Amerika Serikat dilaporkan merelokasi sebagian dari sistem pertahanan rudal canggih Terminal High-Altitude Area Defense (THAAD) miliknya dari Korea Selatan ke Timur Tengah karena perang Iran. Apakah hal ini akan membuat Korsel lebih rentan diserang Korut?
Pemindahan THAAD dari Korea menunjukkan AS kewalahan dalam sistem pertahanan rudal akibat serangan balasan Iran dan meluasnya konflik Timur Tengah. Satu sistem baterai THAAD terdiri dari radar, pusat kendali taktis, enam peluncur, dan 48 rudal pencegat. Masih belum dipastikan berapa bagian dari satu baterai yang telah dipindahkan.
Presiden Lee Jae Myung mengakui ada pemindahan itu dan Seoul menyampaikan kekhawatirannya ke AS. "Kami telah menyatakan penolakan terhadap penarikan aset pertahanan udara tertentu, namun ini juga sebuah kenyataan bahwa posisi kita tak bisa selalu diakomodasi sepenuhnya di tiap situasi," katanya.
Meskipun demikian, ia menambahkan pergeseran tersebut takkan secara signifikan melemahkan daya tangkal terhadap Korut. "Jika Anda bertanya apakah strategi daya tangkal kita terhadap Korea Utara akan sangat terpengaruh, saya bisa pastikan bahwa itu tidak akan terjadi," ujar Lee.
Namun, kekhawatiran meningkat bahwa pertahanan udara Korsel jadi rentan. Dikutip detikINET dari Korea Times, Selasa (17/3/2026) berbeda dengan sistem Patriot yang sebagian dapat digantikan oleh Korsel dengan aset pertahanan udaranya sendiri, THAAD sama sekali tidak memiliki alternatif domestik yang sebanding.
Jika THAAD sungguh direlokasi, maka dapat menciptakan celah pertahanan udara Korsel. Pemerintah Korsel yang didukung Washington, bersikeras THAAD adalah cara terefektif untuk menemukan dan menghancurkan rudal Korut sebelum mengancam Korsel dan 28.500 tentara AS yang ditempatkan di sana. THAAD pun ditempatkan di Korsel sejak 2017.
Simak Video "Menjelajahi Jakarta Tower dan Momen Seru di Seoul, Korea Selatan"
(fyk/fay)