Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Viral Riset Bodong oleh WNI di Forum Dunia, Netizen Gusar

Viral Riset Bodong oleh WNI di Forum Dunia, Netizen Gusar


Tim - detikInet

Friends group having addicted fun using mobile smart phone - Close up of people hands sharing content on social media network with smartphone - Technology concept with millenials online with cellphone
Foto: Getty Images/iStockphoto/ViewApart
Jakarta -

Viral di media sosial ada WNI yang diduga melakukan pemalsuan riset dalam rangka mengikuti konferensi ilmiah di beberapa negara. Kabar ini membuat para netizen merasa gusar karena jika benar, berarti telah mencoreng nama Indonesia.

Diduga, pemalsuan riset tersebut antara lain dilakukan dengan bantuan kecerdasan buatan atau AI. "Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia. Hal ini terungkap di konferensi ilmiah ISPPD 2026, sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli Pneumonia di seluruh dunia yang tahun ini diadakan di Kopenhagen, Denmark," tulis sebuah akun di Threads.

Pemalsuan tersebut diduga merupakan modus agar para pelaku bisa mendapatkan grant untuk penelitian ilmiahnya berupa perjalanan ke luar negeri. Terdapat berbagai kejanggalan dalam riset mereka. Misalnya tempat penelitian yang jauh seperti Pegunungan Andes atau Ethiopia. Kemudian, identitas peneliti berubah-ubah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menanggapi hal ini, netizen pun merasa gusar sekaligus juga heran. "Bagaimana mereka bisa mendapatkan dana travel grant dan lolos dari pengawasan bahwa riset mereka adalah palsu?" tulis sebuah akun di Threads.

"Sedih, peneliti kita yang berkibar di kancah internasional sudah semakin meningkat. Jangan sampe karena kasus ini jadi catatan merah dan jadi gak dipercaya," tulis yang lain. "Ngomong depan ribuan ilmuwan internasional padahal penelitiannya palsu. Kacau banget malu-maluin akademisi dan scientist Indonesia," sebut sebuah komentar.

ADVERTISEMENT

"Kalo kata ak mah, riset dengan hasil negatif 1000 kali lipat lebih baik dibanding riset palsu," sebut sebuah komentar di Twitter yang menyoroti pentingnya kejujuran.

Namun ada juga yang meyakini kasus ini tidak akan berdampak pada peneliti lain di Indonesia. "Masalah data dan tulisan palsu di konferensi Denmark itu masalah oknum. Gak mungkin satu negara kena," demikian pendapat seorang warganet.

Ada juga yang berpendapat bahwa netizen jangan terlalu emosional terlebih dahulu sebelum semua fakta mengenai peristiwa ini dapat terungkap dengan jelas.




(fyk/fyk)
TAGS






Hide Ads