Facebook Bantah Jadi Sarang Penyebaran Hoax Vaksin COVID-19

Facebook Bantah Jadi Sarang Penyebaran Hoax Vaksin COVID-19

Panji Saputro - detikInet
Minggu, 18 Jul 2021 16:10 WIB
Facebook Akan Akhiri Pemblokiran Situs Berita Australia Setelah Mencapai Kesepakatan
Facebook Tolak Kritik Sebagai Sarang Penyebaran Hoax Vaksin Covid-19 (Foto: ABC Australia)
Jakarta -

Facebook menolak dikambinghitamkan sebagai media sosial penyebar hoax vaksin COVID-19. Pernyataan ini sekaligus membantah tudingan Presiden AS Joe Biden yang dialamatkan kepada Facebook.

Dalam sebuah postingan blog, Guy Rosen selaku Vice President of Integrity Facebook, menjelaskan bahwa ketika kasus COVID-19 meningkat di AS, tapi pemerintahan lebih memilih untuk menyalahkan segelintir perusahaan media sosial. Sedangkan, media sosial buatan Mark Zuckerberg tersebut memainkan peran penting dalam masyarakat terkait pandemi.

"Faktanya, penerimaan vaksin di kalangan pengguna Facebook di Amerika Serikat telah meningkat. Ini sangat berbeda, tidak seperti yang disampaikan pemerintahan dalam beberapa hari terakhir," tulis Rosen, seperti dikutip detikINET, Minggu (18/7/2021).

Facebook menampik tuduhan Joe Biden dengan sejumlah fakta, di mana mereka telah berkolaborasi dengan Carnegie Mellon University and University of Maryland sejak April 2020. Melakukan survei dengan total lebih dari 70 juta responden dan lebih dari 170.000 tanggapan setiap hari dari 200 negara dan wilayah.

Hasilnya pun sangat baik, di mana rasa ragu penduduk negeri Paman Sam yang pengguna Facebook, mengalami penurunan sebesar 50% terhadap vaksin. Sejak bulan Januari, penerimaan vaksin pengguna Facebook di AS, meningkat dari 70% menjadi 85%.

Sebelumnya dikabarkan, bahwa pemerintah AS mengkritisi media sosial seperti Facebook dan sejenisnya, menyebarkan hoax vaksin COVID-19. Menurut Presiden Joe Biden, platform tersebut membunuh orang-orang.

Facebook dan platform lainnya, dinilai tidak bertindak agresif untuk melawan informasi yang salah tentang vaksin Corona.

"Mereka telah merancang fitur seperti tombol 'Suka', yang mengarahkan kita terhadap konten emosional, bukan konten akurat," kata Vivek Murthy, Surgeon General Amerika Serikat.

"Algoritma mereka cenderung memberi kita lebih banyak konten yang kita klik, menarik kita ke dalamnya dan lebih dalam, hingga masuk sumur informasi yang salah," tambahnya.

Simak video 'Biden Bicara Disinformasi Covid-19 di Medsos: Mereka Membunuh Orang!':

[Gambas:Video 20detik]



(hps/agt)