Kisah Pengusaha Es Krim di Yogyakarta Berdayakan Peternak Sapi Lokal

Kisah Pengusaha Es Krim di Yogyakarta Berdayakan Peternak Sapi Lokal

Erika Dyah - detikInet
Selasa, 06 Apr 2021 16:00 WIB
Grab
Foto: Grab
Jakarta -

Dampak pandemi tak ayal telah menghantam berbagai lini kehidupan dan memberikan efek domino multisektoral, seperti sektor kesehatan, sosial, ekonomi, dan lain sebagainya. Salah satu lini ekonomi yang cukup terdampak akibat pandemi COVID-19 adalah sektor bisnis kuliner yang mau tak mau mesti beradaptasi dengan kondisi baru ini.

Melansir situs Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika (Ditjen Aptika) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) RI, diketahui perekonomian Indonesia selama masa pandemi telah ditopang oleh ekonomi digital. Pada kuartal II 2020, terjadi pertumbuhan sektor infokom sebesar 10,88% yang disinyalir ada karena pandemi membuat masyarakat menggantungkan kehidupannya pada ekonomi digital.

Secara umum, disebutkan ekonomi digital di Indonesia terdiri dari e-commerce, on demand service, digital wellness service, fintech, dan IoT.

Koordinator Pemberdayaan Kapasitas TIK Kemkominfo Aris Kurniawan menilai bisnis daring Fast Moving Consumer Goods (FMCG) pun diprediksi dapat meningkat 400% selama 2020. Ia menyampaikan ekonomi digital ini juga membuat berbagai aktivitas menjadi jauh lebih efisien, ramah inovasi, dan bisa menciptakan model bisnis yang beraneka ragam.

Peluang ini tentu dimanfaatkan oleh berbagai penyedia jasa untuk menciptakan berbagai teknologi berbasis digital untuk dapat menghidupkan ekonomi digital meski di tengah pandemi. Salah satunya, Grab, superapp ternama yang menciptakan teknologi untuk membangun ekosistem yang saling menguatkan. Adapun penguatan tersebut berupa pertumbuhan di satu unit bisnis yang dapat mendorong pertumbuhan di unit bisnis lainnya.

Salah satu efek domino pertumbuhan usaha ini dirasakan oleh bisnis Sweet Sundae Ice Cream, milik pasangan Andromeda Sindoro dan Yuki Rahmayanti yang telah memasok es krim untuk hotel-hotel di Indonesia.

Andro mengisahkan bisnisnya ini berawal pada medio 2008 ketika dirinya masih berkuliah di semester 6 Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM). Saat itu, lanjutnya, ia bersama yang menjadi asisten dosen bersama teman-temannya diminta membantu proyek dosen membina peternak sapi perah di daerah Cangkringan, Kaliurang.

Andro menjelaskan saat itu ia mendapat keluhan dari para peternak tentang harga susu yang jatuh. Untuk itu, ia bersama empat temannya, termasuk Yuki yang kini menjadi istrinya mencoba membeli susu sapi peternak dengan harga lebih tinggi untuk diolah menjadi es krim supaya harga jualnya dapat meningkat. Untuk penjualannya, lanjut Andro, mulanya hanya dijajakan di kantin kampus.

"Ternyata, penjualannya bagus dan kami berkembang," ujar Andro dalam keterangan tertulis, Selasa (6/4/2021).

Seiring waktu, lanjut Andro, ia terus memperbaiki produk karena optimistis bisnisnya dapat dikembangkan lebih baik lagi. Untuk itu, ia mengaku kerap meminta masukan dari dosen-dosennya serta menggali ilmu dari internet guna memperbaiki kualitas es krimnya.

Andro mengungkap dalam perjalanannya, dua rekan bisnis Andro memilih mundur, hingga tersisa Yuki yang notabene istrinya sendiri. Andro dan Yuki sepakat meneruskan usaha es krim yang saat itu mereka namakan Yogya Ice Cream.

Andro menceritakan saat memulai bisnis ia memanfaatkan tabungan pribadi sebagai modal sembari terus mengikuti kompetisi kewirausahaan mahasiswa untuk dapat suntikan modal usaha dan memperbesar skala produksi hingga akhirnya ia bisa memantapkan diri untuk berbisnis es krim.

Kendati demikian, kata Andro, bisnisnya yang semula bernama Yogya Ice Cream harus diubah menjadi Sweet Sundae Ice Cream karena tidak bisa dipatenkan.

Andro mengaku kerap mengubah model bisnisnya untuk dapat berkembang, mulai dari menitipkan produk es krimnya di warung-warung hingga mengubah strategi penjualan ke business to business (B2B) dengan menawarkan produknya ke hotel, restoran, dan katering (horeka). Tak hanya eksis di Yogyakarta, Andro mengaku berhasil meluaskan pasar ke kota-kota di sekitar Yogya, seperti Solo, Semarang, Magelang, dan Ambarawa.

GrabGrab Foto: Grab

"Di Yogyakarta, kami pegang 26 katering. Ini baru bicara katering, belum bicara kafe, restoran, dan hotel. Jadi, kami melihat pangsa ke depan masih potensial," katanya.

Tahun 2015, lanjutnya, bisnis es krimnya mulai membuka distributor hingga mencakup luar Pulau Jawa. Namun, seiring berjalannya waktu Andro mengatakan distributor yang aktif dan besar hanya ada di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.

Soal produksi, Andro mengaku es krim miliknya dibuat menggunakan 100% susu segar dari peternak lokal. Ia mengatakan susu sapi segar bahan baku produknya didatangkan langsung setiap pagi dan segera diolah sebelum masuk ke lemari pendingin. Hal ini ia lakukan agar kualitas produk es krimnya tetap terjaga.

Selain itu, lanjut Andro, produknya juga diklaim menggunakan bahan lokal, alami, dan halal tanpa bahan pengawet, perasa, dan pewarna.

Pada 2017, Andro meluncurkan brand premium Ademuy Gelato di Lempongsari, Yogyakarta. Ia mengatakan gelato ini menggunakan bahan lokal, murni, dan semuanya hasil dari peternak sapi lokal dan petani lokal. Kini, kata Andro, Ademuy Gelato juga memiliki cabang di Jakarta dan menjual berbagai varian gelato serta menerima pesanan customize dairy products.

"Kami meluncurkan gelato untuk menyesuaikan dengan permintaan pasar yang ternyata bervariasi, bukan hanya menyukai es krim," ungkap Andro.

Pada tahun yang sama, Andro juga meraih juara dua untuk lomba Entrepreneur Muda Syariah BI tingkat nasional hingga akhirnya dapat bekerja sama dengan instansi pemerintahan, terutama Kementerian Pariwisata dan Kementerian Koperasi.

Ia pun menyebutkan, pada 2019 dirinya dikirim Kemenkop untuk mengikuti Asia Pacific Economy Conference (APEC). Kemudian, ungkap Andro, bisnisnya berhasil menjadi UMKM binaan Bank Indonesia, Jawa Tengah.

"Di sana kami menjadi juara 1 dan berkesempatan mempresentasikan Sweet Sundae di depan Teten Masduki," ujarnya.

Andro mengatakan saat ini ia membina 935 KK dengan total 2.600 ekor sapi. Menurutnya, ada banyak tantangan yang dihadapi saat memulai bisnis ini seperti belum memiliki pengalaman yang banyak dan belum punya kredibilitas yang cukup untuk bisa menyampaikan ide memberdayakan peternak sapi lokal ke pemerintah ataupun investor.

Kendati demikian ia terus mengembangkan bisnisnya hingga saat ini, bahkan di tahun 2016 ia berani mengirim kepala peternak ke Australia selama sebulan untuk mengikuti pelatihan.

Andro menjelaskan dalam menjalankan bisnis, yang penting baginya adalah misi meningkatkan value susu dari peternak lokal sehingga hasil dari peternak akan kembali untuk peternak.

"Kami mengedepankan close circle yang berputar di peternak sebagai pemain utama dan kami sebagai pengolah," tegasnya.

Andro mengungkap pandemi tak ayal sempat membuat bisnisnya anjlok hingga 80% terutama di masa awal pandemi. Kondisi ini mau tak mau membuatnya memutar otak karena baginya, bisnis es krim ini tak hanya tentang dia saja tapi juga memiliki efek besar pada para peternak yang dibinanya.

Oleh karena itu, Andro memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan perekonomiannya. Ia mengatakan bisnisnya melakukan peralihan dari model B2B ke B2C dengan bergabung dengan GrabFood. Ia mengaku berkat kerja sama ini penjualannya dapat meningkat 85% dalam dua bulan dan tetap dapat mempertahankan 25 stafnya untuk bisa bekerja. Menurutnya, teknologi telah membantu bisnisnya untuk dapat tumbuh dan bertahan hidup serta memberdayakan peternak sapi lokal meski di tengah pandemi.

Andro mengatakan dirinya akan terus memberdayakan lebih banyak peternak sapi lokal untuk terus memasok susu untuk es krimnya guna memastikan lebih banyak orang di luar bisnisnya dapat memperoleh manfaat dari digitalisasi ini.

Sebagai informasi, Riset Tenggara dan CSIS di tahun 2020 mengungkap platform Grab tak hanya membantu bisnis merchant untuk tumbuh tapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi lebih banyak orang, saat bisnis merchant bertumbuh.

Berdasarkan riset tersebut, diketahui sebagian besar merchant GrabFood dan GrabKios mempekerjakan 2-3 karyawan tambahan saat bisnis mereka bertumbuh. Oleh karena itu, teknologi yang diciptakan Grab telah berhasil menciptakan ekosistem inklusif yang dapat digunakan oleh siapa saja dan juga manfaatnya bisa dirasakan oleh lebih banyak orang seperti yang dimanfaatkan oleh bisnis Sweet Sundae Ice Cream dalam perjalanannya mengembangkan bisnis es krim dan memberdayakan peternak sapi perah lokal.

(fhs/fay)