Pakar Komunikasi: Netizen Jenuh Berita Negatif Soal COVID-19

Pakar Komunikasi: Netizen Jenuh Berita Negatif Soal COVID-19

Arbi Anugrah - detikInet
Rabu, 14 Jul 2021 20:45 WIB
Poster
Ilustrasi medsos (Foto: Edi Wahyono/detikcom)
Purwokerto -

Netizen di Banyumas ramai-ramai meminta stop postingan berita COVID-19. Pakar komunikasi menilai sudah terjadi kejenuhan informasi.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Dr Edi Santoso M.Si mengatakan jika masyarakat sudah mulai memasuki pada kondisi jenuh. Dimana pemberitaan yang terkait COVID-19 sudah sampai taraf overload, sehingga masyarakat sulit membedakan mana berita yang akurat dan tidak.

"Ada overload informasi dimana masyarakat semakin sulit membedakan mana yang akurat dan yang tidak. Karena media sosial itu sangat sulit diverifikasi, kecuali media mainstream ya. Karena sekarang eranya medsos, semua orang membagikan informasi dan itu memunculkan persoalan kredibilitas berita. Mana yang fakta mana yang hoax, semakin sulit dibedakan dan itu sebuah persoalan," kata Edi saat dihubungi detikcom, Rabu (14/7/2021).

Kemudian dia menjelaskan jika saat ini berita yang berkaitan dengan COVID-19 lebih bernuansa negatif. Hal itu beredar di media sosial seperti Facebook, Instagram bahkan di grup WhatsApp.

"Negatif dalam pengertian kabar duka, lebih banyak kabar duka, teman kerabat yang sakit, yang meninggal, dan itu memunculkan persoalan juga yang akhirnya mempengaruhi mood, berpotensi memunculkan negative feeling dan itu juga persoalan psikologis," ujarnya.

Sehingga adanya ajakan orang untuk tidak share informasi tentang COVID-19, menurut dia juga bisa dimaknai jika masyarakat menginginkan hanya pihak berwenang yang berkompeten untuk memberikan informasi tersebut. Mereka tidak mau lagi ada informasi dari influencer maupun orang yang hanya mencari panggung.

"Biarkanlah yang share informasi itu adalah pihak berwenang misalnya pemerintah yang memang punya tugas untuk itu atau pakar yang memang kehadirannya memberikan penjelasan. Bukan influencer, bukan orang yang sekedar punya panggung, tapi tidak punya kapasitas," ujarnya.

Dia menilai seperti fenomena dokter Lois, di sini masyarakat awam dibuat bingung. Ada orang yang mempunyai latar dokter, tetapi malah memberikan informasi yang berbeda dan negatif.

"Buat orang awam itu membingungkan. Ada orang yang berbicara dengan sudut pandang yang berbeda, dan itu juga yang menjadi beban baru. Bukan mencerahkan tapi malah menambah pusing orang, mana yang benar," jelasnya.

Maka dia meminta biarkanlah yang punya kepakaran yang punya wewenang yang bicara. Orang lain dapat menahan diri, apalagi dalam kondisi Indonesia yang saat ini. Dalam kondisi seperti saat ini yang dibutuhkan adalah menjaga mental dan spiritual.

"Karena menghadapi COVID-19 ini kita semata tidak butuh modal fisik, modal ekonomi, tapi jauh ada yang lebih penting adalah modal mental. Bayangkan jika mental kita rapuh dalam kondisi seperti ini, masyarakat secara umum, maka itu akan menambah beban pemerintah dan beban kita semua," ujarnya.



Simak Video "Tim Reaksi Cepat BPBDDIY Buka Layanan Pemulasaraan Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(sip/fay)