Google Diblokir, Chrome Malah Populer di China

Google Diblokir, Chrome Malah Populer di China

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Kamis, 08 Okt 2020 10:28 WIB
Google Chrome
Foto: Internet
Jakarta -

Pengguna internet di China sampai saat ini tak bisa mengakses Google -- dan berbagai produknya -- tanpa VPN. Namun, browser Chrome malah jadi browser paling populer di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Padahal, bisa dibilang China tak kekurangan browser lokal. Sebut saja UC Browser, 360 Browser, dan QQ Browser, demikian dikutip detikINET dari Scmp, Kamis (7/10/2020).

Salah satunya adalah Russel Zeng, yang berdomisili di Shenzhen, kota yang sering disebut sebagai Silicon Valley-nya China. Ia mengaku sulit menginstal ekstensi yang ia pakai di Safari ataupun QQ Browser.

Ekstensi yang ia pakai salah satunya adalah FireShot, yang tersedia di Chrome. Dengan ekstensi ini Zeng bisa mengambil screenshot dari artikel yang sedang dibaca dan membagikannya ke rekan kerja. Ia juga memakai Grammarly untuk meningkatkan kemampuannya berbahasa Inggris, yaitu untuk mengecek kesalahan ejaan dan mendapat saran kata.

"Saya tak ingat alasan saya pindah ke Chrome beberapa tahun lalu. Seingat saya karena saya kesulitan menginstal ekstensi di Safari dan QQ Browser, dan Chrome adalah nama yang disarankan oleh teman saya," ujar Zeng.

Zeng jelas bukan satu-satunya pengguna Chrome di China. Bahkan Chrome adalah browser paling populer di negara tersebut berdasarkan data dari berbagai sumber.

Baik untuk desktop maupun mobile, Chome mempunyai 36% sampai 39% market share pada 2020 ini, ini berdasarkan data analitik dari Baidu. Lalu menurut data CNCERT, Chrome punya 30% market share untuk browser mobile pada Q3 2019.

Namun memang jika dibandingkan dengan data global, market share Chrome jauh lebih besar. Menurut StatCounter, Chrome menguasai dua pertiga market share browser secara global.

Dalam sejarahnya, mesin pencari Google sudah diblokir di China sejak 2010. Tepatnya saat Google menyetop penyensoran hasil pencarian terkait serangan siber yang berasal dari China.

Sejak itu, hampir semua produk Google diblokir di China, termasuk Google Play Store. Meski sebenarnya banyak aplikasi Google, baik di Android maupun iOS, tetap bisa berfungsi namun harus melalui VPN.

Namun khusus untuk Chrome, browser ini tak perlu terhubung dengan server Google untuk bisa beroperasi. Di China browser ini bisa diunduh lewat situs resmi Google, dan mesin pencari bawaannya bisa diubah dari Google menjadi Baidu ataupun Bing.

"Di China, kebanyakan orang memilih Google Chrome karena ini lebih kencang dan ramah pengguna. Kecepatan adalah alasan utama mereka," ujar Yuwan Hu, analis dari perusahaan penelitian Daxue Consulting.

Salah satu alasan lainnya adalah browser asal China disebut terlalu mencari untung, yaitu dengan menampilkan berbagai macam iklan di dalam aplikasinya.

"Alasan saya tak suka kebanyakan browser China adalah mereka terlalu mencari untung. Pada dasarnya mereka bukanlah browser, melainkan alat perusahaan untuk beriklan, promosi, dan mencari pengguna," tulis seorang pengguna Zhihu, sebuah situs China yang mirip Quora.

Namun bukan berarti Google tak punya kompetitor. Januari lalu Microsoft meluncurkan browser Edge, yang memakai kode open source Chromium, yang membuatnya berfungsi layaknya Chrome.

Bahkan Edge punya banyak fitur yang sama, pun mendukung ekstensi milik Chrome. Keberadaan Edge ini pun disadari oleh banyak pengguna Chrome di China.

"Saya memilih Edge karena masyarakat China normalnya tak bisa menggunakan akun Google, namun Edge membolehkan fitur untuk memindahkan bookmark dan ekstensi dari Chrome. Karena itulah saya kemudian memutuskan untuk memakai Edge," tulis seorang pengguna Zhihu lainnya.



Simak Video "Tampilan Baru Logo Ikon Gmail hingga Chrome"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)
Debat Capres AS