Kelompok peretas yang didukung pemerintah Iran, Handala, mengklaim telah berhasil membobol akun email pribadi Direktur FBI Kash Patel. Pengumuman itu dibuat pada Jumat pekan ini melalui situs resmi kelompok tersebut, disertai sejumlah foto Patel yang tampak lebih muda, serta tautan menuju kumpulan berkas yang diklaim berasal dari akun Gmail pribadinya.
FBI membenarkan adanya insiden tersebut. Juru bicara lembaga ini menyampaikan pernyataan kepada TechCrunch bahwa pihaknya mengetahui adanya aktor jahat yang menargetkan informasi email pribadi Direktur Patel, dan telah mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memitigasi potensi risiko yang terkait dengan aktivitas itu.
"Informasi yang dipermasalahkan bersifat historis dan tidak menyangkut informasi pemerintah," ujar juru bicara FBI tersebut.
Dalam laporannya, TechCrunch mengaku telah melakukan verifikasi independen dan mengonfirmasi bahwa setidaknya sebagian email yang dibocorkan Handala memang berasal dari akun Gmail Patel. Verifikasi dilakukan dengan memeriksa message headers - informasi yang disematkan pengirim dalam email dan berfungsi membantu sistem pengiriman mengonfirmasi keaslian pesan tersebut.
Menggunakan alat khusus, investigator memeriksa sejumlah email dalam kumpulan berkas yang bocor itu. Hasilnya, email-email yang dikirim Patel dari akun Gmail-nya memiliki tanda tangan kriptografis yang sesuai dengan isi pesan, mengindikasikan kuat bahwa email yang diperiksa adalah asli.
Dalam beberapa kasus, Patel tampak mengirim email dari alamat email Departemen Kehakiman (DOJ) lamanya pada tahun 2014 ke akun Gmail pribadinya. Email dari akun DOJ tersebut juga diverifikasi dan dinyatakan autentik. Berkas-berkas dalam kebocoran itu tampaknya mencakup periode hingga sekitar tahun 2019.
Reuters yang pertama kali melaporkan kebocoran ini menyebut seorang pejabat Departemen Kehakiman mengonfirmasi terjadinya pelanggaran. Departemen Kehakiman sendiri belum merespons permintaan komentar dari berbagai media.
Simak Video "Video: Soal e-SIM, Komdigi Bakal Kerja Sama BSSN untuk Cegah Data Bocor"
(afr/afr)