Setahun yang lalu, para dokter menanamkan 64 elektroda dan chip komputer ke dalam otak dua monyet rhesus. Kemudian merekam sinyal elektrik dari 200 sel otak binatang tersebut saat tengah berjalan di treadmill. Sinyal itu ditransmisikan melalui internet kepada para ahli di Computational Brain Project of the Japan Science and Technology Agency. Informasi tersebut disalurkan ke robot humanoid yang ternyata merespon aktivitas otak monyet.
"Normalnya butuh waktu 250 millisecon bagi otak untuk menciptakan sinyal dan bagi kaki untuk bergerak," ujar Nicolelis. "Dalam rentang waktu yang sama, kami dapat mengirimkan sinyal ke Jepang dan mendapatkan video yang menunjukkan respon robot terhadap sinyal tersebut. Jika hal ini dapat dilakukan pada pasien lumpuh, maka pasien akan mampu menggerakkan kakinya lagi," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap kali dia (monyet-red) mengubah kecepatan atau pola gerakannya saat berjalan di treadmil, dia memperhatikan perubahan gerakan robot tersebut. Monyet tersebut sangat senang," tutur Nicolelis, seperti dikutip detikINET dari Computerworld, Kamis (17/1/2008).
Percobaan pada manusia akan dimulai tak lama lagi. Nantinya elektroda dan chip komputer akan ditanamkan ke otak pasien. Elektroda akan mengirimkan informasi ke chip dan akan menyebarkan sinyal otak ke sebuah alat yang ditautkan pada tubuh pasien. Alat tersebut berupa serat karbon exoskeleton yang akan membungkus kaki, dan nantinya akan terhubung dengan aktivitas otak manusia.
Pada bulan Desember, seorang ahli telah sukses menghubungkan otak ngengat ke robot yang disebut-sebut akan menjadi cikal bakal komputer hybrid.Β (dwn/dwn)