Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Mengenal Project Maven, Sistem AI di Balik Gempuran Masif AS ke Iran

Mengenal Project Maven, Sistem AI di Balik Gempuran Masif AS ke Iran


Anggoro Suryo - detikInet

Enam jet tempur yang mengudara di langit kelabu.
Foto: UX Gun/Unsplash
Jakarta -

Dalam 24 jam pertama serangannya ke Iran, militer Amerika Serikat dilaporkan berhasil menggempur lebih dari 1,000 target. Skala serangan ini tercatat hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan serangan militer yang mengejutkan di Irak lebih dari dua dekade silam.

Kecepatan gempuran militer berskala masif tersebut ternyata tidak lepas dari campur tangan sistem kecerdasan buatan (AI) yang mampu mempercepat proses penargetan. Aktor utama di balik teknologi mematikan tersebut adalah Maven Smart System.

Jurnalis Katrina Manson dalam buku terbarunya yang berjudul Project Maven: A Marine Colonel, His Team, and the Dawn of AI Warfare, mengupas tuntas pengembangan sistem ini. Project Maven pertama kali digagas pada tahun 2017 sebagai eksperimen untuk menerapkan teknologi visi komputer (computer vision) pada rekaman drone.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Google awalnya ditunjuk sebagai kontraktor militer utama untuk proyek ini. Namun, masifnya protes dari para karyawan membuat raksasa mesin pencari tersebut akhirnya memilih mundur.

Proyek ini kemudian didorong maju oleh seorang perwira intelijen Marinir bernama Drew Cukor. Pada akhirnya, sistem ini dibangun oleh perusahaan analisis data Palantir, dengan menyedot dukungan teknologi dari nama-nama besar seperti Microsoft, Amazon, hingga Anthropic. Saat ini, sistem Maven digunakan di seluruh cabang angkatan bersenjata AS dan bahkan baru-baru ini dibeli oleh NATO.

Akselerasi Kill Chain

Sistem Maven bekerja dengan cara menyintesis citra satelit, radar, media sosial, dan puluhan sumber data lainnya untuk mengidentifikasi sekaligus mengunci target entitas di medan perang. Teknologi ini dirancang secara khusus untuk mempercepat apa yang diistilahkan oleh militer sebagai kill chain (rantai proses penargetan hingga penghancuran).

Maven menggabungkan sistem visi komputer dengan manajemen alur kerja yang mampu menemukan target, memasangkannya dengan senjata yang tepat, dan memungkinkan operator militer mengeksekusi siklus penargetan hanya dalam beberapa klik.

Sebuah proses analisis target yang dulunya memakan waktu berjam-jam, kini bisa diselesaikan hanya dalam hitungan detik. Seorang pejabat militer mengatakan kepada Manson bahwa teknologi ini memungkinkan AS untuk melompat dari kemampuan menembak di bawah 100 target sehari menjadi 1.000 target. Bahkan, dengan tambahan teknologi large language model (LLM), kapasitasnya bisa melonjak hingga 5.000 target per hari.

Kesalahan Fatal Berujung Tragedi

Kecepatan ekstrem ini nyatanya harus dibayar mahal. Salah satu dari seribu target yang dihancurkan pada hari pertama perang Iran adalah sebuah sekolah perempuan. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 150 orang, yang sebagian besar adalah anak-anak.

Fasilitas tersebut memang dulunya merupakan bagian dari pangkalan angkatan laut Iran. Namun, secara online statusnya sudah terdaftar sebagai sekolah, dan area taman bermain anak-anak bahkan terlihat jelas pada citra satelit.

Meski banyak pihak yang menyalahkan fenomena halusinasi chatbot AI atas insiden ini, sejarawan teknologi Kevin Baker di The Guardian justru menyoroti hal lain. Menurutnya, akselerasi kecepatan yang ditawarkan oleh Maven adalah akar masalah yang sebenarnya.

"Bukan chatbot yang membunuh anak-anak itu. Manusia gagal memperbarui basis data, dan manusia lain membangun sebuah sistem yang bekerja terlalu cepat sehingga membuat kegagalan (data) tersebut menjadi mematikan," tulis Baker.

Kecepatan laju peperangan di masa depan diprediksi akan makin tidak terkendali. Dalam laporannya, Manson mengungkap bahwa program militer AS kini tengah mengembangkan senjata yang sepenuhnya otonom--termasuk drone jet ski bermuatan bahan peledak--yang kelak mampu melacak dan menghancurkan targetnya sendiri tanpa perlu persetujuan manusia, demikian dikutip detikINET dari berbagai sumber.




(asj/asj)





Hide Ads