Elon Musk Ragukan Jumlah Akun Palsu, CEO Twitter Bilang Begini

Elon Musk Ragukan Jumlah Akun Palsu, CEO Twitter Bilang Begini

Fino Yurio Kristo - detikInet
Selasa, 17 Mei 2022 11:49 WIB
Parag Agrawal, CEO Twitter
CEO Twitter Parag Agrawal. Foto: The Verge
Jakarta -

Elon Musk menunda pembelian Twitter karena masalah akun palsu yang diduganya lebih dari perhitungan Twitter. CEO Twitter, Parag Agrawal, menanggapi keraguan Elon Musk itu. Apa katanya?

"Deal Twitter untuk sementara ditangguhkan, (ada) detail tertunda untuk perhitungan bahwa akun spam/palsu memang mewakili kurang dari 5% pengguna," kata Elon dalam tweetnya. Dengan kata lain, nakhoda SpaceX dan Tesla itu tidak begitu saja percaya dengan estimasi Twitter.

Seperti dikutip detikINET dari CNBC, Selasa (17/5/2022) Parag menyatakan bahwa Twitter terus-menerus memerangi akun palsu. Tim Twitter selalu melakukan update pada sistem dan peraturannya untuk menghapus spam sebanyak mungkin, dan teknologinya mampu mengenali akun yang asli.

Twitter menyebut bahwa akun spam atau palsu hanya mencakup kurang dari 5% dari seluruh total user. "Angka itu berdasarkan review oleh orang terhadap ribuan akun, dengan sampel random dan konsisten dari waktu ke waktu," papar dia.

"Ada banyak detail yang sangat penting soal ini. Kami telah membagikan kisi-kisi proses tersebut pada Elon seminggu lalu dan siap terus berbicara dengannya dan juga pada kalian," tambah Parag.

Elon sendiri baru saja mengungkap rencana terhadap akun palsu di Twitter. "Untuk mencari tahu, tim saya akan melakukan sampel acak 100 follower Twitter. Saya mengundang orang lain melakukan proses yang sama dan lihat apa yang mereka temukan," kata Elon.

Elon Musk agaknya risau dengan masalah akun palsu ini. Memang bukan rahasia lagi kalau Twitter jadi tempat aneka akun anonim melakukan twitwar terutama terkait politik seperti Pilpres Indonesia dan Pilpres AS.

Namun selain masalah akun palsu, banyak pihak juga melihat Elon Musk akan membuat Twitter semakin politis dengan wacana mengembalikan akun Donald Trump yang ditutup Twitter karena provokasi politik dalam kerusuhan Gedung Capitol AS. Apalagi, Elon Musk mengaku posisi politiknya cenderung pro Partai Republik.



Simak Video "Elon Musk Tunda Kesepakatan Beli Twitter, Ini Alasannya"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)