×
Ad

Terus Digempur, Rudal dan Drone Iran Masih Siap Tempur

Fino Yurio Kristo - detikInet
Minggu, 22 Mar 2026 22:10 WIB
Serangan rudal Iran. Foto: REUTERS/Raneen Sawafta
Jakarta -

Meskipun terus digempur pasukan Amerika Serikat dan Israel, Iran tetap berjuang keras dan bahwa produksi rudalnya tetap berjalan sesuai rencana.

Jenderal Ali Mohammad Naeini, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran, mengatakan kepada kantor berita pemerintah IRNA bahwa negaranya memproduksi rudal "bahkan dalam kondisi perang, yang mana ini luar biasa, dan tidak ada masalah berarti dalam hal penumpukan stok."

Sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, Iran membalas dengan meluncurkan rudal baik ke Israel maupun ke negara-negara tetangganya. Negara-negara tersebut termasuk Qatar dan Uni Emirat Arab, di mana pangkalan militer AS, situs sipil, dan operasi energi diserang.

Dikutip detikINET dari CNBC, Iran juga menyerang Provinsi Timur Arab Saudi yang menjadi rumah bagi banyak ladang minyak negara tersebut-serta wilayah Kuwait dan Bahrain.

Sebelum perang, Iran dianggap memiliki persenjataan rudal terbesar dan paling beragam di Timur Tengah, mencakup ribuan rudal balistik dan jelajah, dengan jangkauan hingga 2.000 kilometer.

Ukuran pasti dari stok rudalnya sebelum perang tak diketahui, perkiraannya berkisar 2.500 unit menurut militer Israel hingga sekitar 6.000 unit. Alex Plitsas, peneliti di Atlantic Council mengatakan sebelum perang, Iran diperkirakan memiliki sekitar 2.000 hingga 3.000 rudal balistik jarak menengah dan antara 6.000 hingga 8.000 rudal balistik jarak pendek.

Presiden AS Donald Trump mengklaim kapasitas rudal balistik Iran secara fungsional hancur. Namun Jenderal AS Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, mengakui Iran masih mempertahankan beberapa kemampuan rudalnya. Israel juga dilaporkan menggempur pabrik-pabrik rudal dan drone negara tersebut.

AS dan Israel belum memberi kejelasan berapa banyak fasilitas semacam itu, berapa yang diserang, serta bagaimana kerusakannya. William Alberque, peneliti di Pacific Forum menyebut meskipun produksi rudal atas tanah Iran rusak atau hancur, pasti ada yang luput.

Pertanyaan besar adalah seberapa besar kapasitas Iran di fasilitas bawah tanah. Kapasitasnya kemungkinan relatif terbatas untuk rudal berukuran besar, tapi ada cukup ruang untuk memproduksi drone dalam jumlah sangat banyak atau rudal yang lebih kecil dan lebih murah.

"Tentu saja merupakan kepentingan Iran terlihat sekuat mungkin. Jadi ada unsur pamer kekuatan dan melebih-lebihkan di sini. Namun, kapasitasnya bukan berarti nol dan kita sama sekali tidak bisa mengetahuinya dan Iran memang tidak ingin kita mengetahuinya," tambahnya.

Gary Samore, direktur Crown Center for Middle East Studies mengatakan sangat masuk akal jika Iran terus memproduksi drone selama perang, karena dapat dirakit dari komponen sederhana di bawah tanah atau garasi.

Namun ia meragukan apakah Iran masih mampu memproduksi rudal balistik lebih besar dan berjangkauan jauh. Plitsas memperkirakan kapasitas Iran membuat rudal adalah sekitar 300 unit per bulan pada awal perang dan jumlah itu mungkin menyusut saat ini.



Simak Video "Video: 2 Orang di Ramat Gan Israel Tewas Akibat Rudal Iran"

(fyk/fyk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork