Bertahan Lewat Platform Digital, Ini Kisah UMKM Jualan di Tokopedia - Halaman 2

Bertahan Lewat Platform Digital, Ini Kisah UMKM Jualan di Tokopedia

Nurcholis Maarif - detikInet
Rabu, 26 Mei 2021 21:00 WIB
Produk UMKM kerajinan tangan dari Surabaya
Foto: Instagram Revolt Industry

Jualan Online Itu Jangan Kaya Buka Warung

Visi yang sama juga ada pada Revolt Industry, bisnis yang bergerak di bidang kriya tangan berbahan kulit Sapi asal Surabaya. Jika Panna Coffee ingin mengenalkan cita rasa kopi Indonesia maka Revolt Industry ingin menunjukkan bahwa untuk mendapat produk bagus seperti aksesoris tidak perlu ke mal.

"Kita bikin brand Revolt Industry, sesuai namanya revolt, perlawanan, industry dari industries sesuatu tiada henti, jadi perlawanan tiada henti. Setiap orang punya perlawanan sendiri-sendiri, misalnya menang di kondisi sulit itu bentuk perlawanan diri sendiri. Beli barang bagus ga meski di mal, barang lokal juga bagus. Itu perlawanan yang ingin kami lakukan," ujar salah satu pemilik Revolt Industry, Agung D Kurnianto.

Revolt Industry didirikan oleh Agung dan empat kawannya sejak tahun 2014. Kelimanya memulai bisnis membuat aksesoris berbahan kulit tersebut hanya dengan modal YouTube dan menyewa garasi sebagai tempat produksi. Sejak awal berdiri, Revolt Industry sudah memanfaatkan media sosial dalam pemasarannya.

"Awal mula ketika launching pertama, kita lewat sosial media, yaitu Instagram. Kita juga bikin masukin ke e-commerce Tokopedia waktu itu. Pas launching banyak yang suka, di-support teman dan keluarga, salah satu pemacu semangat kami bikin barang kami," ujarnya.

"Di awal lahir di 23 Mei 2014 kita launching, di Desember 2014 rumah yang kita sewa kebakaran. Workshop, tempat kantor, yang Rp 500 ribu per bulan kita sewa itu habis dilalap api 15 menit, (gegara) konslet listrik. Vakum 2 bulan, kita akhirnya nyewa rumah," ujarnya.

Menurut Agung, dukungan dari pelanggan membuat semangat Revolt Industry semakin serius usai bencana yang dialaminya. Revolt Industry bahkan terus merekrut orang untuk menjadi pegawai yang saat ini berjumlah hingga 38 orang. Ini dilakukan karena permintaan produknya juga semakin meningkat. Selanjutnya bencana itu datang lagi dalam bentuk pandemi COVID-19 yang juga menurunkan omzet Revolt Industry.

"Kalau Revolt ini 7 tahun sebelum pandemi belum punya toko, tapi kami masukin ke toko-toko, ada di Jakarta, di Malaysia, ada di US, ada di Jepang juga. Nah kena pandemi ini namanya ritel, omzetnya drop 80%," ujarnya.

Agung menyebut mengakali pandemi itu dengan membuat campaign di media sosial hingga e-commerce yang berisi ajakan untuk membeli produk lokal. Tak lupa ia juga membuat diskon agar operasional Revolt Industry tetap berjalan, meski tak mengambil untung.

"(Campaign itu) nggak cukup juga. Supaya kita memulangkan 38 keluarga Revolt Industry, kita buka toko di masa pandemi, pas Desember tahun kemarin. Banyak yang bilang gila mas. Kamu pandemi malah buka toko, gila yah. Di situ kita malah, istilahnya, bertahan yang paling baik adalah menyerang. Yah karena nggak ada yang bisa kita lakukan kan, pantang menyerah itu," ujarnya.

Lebih lanjut Agung menjelaskan pandemi juga membuat pihaknya terus berinovasi dengan produk-produk baru. Ia juga bercerita selalu membagikan tentang produknya di media sosial dan mengarahkan penjualan ke Tokopedia.

"Tetap media sosial untuk media sharing our value yang mana mengarahkan penjualan ke media penjualan yang kami punya ada e-commerce Tokopedia. Kalau di Indonesia paling banyak dari Jakarta, Surabaya, Batam, Bali, Semarang. Kadang ada program bebas ongkir dan cashback itu sangat terbantu. Kita kan base-nya jualan online, ecommerce paling tinggi Tokopedia, selain website dan media sosial," ujarnya.

Lebih lanjut ia menyarankan untuk UMKM lain yang merambah platform digital agar tidak berpikiran jualan online seperti buka warung. Menurutnya, harus ada digital marketing yang pas untuk menarik pelanggan. Selain itu dibutuhkan konsistensi nilai dari produk yang ditawarkan.

"Yang selalu Revolt lakuin itu platform digital itu jangan kaya buka warung, ketika buka warung selesai kita nungguin customer datang, itu sama kaya mental buka warung. Selain digital marketing, buka e-commerce, kita juga harus share di media sosial tentang value yang kita punya, tetap konsisten dengan produk kualitas bagus, share value yang brand yang kita punya," ujarnya.

"Kuncinya tetap konsisten, karena ada beberapa brand karena pandemi menurunkan kualitas, alhasil keluar dari value atau visi misi brand-nya," pungkasnya.

(ncm/ega)