Peneliti di Nanyang Technological University mengembangkan kecoak cyborg untuk kebutuhan inspeksi infrastruktur bawah tanah. Teknologi ini sebelumnya digunakan dalam misi pencarian korban bencana, kini diarahkan ke penggunaan yang lebih rutin seperti memeriksa pipa dan terowongan utilitas.
Riset ini dipimpin Hirotaka Sato dari School of Mechanical and Aerospace Engineering. Ia dikenal sebagai pionir dalam pengembangan serangga cyborg, termasuk eksperimen pengendalian jarak jauh pada kumbang yang sempat mencatat rekor dunia.
Dalam pengembangan terbaru, timnya memanfaatkan kecoak jenis Madagascar hissing cockroach yang dimodifikasi dengan modul elektronik kecil. Modul ini mengirimkan sinyal listrik ringan untuk mengarahkan pergerakan serangga secara jarak jauh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kecoak dipilih karena kemampuannya bergerak di ruang sempit yang sulit dijangkau robot konvensional. Dengan kombinasi kontrol elektronik, serangga ini bisa digunakan untuk menjelajahi saluran pipa, sistem limbah, hingga terowongan bawah tanah.
Versi terbaru bahkan dilengkapi gerobak kecil yang membawa kamera, lampu, dan baterai tambahan. Kecoak akan menarik perangkat tersebut sambil merekam kondisi di dalam pipa, termasuk potensi kerusakan atau kebocoran.
Dari sisi teknis, sistem terbaru menggunakan tegangan listrik 25% lebih rendah, sehingga konsumsi daya lebih efisien. Peneliti juga menegaskan bahwa sinyal listrik tersebut tidak menimbulkan rasa sakit pada serangga, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (23/3/2026).
Teknologi ini sebelumnya diuji dalam kondisi ekstrem saat gempa berkekuatan 7,7 magnitudo di Myanmar. Saat itu, sekitar 10 kecoak cyborg dikerahkan untuk mencari korban di reruntuhan, meski tidak menemukan penyintas.
Pengujian tersebut menjadi dasar untuk pengembangan berikutnya. Kini, proses pemasangan modul ke tubuh kecoak juga dipercepat, dari sekitar satu jam menjadi hanya sedikit lebih dari satu menit per unit.
Uji coba lanjutan direncanakan berlangsung di jaringan transportasi Singapura. Fokusnya pada inspeksi rutin infrastruktur yang selama ini sulit diakses manusia maupun robot.
Meski teknologinya berpotensi luas, tim peneliti menegaskan riset ini ditujukan untuk penggunaan sipil. Hal ini berbeda dengan sejumlah pengembangan serupa di negara lain yang mulai diarahkan ke kebutuhan militer dan pengawasan.
(asj/hps)

