Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Tak Cuma Iron Dome, Kelemahan Fatal Pertahanan Udara Israel Terkuak

Tak Cuma Iron Dome, Kelemahan Fatal Pertahanan Udara Israel Terkuak


Fino Yurio Kristo - detikInet

Davids Sling
David's Sling. Foto: IDF
Jakarta -

Sejauh ini, terjadi sekitar dua lusin insiden di mana warga Israel tewas atau luka parah akibat ancaman udara Iran atau Hizbullah. Perhatian khusus diberikan pada serangan terpisah di kota Dimona dan Arad. Di kedua kasus, dilaporkan kegagalan terutama terletak pada sistem pertahanan udara David's Sling atau Ketapel Nabi Daud.

Sorotan terhadap David's Sling terkait beberapa kegagalan besar yang menyebabkan banyak warga Israel terluka, bukan sekadar satu peristiwa tunggal. Lantas mengapa David's Sling tetap digunakan?

Seperti diketahui, Israel memakai lapisan sistem pertahanan Iron Dome, David's Sling, dan Arrow. Nah, hanya Arrow yang awalnya dirancang menembak rudal balistik jarak jauh seperti yang ditembakkan Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iron Dome seharusnya menembak jatuh ancaman jarak pendek, seperti roket sederhana dan drone. Sementara David's Sling dirancang melumpuhkan ancaman jarak menengah, seperti roket jarak menengah, rudal jelajah, dan drone yang lebih kompleks.

Semua batasan itu berubah ketika sistem David's Sling berhasil menjatuhkan rudal balistik Iran di Juni 2025. Setelahnya, Israel mengintegrasikan David's Sling ke dalam sistem untuk melumpuhkan ancaman rudal balistik jarak jauh, sebagai opsi tambahan selain Arrow. Terlebih, biaya David's Sling lebih murah.

ADVERTISEMENT

Namun, setelah semua pencapaian masa lalunya, David's Sling mengalami kegagalan berkali-kali akhir pekan lalu. Ran Kochav, mantan Komandan Pertahanan Udara IDF, menilai ada beberapa alasan yang mungkin menjelaskan kegagalan pencegatan tersebut.

Alasan pertama berkaitan bagaimana komandan Israel memutuskan secara real time pencegat mana yang cocok untuk ancaman tertentu. Ini melibatkan pilihan antara sistem seperti Arrow, THAAD, atau Iron Dome guna menghindari tindakan berlebihan, seperti menggunakan rudal mahal untuk roket sederhana.

Nah, keputusan menggunakan David's Sling yang satu tingkat di bawah Arrow untuk mencegat peluru balistik bisa saja berujung kegagalan meski pernah berhasil. Alasan kedua, kerusakan teknis dapat terjadi pada sistem radar pelacak, pada pencegat itu sendiri, atau akibat masalah konektivitas antara berbagai sistem pertahanan.

Alasan ketiga adalah probabilitas. "Ini adalah sistem sangat canggih, tapi bukan sistem yang sempurna," katanya. Dengan kata lain, bahkan ketika semua sesuai rencana, kejadian tak terduga atau nasib buruk bisa menyebabkan kegagalan. Sistem Arrow juga pernah luput saat mencegat rudal Iran karena tingkat keberhasilan tak pernah 100%.

David's Sling mencegat ancaman udara pada ketinggian jauh lebih rendah ketimbang Arrow 3 yang mencegat rudal di luar angkasa. Karena pencegatan terjadi lebih dekat ke tanah, risiko penyebaran serpihan peluru lebih tinggi.

Dikutip detikINET dari Jerusalem Post, Iran juga menggunakan 50 hingga 70 persen munisi tandan (bom klaster) dalam rudalnya. Munisi ini mengandung lusinan sub bom yang menyebar ke area jauh lebih luas.

Lantas mengapa Israel tidak memacu produksi Arrow agar tidak perlu bergantung pada David's Sling? Sebab, memproduksi rudal pencegat baru membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun. Sekalipun Israel mencoba memacu pengembangan lebih banyak pencegat Arrow, produksinya mungkin tidak siap tepat waktu.



(fyk/fay)
TAGS






Hide Ads