Platform Digital Bantu Pengusaha Lansia di Tarakan Naik Kelas

Platform Digital Bantu Pengusaha Lansia di Tarakan Naik Kelas

Alfi Kholisdinuka - detikInet
Kamis, 17 Jun 2021 09:58 WIB
Pemilik Usaha Warung Teras Tarakan Welly
Pemilik Usaha Warung Teras Tarakan Welly (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Kemajuan teknologi dan masifnya infrastruktur telekomunikasi mendorong setiap orang untuk memetik manfaat dari ekonomi digital. Hal ini pun turut dimanfaatkan oleh berbagai lapisan masyarakat, tak terkecuali lansia di Kota Tarakan, Kalimantan Utara.

Mereka adalah Welly (55), pelaku UMKM yang sudah go digital dan Heirryah (56), pengemudi ojek online perempuan pertama di Tarakan. Keduanya meski berusia senja, turut memanfaatkan layanan digital Grab yang hadir sejak 2018 di Bumi Paguntaka tersebut. Begini kisahnya.

Digitalisasi Kuliner Milik Keluarga Bikin Usaha Moncer

Welly adalah Pemilik Warung Teras di Jalan Yos Sudarso Tarakan yang menjajakan aneka kuliner seafood. Ia menjadi generasi kedua yang diamanahi untuk meneruskan usaha keluarganya yang dirintis pada 2011 silam di depan rumah yang kebetulan cukup luas.

Berkat kegigihannya selama hampir 10 tahun itu, restonya kini semakin banyak dikenal tidak hanya oleh masyarakat, tetapi juga institusi pemerintah di Tarakan. Bahkan puncaknya, Presiden RI Joko Widodo setiap berkunjung ke Tarakan pasti mampir untuk mencicipi hidangan andalan Warung Teras ini.

"Kita bersyukur, waktu itu Presiden mampir dua kali di tahun 2016, terus masyarakat di sini kan bertanya-tanya, ada apa nih Warung Teras kok bisa dikunjungi Presiden dua kali. Jadi animo masyarakat yang ingin tahu meningkat, dan ingin nyoba menu yang dimakan Presiden," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Dia pun menuturkan saat itu, Jokowi bersama rombongan selepas kunjungan kerja di Kaltara menyantap udang goreng, kepiting soka telur asin, kepiting bumbu saos padang, burung dara, sup ikan bumbu kuning, dan buncis telur asin di Warung Teras. Makanan tersebut kini jadi primadona wisata kuliner di Tarakan.

Kendati resto miliknya sudah banyak dikenal publik saat itu, ia menyadari ekspansi bisnis ke ranah digital itu penting, terutama di tengah pandemi. Pasalnya, bisnisnya bisa saja tertinggal karena kompetisi sektor restoran di Tarakan juga semakin ramai terlebih dengan besarnya potensi UMKM di Tarakan.

Oleh karena itu, saat GrabFood pertama kali masuk ke Tarakan, ia langsung mendaftarkan Warung Teras ke dalam platform Grab. "Ya beralih pasti, karena kemajuan zaman juga kan, kita nggak bisa terlepas dari bisnis online ini yang ternyata juga sangat membantu," tuturnya.

Lebih lanjut, manfaat digitalisasi itu turut dirasakannya pada saat awal pandemi, di mana restorannya harus full tutup dan hanya melayani take-away saja. Hal ini turut membuat usahanya terdampak hingga berhasil kembali pulih pada menjelang akhir 2020 sampai saat ini.

"Omzet waktu pandemi itu, kita sudah turun sampai 20%-an, ya sekarang syukur, sudah hampir normal, cukuplah biaya bangunan, gajian karyawan. (Kalau nominalnya ada ratusan juta per bulan) Ya ada," jelasnya.

Menjadi Pengemudi Ojol Perempuan Pertama di Tarakan

Mitra Pengemudi GrabBike Perempuan Pertama di TarakanMitra Pengemudi GrabBike Perempuan Pertama di Tarakan Foto: Istimewa

Sementara itu, Heirryah (55), ibu tiga anak ini dikenal sebagai mitra pengemudi perempuan pertama di Kota Tarakan. Sebelum bergabung dengan perusahaan decacorn tersebut, dia bekerja menjadi sales di sebuah perusahaan otomotif di Tarakan.

Namun, karena pekerjaannya yang cukup menyita waktu, sehingga membuatnya tak nyaman, akhirnya ia memutuskan untuk bergabung dengan Grab atas saran anak dan keluarganya. Ia pun menilai pekerjaannya kini memiliki jam kerja yang lebih fleksibel.

"Saya kerja di Grab ini senangnya nggak diperintah orang. Kalau saya kerja di tempat lain saya pasti disuruh, misalnya suruh jaga di stand buat jelasin produk ini-itu," ungkap Bunda sapaan akrabnya.

Dia pun menceritakan biasanya memulai shift pertama pada pukul 8:00-10:00 WITA, kemudian pulang dan menyiapkan makan siang untuk suaminya yang sedang sakit. Usai shalat dzuhur, Heiriyah bekerja hingga jam 5 sore, lalu pulang untuk istirahat dan menyiapkan makan malam.

"Satu hari itu Rp 80-200 ribu, tergantung kesibukan. Saya paling sering ambil orderan GrabExpress," jelasnya.

Selama 3 tahun bersama Grab, Heirryah mengalami berbagai pasang surut. Mulai dari dipandang rendah oleh konsumen karena menjadi pengemudi perempuan, hingga diremehkan karena usianya yang sudah tidak muda lagi. Namun, ia terus usaha untuk membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang.

Menurutnya, hadirnya teknologi seperti Grab telah membuka banyak pilihan ekonomi digital bagi perempuan untuk mendapatkan pekerjaan yang fleksibel. Hal ini membuat platform seperti Grab dapat menjadi menambah peluang penghasilan yang sebelumnya tidak ada.

(ncm/ega)