Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Bos ChatGPT Tak Terima AI Dituding Boros Air

Bos ChatGPT Tak Terima AI Dituding Boros Air


Tim - detikInet

CEO of OpenAI Sam Altman speaks to the media as he arrives at The Sun Valley Resort for the Allen and Company Sun Valley Media and Technology Conference in Sun Valley, Idaho, U.S., July 8, 2025.  REUTERS/Brendan McDermid
Foto: REUTERS/Brendan McDermid
Jakarta -

CEO OpenAI, Sam Altman, membela besarnya kebutuhan sumber daya kecerdasan buatan (AI). Ia menyebut kekhawatiran tentang penggunaan air oleh data center sebagai palsu dan membandingkan energi yang digunakan oleh sistem AI dengan manusia.

Altman menyampaikan hal ini di sela KTT India AI Impact, ketika diminta menanggapi kritik terhadap AI, seperti konsumsi energi dan airnya. Sang CEO menyebut klaim yang menyebutkan ChatGPT menggunakan bergalon-galon air per pertanyaan adalah "sama sekali tidak benar, benar-benar gila," dan "tidak berhubungan dengan kenyataan."

Data center memang menggunakan banyak air untuk mendinginkan komponen listrik dan mencegah panas berlebih. Nah dalam perkembangan terkini, beberapa data center yang lebih baru tidak lagi bergantung pada air.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun meski ada peningkatan efisiensi, sebuah laporan dari perusahaan teknologi air Xylem dan Global Water Intelligence memproyeksi air yang diambil untuk pendinginan akan naik lebih dari tiga kali lipat selama 25 tahun ke depan seiring meningkatnya permintaan komputasi.

Sambil menepis ketakutan tentang penggunaan air, Altman menyebut konsumsi energi memang kekhawatiran AI yang wajar. "Bukan per pertanyaan, tapi secara total, karena dunia menggunakan begitu banyak AI dan kita perlu beralih ke energi nuklir atau angin dan surya dengan sangat cepat," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Ketika ditanya mengenai komentar dari Bill Gates yang berpendapat bahwa efisiensi otak manusia membuktikan bahwa AI juga dapat berevolusi jadi lebih hemat energi seiring waktu, Altman membantahnya.

"Salah satu hal yang selalu tidak adil dalam perbandingan ini adalah orang bicara tentang berapa banyak energi yang dibutuhkan untuk melatih model AI. Tapi juga butuh banyak energi untuk melatih manusia. Butuh sekitar 20 tahun kehidupan dan semua makanan yang Anda makan sebelum waktu itu, hingga Anda jadi pintar," cetusnya.

"Perbandingan adil adalah jika Anda mengajukan pertanyaan ke ChatGPT, berapa banyak energi yang dibutuhkan setelah model dilatih untuk menjawab pertanyaan itu, dibanding manusia. Dan mungkin AI sudah menyusul dalam efisiensi energi jika diukur dengan cara itu," tambahnya yang dikutip detikINET dari CNBC.

Proses itu dikenal sebagai inferensi, merujuk pada penggunaan model AI yang telah dilatih untuk menghasilkan output baru. Inferensi AI biasanya jauh lebih hemat daya dibandingkan proses pelatihannya.

Pemerintah dan perusahaan menggelontorkan miliaran dolar ke pusat data baru untuk mendukung kebutuhan komputasi AI. Menurut laporan IMF, konsumsi listrik data center dunia tahun 2023 mencapai tingkat yang sebanding dengan Jerman atau Prancis, tak lama setelah peluncuran ChatGPT milik OpenAI.

Sebagai tanggapan, beberapa pemerintah mempercepat proses persetujuan guna menyediakan pasokan energi baru dan murah. Beberapa komunitas lokal di negara-negara seperti AS juga menolak proyek AI karena kekhawatiran akan membebani jaringan listrik dan menaikkan biaya listrik.




(fyk/fyk)







Hide Ads