Ukraina menginginkan dana dan teknologi tertentu sebagai imbalan setelah mengirimkan para spesialisnya ke Timur Tengah untuk membantu menembak jatuh drone Iran, dalam peperangan antara Israel-Amerika Serikat melawan Iran. Imbalan itu akan digunakan untuk memperkuat Ukraina melawan Rusia.
Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan tiga tim telah dikirim ke kawasan tersebut untuk melakukan penilaian ahli dan mendemonstrasikan cara kerja pertahanan drone. Hal ini dilakukan seiring negara-negara di Timur Tengah yang terus menjadi target serangan Iran karena menampung pangkalan militer AS.
"Ini bukan tentang terlibat dalam operasi militer. Kami tidak sedang berperang dengan Iran," kata Zelensky yang dikutip detikINET dari Al Jazeera.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal pekan ini, ia mengumumkan tim militer telah dikirim ke Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan sebuah pangkalan militer AS di Yordania. Namun kesepakatan drone jangka panjang lebih lanjut dapat dinegosiasikan dan apa yang akan diperoleh Kyiv sebagai imbalan atas bantuannya tersebut masih harus dirumuskan
"Bagi kami saat ini, baik teknologi maupun pendanaan sama-sama penting," katanya.
Sepanjang empat tahun perang Rusia-Ukraina, Moskow menggunakan drone "kamikaze" (bunuh diri) Shahed-136 buatan Iran. Hal ini memberi Kyiv keahlian dan teknologi untuk menjatuhkan pesawat tak berawak tersebut melalui alat pencegat drone murah, perangkat pengacak sinyal elektronik (jammer), dan persenjataan antipesawat.
Namun Presiden AS Donald Trump mengatakan tak butuh bantuan Ukraina dalam menjatuhkan drone Iran yang menyerang target Amerika. Zelensky mengaku tak tahu mengapa Washington belum menandatangani perjanjian drone dengan Kyiv, padahal sudah didorongnya selama berbulan-bulan."Saya ingin menandatangani kesepakatan senilai sekitar USD 35 miliar hingga 50 miliar," ungkapnya.
Seiring berlanjutnya konflik Rusia-Ukraina tanpa tanda-tanda berakhir, Zelenskyy menyuarakan kekhawatiran bahwa perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah akan berdampak pada pasokan rudal pertahanan udara Kyiv."Kami sangat tak ingin AS mengalihkan perhatiannya dari masalah Ukraina karena Timur Tengah," cetusnya.
Di sisi lain, seiring dengan meningkatnya minat terhadap alat pencegat drone Ukraina akibat perang tersebut, Zelenskyy mengatakan aturan Kyiv untuk pembelian drone harus diperketat. Negara dan perusahaan asing tidak akan bisa lagi melangkahi pemerintah untuk bernegosiasi langsung dengan produsen.
"Sayangnya, perwakilan dari pemerintah atau perusahaan tertentu ingin melangkahi negara Ukraina untuk membeli peralatan spesifik," katanya.
(fyk/fyk)