Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kok Bisa Antarktika Jadi 'Gudang' Meteorit Terbesar di Bumi?

Kok Bisa Antarktika Jadi 'Gudang' Meteorit Terbesar di Bumi?


Rachmatunnisa - detikInet

Studi: Air Hangat Mengikis Gletser Thwaites di Antarktika
Foto: DW (News)
Jakarta -

Antarktika dikenal sebagai benua paling dingin di Bumi. Di balik hamparan esnya yang luas, wilayah ini ternyata menyimpan harta karun bagi para ilmuwan, yakni puluhan ribu batuan dari luar angkasa.

Lebih dari 45.000 meteorit telah ditemukan dari lapisan es Antarktika sejak penemuan pertama yang terdokumentasi pada 1912. NASA bahkan memperkirakan masih ada hingga sekitar 300.000 meteorit yang menunggu ditemukan di permukaan atau dekat permukaan es.

Menariknya, seperti dikutip dari Space Daily, Kamis (13/8/2026) banyaknya meteorit di Antarktika bukan karena benua tersebut lebih sering dihujani batuan luar angkasa. Justru, es, angin, pegunungan, dan waktu bekerja sama untuk mengumpulkan meteorit di lokasi-lokasi tertentu, membuat batuan yang seharusnya tersebar di wilayah sangat luas menjadi lebih mudah ditemukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika meteorit jatuh ke Antarktika, batuan tersebut dapat segera tertutup salju. Lapisan salju kemudian mengalami pemadatan dan berubah menjadi es. Es ini tidak diam. Lapisan gletser bergerak perlahan akibat beratnya sendiri. Meteorit yang terperangkap di dalamnya ikut terbawa bersama aliran es.

Dalam perjalanan selama ribuan hingga ratusan ribu tahun, sebagian material es akhirnya bergerak menuju wilayah tertentu. Ketika aliran es bertemu penghalang seperti pegunungan, pergerakannya dapat melambat atau berubah arah.

ADVERTISEMENT

Di sinilah proses alami yang membuat Antarktika menjadi 'gudang' meteorit mulai terjadi. Antarktika memiliki angin katabatik, yakni angin dingin dan kering yang mengalir dari wilayah dataran tinggi menuju daerah yang lebih rendah.

Angin tersebut dapat menghambat penumpukan salju baru sekaligus mengikis permukaan es. Sebagian es juga dapat langsung berubah menjadi uap melalui proses sublimasi. Meteorit, tidak ikut menghilang dalam proses tersebut.

Ketika lapisan es yang membawa meteorit perlahan terkikis atau tersublimasi, batuan luar angkasa yang sebelumnya terkubur akhirnya muncul ke permukaan. Jika proses ini berlangsung dalam waktu sangat lama, meteorit yang awalnya jatuh di area luas dapat terkonsentrasi di wilayah tertentu yang dikenal sebagai meteorite stranding zones.

Wilayah Blue Ice

Lokasi yang kaya meteorit umumnya berada di wilayah yang disebut blue ice atau es biru. Berbeda dari permukaan Antarktika yang tertutup salju putih, area blue ice merupakan wilayah ketika salju permukaan tersingkir dan es padat yang lebih tua terekspos.

Kondisi tersebut membuat meteorit lebih mudah ditemukan. Batuan luar angkasa umumnya memiliki warna gelap sehingga terlihat kontras dengan permukaan es. NASA mencatat hampir seluruh meteorit Antarktika ditemukan di wilayah blue ice karena minimnya lapisan salju membuat batuan tersebut terekspos di permukaan.

Para peneliti kemudian dapat menyisir permukaan es dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan salju. Mereka mencari benda yang tampak tidak seharusnya berada di tengah hamparan es.

Namun, tidak semua batu berwarna gelap merupakan meteorit. Batuan dari Bumi juga dapat terbawa ke permukaan es, sehingga setiap temuan harus diperiksa dan diklasifikasikan di laboratorium.

Antarktika juga menawarkan kondisi yang sangat baik untuk mengawetkan meteorit. Lingkungannya yang sangat dingin dan kering membuat proses pelapukan berlangsung lebih lambat dibandingkan banyak wilayah lain di Bumi.

Bahkan, sebagian meteorit yang ditemukan di sana diperkirakan telah jatuh ke Bumi lebih dari satu juta tahun lalu. Kondisi ini membuat meteorit Antarktika menjadi sampel penting bagi penelitian tentang Tata Surya.

Batuan tersebut dapat memberikan informasi mengenai material pembentuk asteroid dan kondisi awal Tata Surya. Sebagian kecil bahkan berasal dari Bulan dan Mars. NASA memperkirakan sekitar 99,8% meteorit yang ditemukan di Bumi berasal dari asteroid. Meteorit Bulan dan Mars jumlahnya jauh lebih sedikit, tetapi nilainya sangat besar bagi penelitian planet.

Meski Antarktika merupakan 'surga' pencarian meteorit, bukan berarti peneliti dapat menemukan batuan luar angkasa di sembarang tempat. Kecepatan pergerakan es, suhu permukaan, kondisi angin, dan bentuk wilayah ikut menentukan apakah meteorit dapat terkonsentrasi dan tetap terlihat.

NASA melaporkan bahwa wilayah blue ice yang menjadi titik panas meteorit umumnya mempertahankan suhu di bawah sekitar minus 9 derajat Celsius hampir sepanjang waktu. Jika suhu terlalu tinggi, meteorit berwarna gelap dapat menyerap lebih banyak energi Matahari.

Panas tersebut bisa menyebabkan es di bawah batuan mencair sehingga meteorit perlahan tenggelam dan kembali menghilang dari permukaan. Sebaliknya, jika aliran es terlalu cepat, meteorit dapat terbawa pergi sebelum sempat terkumpul dalam jumlah besar.

Artinya, dibutuhkan kombinasi kondisi yang sangat spesifik, yakni dingin, kering, pergerakan es yang tepat, serta permukaan yang terus kehilangan salju dan es.

Inilah alasan Antarktika menjadi lokasi paling produktif untuk pencarian meteorit. Benua tersebut tidak menarik lebih banyak batuan luar angkasa dibandingkan wilayah lain. Meteorit tetap jatuh di berbagai tempat di Bumi.

Namun, di sebagian besar wilayah, meteorit mudah hilang karena tertutup tanah, tumbuhan, air, atau bercampur dengan batuan Bumi lainnya. Antarktika melakukan hal sebaliknya. Es membawa meteorit, pegunungan membantu mengonsentrasikannya, sementara angin dan sublimasi menyingkirkan material permukaan. Setelah itu, hamparan blue ice memberikan latar belakang yang membuat batuan gelap lebih mudah dikenali.

Karena proses alam tersebut, para ilmuwan seolah mendapatkan semacam 'program pengumpulan sampel' gratis dari alam. Setiap meteorit yang berhasil ditemukan kemudian dapat diteliti untuk mengungkap sejarah asteroid, Bulan, Mars, hingga proses pembentukan Tata Surya. Menariknya, NASA memperkirakan masih ada ratusan ribu meteorit lain yang tersembunyi di bentangan es Antarktika.



(rns/fay)








Hide Ads
LIVE