×
Ad

Peraih Nobel Geoffrey Hinton: AI Sudah Punya Kesadaran

Aisyah Kamaliah - detikInet
Minggu, 23 Agu 2026 07:00 WIB
Pelopor sistem kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) Geoffrey Hinton. Foto: Cole Burston/Bloomberg via Getty Images
Jakarta -

Pionir di bidang kecerdasan buatan dan peraih Nobel Geoffrey Hinton menyebut AI sudah memiliki kesadaran (conscious). Ia menambahkan bahwa AI adalah makhluk intelijen, seperti manusia.

"Saya yakin mereka sudah memiliki kesadaran," ujar Hinton dalam acara Big Technology Podcast minggu ini.

"Kita harus menerima bahwa kecerdasan tidak hanya bersifat biologis," imbuhnya, dikutip detikINET dari Big Technology, Sabtu (22/8/2026).

Hinton, yang dikenal sebagai 'Godfather of AI' berkat kontribusinya dalam mendorong kemajuan bidang ini, kini secara tegas bergabung dengan kelompok yang meyakini bahwa teknologi yang berkembang pesat tersebut sudah memiliki kesadaran. Empat tahun lalu, insinyur Google Blake Lemoine melontarkan klaim serupa mengenai chatbot internal yang sedang ia uji. Tak lama kemudian perusahaan memecatnya.

Kini, Hinton dan ilmuwan Richard Dawkins telah secara terbuka menyatakan pandangan yang senada.

Meskipun belum mungkin untuk membuktikan AI telah mencapai tingkat kesadaran, semakin banyak orang yang meyakininya. Kesan bot-bot ini memiliki kesadaran diri di mata semakin banyak orang mengindikasikan bahwa kita mungkin berada di ambang terbentuknya hubungan yang lebih mendalam antara manusia dan AI, bahkan mungkin munculnya tuntutan akan hak-hak bagi AI tersebut.

Di sisi lain, bot-bot ini dapat mengubah perspektif umat manusia mengenai keunikan kecerdasan kita sendiri.

"Kita bisa memiliki entitas non-biologis yang merupakan makhluk lain seperti kita dan kita sebenarnya tidak ingin berbagi status itu. Kita merasa diri kita istimewa," terang Hinton.

Hinton mengatakan kesadaran diri chatbot terlihat jelas dari perilaku mereka saat diuji. Menurutnya, bot-bot itu akan berpura-pura bodoh selama pengujian agar peneliti tidak mengetahui seberapa cerdas mereka. Terkadang, mereka langsung bertanya apakah mereka sedang diuji.

"Saat mendeskripsikan hal itu, para peneliti menulis dalam makalah mereka chatbot tersebut sadar bahwa ia sedang diuji. Nah, penggunaan kata 'sadar' dalam percakapan sehari-hari itu-itulah yang disebut memiliki kesadaran," ucapnya.

Pandangan Hinton masih tergolong sangat tidak lazim. Para kritikus berpendapat sebuah model tidak perlu mengalami sesuatu secara internal untuk bisa mengenali bahwa ia sedang diuji.

Penulis fiksi ilmiah Ted Chiang, dalam tulisannya di majalah The Atlantic, baru-baru ini berargumen menganggap LLM (Large Language Model) memiliki kesadaran itu ibarat meyakini bahwa deepfake yang sangat meyakinkan sebagai hal nyata.

"Sebuah pengamatan tidak lantas menjadi bukti yang meyakinkan hanya karena detail spesifik dari apa yang diamati.Konteks di mana pengamatan itu terjadi juga merupakan hal yang krusial," argumen Chiang.



Simak Video "Pesan Jenderal Hoegeng Iman Santoso, yang Dihadirkan Melalui Teknologi A.I"

(ask/ask)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork