Bluetooth terdengar seperti istilah teknologi modern yang lahir di ruang rapat Silicon Valley. Namun, asal-usulnya justru menelusuri sejarah Nordik lebih dari seribu tahun lalu, tepatnya ke era raja Viking.
Standar komunikasi nirkabel ini mulai dikembangkan pada pertengahan 1990-an. Saat itu, sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Ericsson, IBM, Toshiba, Nokia, dan Intel bekerja sama menciptakan teknologi radio jarak pendek yang bisa menggantikan kabel proprietary. Dari kolaborasi inilah lahir Bluetooth Special Interest Group (SIG), organisasi yang hingga kini mengelola standar Bluetooth.
Tujuan awalnya cukup sederhana namun ambisius: menghadirkan protokol komunikasi universal berdaya rendah agar berbagai perangkat bisa saling terhubung tanpa kabel, terlepas dari merek dan platform, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Selasa (6/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu tokoh penting di fase awal pengembangan Bluetooth adalah Jim Kardach, insinyur Intel. Ia mengusulkan nama sandi 'Bluetooth' sebagai sebutan sementara selama proyek berjalan.
Seperti banyak codename teknis lainnya, nama ini awalnya tidak dimaksudkan untuk dipakai secara resmi. Namun hingga tahap komersialisasi, tidak ada nama pengganti yang dipilih. Bluetooth pun akhirnya menjadi nama resmi teknologi tersebut.
Nama Bluetooth sendiri diambil dari tokoh sejarah, yakni Harald "Bluetooth" Gormsson, raja Nordik abad ke-10. Harald dikenal sebagai penguasa yang berhasil menyatukan Denmark dan sebagian wilayah Norwegia. Ia memerintah Denmark sekitar tahun 958 hingga 986, serta sempat menjadi raja Norwegia pada periode 970--986.
Kardach melihat kesamaan simbolis antara misi Harald dan teknologi yang tengah dikembangkan. Jika sang raja berhasil menyatukan berbagai suku, Bluetooth diharapkan mampu menyatukan beragam protokol komunikasi dalam satu standar universal.
Asal-usul julukan "Bluetooth" pada Harald sendiri masih menjadi perdebatan. Ada kisah populer yang menyebutkan ia gemar memakan blueberry, meski tidak ada bukti sejarah yang mendukungnya. Teori yang lebih masuk akal menyebutkan Harald memiliki gigi yang gelap atau rusak. Dalam bahasa Nordik Kuno, kata "biru" juga bisa merujuk pada warna gelap atau hitam.
Kini, sebagian besar pengguna nyaris tak pernah memikirkan cerita di balik ikon Bluetooth di ponsel atau laptop mereka. Padahal, teknologi yang awalnya dirancang untuk menggantikan kabel RS-232 ini telah berkembang menjadi fondasi konektivitas global, menghubungkan miliaran perangkat di seluruh dunia.
(asj/fay)