Membayangkan Bagaimana Indonesia Tanpa Google dan YouTube

ADVERTISEMENT

Membayangkan Bagaimana Indonesia Tanpa Google dan YouTube

Tim - detikInet
Rabu, 20 Jul 2022 11:35 WIB
A woman holds her smart phone which displays the Google home page, in this picture illustration taken February 24, 2016. A U.S. Jury handed Google a major victory May 26, 2016 in a long-running copyright battle with Oracle Corp over Android software to run most of the worlds smartphones.  REUTERS/Eric Gaillard/Illustration/Files     TPX IMAGES OF THE DAY
Mesin cari Google. Foto: Reuters
Jakarta -

Sejauh ini, Google dan YouTube belum mendaftar aturan PSE (Penyelenggara Sistem Elektronik) Lingkup Privat, padahal 20 Juli 2022 hari ini adalah deadline. Jika tidak juga mendaftar, ada kemungkinan Google diblokir.

Memang Kominfo memastikan mereka yang tak patuh aturan PSE takkan serta merta diblokir karena prosesnya panjang. Selain itu, Google juga sangat berpengaruh di kehidupan digital masyarakat. Tapi mungkin menarik membayangkan bagaimana jadinya Indonesia tanpa Google. Berikut beberapa kemungkinan yang akan terjadi seperti dihimpun detikINET, Rabu (20/7/2022):

Muncul mesin cari karya anak bangsa

Sebenarnya, beberapa negara tidak ada masalah tanpa Google. Sebut saja China, telah lama memblokir Google dan yang populer di sana adalah mesin cari dalam negeri, Baidu. Kemudian di Korea Selatan, Google kalah saing dengan mesin cari lokal, Naver.

Maka andai Google benar-benar diblokir, mungkin akan ada yang menangkap peluang ini dan membuat mesin cari domestik yang andal. Siapa tahu mesin cari domestik ini akan benar-benar diminati.

Pengguna Android kalang kabut

Google adalah pemilik Android. Jika Google diblokir, tentu akan berdampak pada layanan Android, apalagi jika Google kemudian memutuskan cabut dari Indonesia lantaran diberangus.

Tentu yang akan mengalami dampak besar adalah pengguna Android. Skenarionya mungkin sama seperti yang dialami oleh Huawei, Android sebagai OS open source masih bisa digunakan namun tidak ada layanan milik Google berikut aplikasinya.

YouTuber jadi merana

Selain Google, YouTube sebagai anak perusahaannya juga belum mendaftar PSE. Dengan demikian, jika YouTube ikut diblokir, banyak YouTuber yang akan merana karena profesi ini sudah sangat umum sekarang.

YouTube juga merupakan layanan video yang sangat populer di sini dan menghadirkan beragam manfaat. Sejauh ini, mungkin belum ada platform alternatif yang bisa menyamai YouTube.

Pindah ke mesin cari lain

Google begitu dominan sebagai mesin cari di Indonesia. Namun demikian, sebenarnya ada cukup banyak alternatif yang bisa dipakai. Misalnya saja Bing yang dibesut oleh Microsoft.

Ada pula DuckDuckGo sampai Yahoo. Tentu jika Google kena blokir, para netizen akan mencoba layanan tersebut karena peran mesin cari di zaman sekarang sangat penting.

Orang Tak Terpaku Pada Internet

Tanpa Google atau YouTube, mungkin orang akan tidak terlalu terpaku lagi pada internet atau setidaknya mengurangi. Untuk mencari informasi, bisa dengan melalui buku atau bertanya pada orang lain sehingga interaksi sosial malah menjadi lebih baik.

Anak-anak muda pun mungkin akan lebih banyak berpikir karena tidak bisa lagi mengandalkan Google sebagai mesin cari yang mampu melakukan banyak hal. Memang lebih repot, tapi manfaatnya pun tidak sedikit.



Simak Video "Kominfo Tegaskan Aturan PSE Lingkup Privat Bukan untuk Batasi Konten"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fyk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT