Ingrid Honkala, mantan ilmuwan NASA, mengklaim akrab dengan kematian setelah diduga henti jantung (mati suri) tiga kali. Setiap kalinya, ia mendapat pencerahan yang sama. "Rasanya seperti memasuki lapisan realitas lebih dalam, yang ada di luar indra fisik kita," klaim Honkala yang saat ini berusia 55 tahun.
Kreator di Bogota, Kolombia, yang meraih gelar PhD Ilmu Kelautan dan pernah bekerja untuk NASA maupun Angkatan Laut AS ini, mengklaim perjumpaan pertamanya dengan kematian terjadi ketika berusia dua tahun.
Honkala jatuh ke tangki air sedingin es di rumahnya, tanpa disadari asisten rumah tangga yang mendengarkan radio. Syukurlah, ibunya tiba tepat waktu dan memberikan pertolongan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama persinggahan singkat di 'alam lain', Honkala mengaku mengalami sesuatu. Setelah kaget akibat air dingin dan kepanikan karena berjuang untuk bernapas, mantan ilmuwan itu mengatakan ketakutannya memudar dan berganti ketenangan mendalam.
"Kepanikan menghilang digantikan rasa damai serta keheningan luar biasa. Rasanya seolah kesadaran saya terpisah dari tubuh," kenang Honkala, yang merinci perjalanannya ke alam baka dalam buku "Dying To See The Light".
Saat itulah hubungan dengan dunia fisik tergantikan kondisi kesadaran kuat, sehingga ia dapat melihat tubuh kecilnya mengambang di air. "Saat itu, saya tidak lagi merasa seperti anak kecil di sebuah tubuh, melainkan seperti kesadaran murni, medan kesadaran dan cahaya. Tak ada rasa akan waktu, tak ada ketakutan, dan tidak ada pikiran," klaimnya.
Pengalaman keluar dari tubuh ini memungkinkan Honkala memperingatkan ibunya. "Saya ingat ketika mengenalinya dan berpikir itu ibu saya. Saat itu, sepertinya ada bentuk komunikasi di antara kami, bukan melalui lisan melainkan melalui kesadaran," klaimnya yang dikutip detikINET dari NY Post.
Menurutnya, sinyal marabahaya metafisik ini mendorong ibunya berbalik arah dan pulang, di mana sang ibu menemukan putrinya tak sadarkan diri di tangki. Meskipun cerita ini terdengar tidak masuk akal, Ingrid mengatakan bahwa ketika ia menceritakan penglihatannya, kisahnya sama persis dengan ingatan sang ibu.
Sejak itu, Honkala tidak lagi takut kematian. "Pengalaman itu menunjukkan kepada saya bahwa apa yang kita sebut alam baka sama sekali tidak terasa seperti tempat yang jauh," cetusnya.
Honkala mengalami dua kali lagi mati suri, satu setelah kecelakaan motor pada usia 25 tahun, dan yang lainnya pada usia 52 tahun ketika tekanan darahnya turun drastis saat operasi. Ia mengklaim mencapai keadaan damai yang sama setiap kalinya. Nah, pencerahan spiritual inilah yang justru menginspirasinya menekuni sains.
"Seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari sains dan spiritualitas tidak selalu harus bertentangan, keduanya mungkin sekadar mengeksplorasi misteri yang sama dari sudut pandang berbeda," sebutnya.
Tentu karena tak ilmiah, banyak orang menganggap pencerahan mati suri Honkala sebagai halusinasi atau mimpi. Orang lain yang juga pernah mati suri melaporkan melihat berbagai hal, mulai dari cahaya terang hingga kerabat, dan wujud Yesus.
Peneliti mengklaim penglihatan-penglihatan semacam ini dapat berfungsi sebagai kelegaan bagi mereka yang akan meninggal dan bahwa mimpi yang menenangkan tentang orang terkasih yang tiada adalah mekanisme pertahanan diri. Meski begitu, Honkala bersikeras apa yang dilihatnya bukan khayalan dari pikiran yang sekarat.
(fyk/fyk)