanya sudah nyumbang gratis. Jadilah Nangyang University," kata Dharmono.
Sejatinya, Jababeka bisa menjadi kunci untuk membuka gerbang ICT dunia masuk ke Indonesia. Dari segi kesiapan infrastruktur, kota yang dihuni 1350 perusahaan industri itu bisa menjadi contoh yang baik sebagai kota cyber berbasis ICT.
Dengan tanah seluas 3000 hektare, Jababeka dikelilingi serat optik galian Indonesia Comnet Plus milik PLN. Secara infrastruktur, teknologi Wimax pun diklaim sudah bisa diselenggarakan di kota itu, tinggal menunggu izin pemerintah.
Pemerintah seharusnya bisa mempromosikan Jababeka dengan menjadikannya zona ekonomi spesial. Dengan kemudahan peraturan dan insentif pajak, serta membuka diri bagi asing, diyakini bisa mendatangkan devisa.
Mungkin saja Jababeka bisa menjadi jawaban untuk menjadi kota industri ICT, mengingat pemerintah juga sudah mulai menggalakan produksi lokal di sektor jaringan telekomunikasi bergerak pita lebar, khususnya Wimax lokal. Ya, siapa tahu!
*) Penulis adalah wartawan detikINET dan dapat dihubungi melalui e-mail rourry[at]detikinet.com. Tulisan ini adalah opini pribadi dan tidak mencerminkan pendapat institusi tempat penulis bekerja.
Mau berdiskusi seputar teknologi informasi? Yuk, gabung di detikINET Forum.
(rou/ash)