Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Jangan Pernah Ceritakan Rahasia Gelap ke Chatbot AI

Jangan Pernah Ceritakan Rahasia Gelap ke Chatbot AI


Fino Yurio Kristo - detikInet

28 January 2025, Brandenburg, Sieversdorf: The app from Chinese AI start-up DeepSeek (r) and the app from ChatGPT can be seen on a smartphone. The Chinese start-up DeepSeek has triggered a stock market quake with the prospect of cheaper development of artificial intelligence. Photo: Patrick Pleul/dpa (Photo by Patrick Pleul/picture alliance via Getty Images)
Aplikasi AI. Foto: Patrick Pleul/dpa/picture alliance via Getty Images
Jakarta -

Berbincang dengan chatbot AI bisa terasa seperti curhat. Bahkan sejak maraknya chatbot AI yang mudah diakses, jutaan orang tanpa ragu menceritakan rahasia terdalam dan paling kelam mereka ke model AI tersebut.

Menurut survei terbaru perusahaan browser DuckDuckGo, sepertiga dari total pengguna AI mengaku pernah membagikan rahasia ke chatbot yang bahkan enggan mereka ceritakan kepada orang-orang terpercaya di kehidupan nyata.

Padahal dengan menceritakan rahasia-rahasia tersebut kepada chatbot AI, Anda secara tak sadar mungkin telah membagikan informasi intim pada perusahaan teknologi, kepolisian, pengacara, dan bahkan atasan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Ini sejalan dengan laporan terbaru The Washington Post, yang mencatat dalam dua tahun terakhir terdapat belasan kasus pengadilan di Amerika Serikat di mana transkrip percakapan chatbot dijadikan bukti dalam catatan publik.

Sekalipun transkrip obrolan tidak jatuh ke penegak hukum, data tersebut bisa dengan mudah diperoleh atasan, asalkan pengguna menggunakan layanan AI yang difasilitasi oleh perusahaan.

Dan tentu saja, tidak ada yang tahu pasti berapa lama perusahaan AI seperti OpenAI dan Anthropic menyimpan detail percakapan pengguna. Washington Post mencatat berbagai skenario di mana perusahaan-perusahaan tersebut mungkin diwajibkan oleh hukum untuk menahan riwayat obrolan pengguna.

Selain itu, ada pula risiko fatal berupa kebocoran data dari perusahaan AI. Juli lalu, terungkap bahwa sekumpulan besar riwayat obrolan dengan chatbot Claude milik Anthropic terekspos secara bebas ke internet dan ini bukan kejadian pertama.

"Kecuali Anda menggunakan layanan yang dengan fitur obrolan sementara atau versi incognito dan Anda juga mengaksesnya melalui browser yang tidak melacak aktivitas, Anda tidak bisa yakin obrolan itu akan sepenuhnya privat," ungkap Jen King, peneliti privasi Stanford Institute for Human-Centered Artificial Intelligence.

Dan meskipun para pengguna merasa sangat nyaman membeberkan cerita-cerita tersebut kepada bot favorit mereka, hanya sedikit yang menyadari banyaknya celah yang membuat riwayat obrolan mereka dapat tersimpan abadi. Berdasarkan jajak pendapat DuckDuckGo:

  • 53% pengguna rutin menyatakan tidak tahu bahwa chatbot AI dilatih menggunakan data yang diperoleh dari percakapan mereka.
  • 75% tidak menyadari bahwa obrolan dengan large language models (LLM) dapat dengan mudah disita oleh kepolisian melalui panggilan pengadilan.

Jadi dikutip detikINET dari Futurism, jika Anda ragu apakah sebaiknya curhat ke ChatGPT tentang masalah pribadi yang intim, ingatlah rekam jejak di internet sangat mungkin bersifat abadi.



(fyk/afr)




Hide Ads