Hal ini terjadi di negeri yang masih termasuk tetangga Indonesia, Australia. Museum PowerHouse yang ada di negeri kanguru inilah yang mencetuskan ide memuseuman e-mail.
Bagi penduduk Australia yang berminat, dapat menyumbang e-mail mereka untuk diarsipkan di museum tersebut sehingga tak lekang oleh waktu dan bisa diakses anak cucu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan tetapi, kini sebagian orang telah memakai e-mail sebagai pengganti surat biasa. Connel menilai, penyimpanan e-mail tidak panjang umur seperti halnya kertas surat. Pasalnya, email sering dihapus begitu saja oleh pemiliknya.
Karena itulah, seperti dikutip detikINET dari smh.com, Rabu (2/4/2008), langkah untuk memuseumkan e-mail dipandang perlu. Lewat inisiatif memuseumkan email ini, penduduk bisa mendaftarkan e-mail pilihan mereka di situs www.emailaustralia.com.au untuk diarsipkan.
E-mail terbaik dari bermacam kategori nantinya akan ditampilkan di situs dan diabadikan di Museum PowerHouse sebagai arsip untuk masa depan. Sebelumnya, ide memuseuman e-mail semacam ini juga pernah dicetuskan di Inggris.
(fyk/ash)