Facebook Bisa Telusuri Sumber Video Deepfake

Facebook Bisa Telusuri Sumber Video Deepfake

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Kamis, 17 Jun 2021 12:32 WIB
LONDON, ENGLAND - AUGUST 03: A person holds an iPhone displaying the Facebook app logo in front of a computer screen showing the facebook login page on August 3, 2016 in London, England.  (Photo by Carl Court/Getty Images)
Foto: Carl Court/Getty Images
Jakarta -

Deepfake memang belum menjadi masalah besar di Facebook, tapi mereka terus mencari cara untuk menghadapi teknologi ini.

Dalam risetnya bersama akademisi dari Michigan State University (MSU), Facebook menemukan cara untuk melakukan reverse engineering terhadap deepfake. Yaitu dengan menganalisa gambar buatan AI tersebut.

Analisa tersebut dilakukan terhadap karakteristik model machine learning yang dipakai untuk membuat video deepfake. Dari situ, Facebook bisa membantu menelusuri sumber yang menyebarkan deepfake-nya di berbagai media sosial.

Kenapa ini penting? Karena deepfake seringkali berisikan hoax dan juga video porno palsu. Namun sayangnya, metode yang dikembangkan Facebook ini masih berada dalam tahap awal dan belum siap untuk dipakai ke publik, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Kamis (17/6/2021).

Dalam penelitian sebelumnya terhadap deepfake, model AI yang dipakai untuk membuat deepfake ini memang sudah bisa dideteksi. Namun dalam penelitian MSU yang dipimpin oleh Vishal Asnani ini teknologi tersebut diteruskan dengan kemampuan mengidentifikasi 'gaya' yang belum dikenal sebelum sebelumnya.

'Gaya' ini dikenal sebagai hyperparameter, yang harus diatur ulang untuk setiap model machine learning, layaknya sebuah mesin. Namun pada akhirnya mereka meninggalkan sebuah 'sidik jari' unik dalam gambar yang dihasilkan membuat deepfake. Sidik jari inilah yang kemudian bisa dipakai untuk mengidentifikasi sumber deepfake-nya.

Hyperparameter ini adalah hal yang sangat penting menurut kepala penelitian dari Facebook yang bernama Tal Hassner. Pasalnya menurutnya software deepfake sangat mudah dikustomisasi, yang membuat pelaku bisa dengan mudah menutupi jejak digitalnya saat ditelusuri oleh pihak berwajib.

"Katakanlah seorang penjahat membuat banyak deepfake yang berbeda dan mengunggahnya di platform berbeda untuk pengguna yang berbeda. Jika ini adalah model AI yang berlum pernah dipakai sebelumnya, maka tak banyak yang bisa kita lakukan. Namun kini kita bisa melihat dan mengenali kalau semua gambar itu berasal dari model yang sama," ujar Hassner.



Simak Video "Facebook Kembangkan Smartwatch Pertamanya"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/asj)