Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Haji Tak Sekadar Ibadah, Ada AI dan Sistem Canggih Jaga Jutaan Jemaah

Haji Tak Sekadar Ibadah, Ada AI dan Sistem Canggih Jaga Jutaan Jemaah


Adi Fida Rahman - detikInet

Jemaah haji Indonesia berangkat ke Arafah, Senin (25/5/2026).
Haji Tak Sekadar Ibadah, Ada AI dan Sistem Canggih Jaga Jutaan Jemaah. Foto: Media Center Haji 2026
Daftar Isi
Jakarta -

Ibadah Haji bukan hanya pertemuan spiritual terbesar umat Islam di dunia. Di balik jutaan jemaah yang bergerak serempak di tengah panas ekstrem Arab Saudi, terdapat sistem teknologi raksasa yang bekerja tanpa henti untuk mencegah kekacauan.

Bayangkan lebih dari 1,6 juta orang bergerak dalam waktu hampir bersamaan menuju lokasi-lokasi suci seperti Mina, Arafah, dan Muzdalifah. Dalam kondisi seperti ini, keterlambatan ambulans beberapa menit, jaringan seluler yang lumpuh, atau bottleneck kerumunan bisa berubah menjadi bencana besar.

Karena itu, Arab Saudi kini semakin mengandalkan kecerdasan buatan (AI), dashboard operasional real-time, drone, telemedicine, hingga sistem crowd monitoring untuk menjaga kelancaran Haji.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

AI Pantau Kerumunan Jemaah Secara Real-Time

Salah satu pusat teknologi terpenting di musim Haji adalah Smart Makkah Operations Center yang dioperasikan Saudi Data and Artificial Intelligence Authority (SDAIA). Di pusat kendali ini, sistem AI bernama Baseer digunakan untuk memantau kepadatan kerumunan, pola pergerakan jemaah, hingga potensi kemacetan secara real-time.

Teknologi tersebut memungkinkan petugas mendeteksi titik berbahaya lebih cepat sebelum situasi berkembang menjadi insiden serius. Sistem ini juga membantu koordinasi transportasi dan pengaturan arus jutaan jemaah yang bergerak hampir bersamaan.

Sebelum musim Haji dimulai, pemerintah Saudi bahkan melakukan simulasi besar-besaran untuk menguji kekuatan sistem mereka. Salah satu drill operasional berlangsung selama 30 jam dan melibatkan lebih dari 40 lembaga pemerintah, 20 ribu peserta, 8 ribu bus, serta simulasi pergerakan sekitar 1,4 juta jemaah.

Haji Dimulai dari Aplikasi

Bagi banyak jemaah, pengalaman Haji kini sudah dimulai sejak sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Melalui platform Nusuk, jemaah dapat mengurus izin, jadwal ibadah, navigasi lokasi, hingga berbagai layanan pendukung secara digital. Sistem ini membantu pemerintah Saudi mengatur distribusi jemaah sekaligus mengurangi penumpukan di area tertentu.

Digitalisasi ini makin dipercepat setelah pandemi Covid-19 yang mendorong penggunaan layanan contactless dan izin elektronik.

Teknologi HajiPara petugas memantau pergerakan massa, rute transportasi, dan data waktu nyata dari pusat kendali yang mengawasi operasi Haji di seluruh Mekah dan tempat-tempat suci. Foto: Via Wired

Sistem Medis Super Sibuk Saat Haji

Sektor kesehatan menjadi salah satu area paling krusial selama Haji. Cuaca panas ekstrem, kelelahan, dan kepadatan membuat risiko kesehatan meningkat drastis, terutama bagi jemaah lanjut usia.

NUPCO, perusahaan milik Public Investment Fund yang menangani rantai pasok kesehatan Saudi, menjadi salah satu tulang punggung operasional medis Haji.

"Selama Haji, interoperabilitas sangat penting karena pengiriman layanan kesehatan bergantung pada banyak sistem yang bekerja bersama dengan cepat," ujar Chief Operating Officer NUPCO, Fahad AlButhi, kepada WIRED Middle East.

Untuk mengantisipasi lonjakan kasus darurat, Saudi menempatkan gudang medis mobile di dekat area padat seperti Mina dan Arafah. Mereka mengelola sekitar 1.930 jenis obat, alat kesehatan, dan suplai medis.

Dashboard operasional live digunakan untuk memprediksi kekurangan stok secara cepat. Dalam kondisi tertentu, drone dan kendaraan respons cepat juga dipakai ketika jalur darat mengalami kemacetan.

Telemedicine hingga Resep Digital

Arab Saudi juga mengembangkan layanan kesehatan digital selama Haji.

Seha Virtual Hospital menghubungkan ambulans, klinik sementara, dan rumah sakit dengan dokter spesialis melalui telemedicine dan sistem diagnostik berbasis AI.

Jemaah bahkan dapat melakukan konsultasi dan menerima resep digital lewat aplikasi Sehhaty.

Investasi teknologi kesehatan ini meningkat tajam setelah tragedi gelombang panas Haji 2024 yang menewaskan lebih dari 1.300 orang. Sejak saat itu, monitoring real-time dan kesiapan medis menjadi prioritas utama pemerintah Saudi.

Teknologi HajiPara pejabat Saudi menggunakan AI untuk membantu mengelola jutaan jemaah selama ibadah Haji, menganalisis rekaman dari lebih dari 15.000 kamera di seluruh Mekah dan tempat-tempat suci. Foto: Via Wired

Teknologi Tak Bisa Gantikan Manusia

Meski dipenuhi teknologi canggih, operasional Haji tetap sangat bergantung pada koordinasi manusia di lapangan.

"Otomatisasi tidak akan menggantikan elemen manusia," kata AlButhi.

Menurutnya, teknologi hanya membantu memberikan visibilitas dan data lebih cepat. Namun keputusan penting tetap bergantung pada pengalaman dan respons petugas di lapangan.

Hal ini terutama terasa bagi jemaah lansia yang belum terbiasa dengan smartphone atau sistem digital. Banyak di antara mereka masih mengandalkan relawan, keluarga, dan petugas sebagai penghubung antara teknologi dan kebutuhan nyata di lapangan.

Haji Jadi Ujian Kota Masa Depan

Haji sering dibandingkan dengan Olimpiade atau festival massal seperti Kumbh Mela di India. Namun skala sinkronisasi Haji jauh lebih kompleks.

Jutaan orang bergerak melalui ritual yang sama dalam waktu singkat, di ruang terbatas, dan di bawah tekanan cuaca ekstrem. Kombinasi inilah yang membuat Haji menjadi stress-test tahunan bagi sistem transportasi, kesehatan, pengelolaan kerumunan, hingga respons darurat.

Dalam banyak hal, Haji kini bukan hanya ibadah terbesar di dunia, tetapi juga eksperimen hidup tentang bagaimana teknologi masa depan digunakan untuk mengatur jutaan manusia secara aman dan efisien.




(afr/afr)








Hide Ads