Kisah Pembuat Komputer Genggam yang Pernah Ribut dengan Pabrikan Pulpen

Kisah Pembuat Komputer Genggam yang Pernah Ribut dengan Pabrikan Pulpen

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Minggu, 06 Sep 2020 08:50 WIB
Palm Pilot
Foto: Istimewa
Jakarta -

Jauh sebelum ponsel pintar atau smartphone Android dan iPhone merajalela, ada Palm dengan berbagai produk komputer genggamnya (personal digital assistant - PDA), yang ternyata pernah berselisih dengan pabrikan pulpen.

Palm Inc, yang awalnya bernama Palm Computing didirikan pada 1992 oleh Jeff Hawkins. Bersama dengan Donna Dubinsky dan Ed Colligan, mereka membuat Palm Pilot, salah satu PDA paling pertama dan paling sukses.

Saking suksesnya, nama Palm sering diasosiasikan sebagai PDA dan menjadi pemimpin pasar di ranah komputer genggam selama hampir satu dekade. Pilot adalah sebuah PDA yang punya empat fungsi utama, yaitu memo, buku alamat, kalender, dan to-do lists.

Pilot mendominasi pasar PDA dan terjual lebih dari sejuta unit dalam 1,5 tahun pertamanya, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Jumat (4/9/2020).

PDA ini bisa menjadi sangat terkenal karena punya bentuk yang enak di tangan dan cukup di kantong celana. Spesifikasinya antara lain adalah CPU Motorola 68328 16 MHz, layar sentuh monokrom 160x160 pixel dan dilengkapi dengan Graffiti input zone, dan menggunakan baterai AAA sebagai sumber tenaga.

Pengguna Pilot juga bisa menghubungkan PDA ini dengan PC menggunakan docking dan kabel khusus. Harga Pilot 1000 - versi pertama -- adalah USD 299, setengah dari harga Apple Newton yang merupakan pesaingnya saat itu.

Pilot bisa menyimpan 500 alamat dan 600 janji. Sementara Pilot 5000 -- penerusnya -- hanya USD 69 lebih mahal dan punya storage lima kali lipat lebih besar.

Palm Pilot digugat Pilot
Namun, Palm Pilot ini juga yang membuat mereka berselisih dengan pabrikan pembuat pulpen bernama Pilot. Palm digugat karena menggunakan nama Pilot, yang kemudian memaksa mereka menggantinya dengan PalmPilot, dan akhirnya tak lagi menggunakan nama tersebut untuk produk penerusnya, yaitu Palm III dan Palm Tungsten.

Selama hidupnya, Palm beberapa kali berganti kepemilikan. Pada September 1995 mereka diakuisisi oleh U.S. Robotics senilai USD 44 juta, dan Pilot diluncurkan tepat setahun setelah akuisisi ini terjadi.

Namun kemudian U.S. Robotics diakuisisi oleh 3Com pada 1997 dengan valuasi USD 6,6 miliar. Namun pendiri Palm, yaitu Hawkins, Dubinsky, dan Colligan, tak suka dengan arah perusahaan setelah diakuisisi oleh 3Com.

Dari Palm ke Handspring lalu ke Palm Lagi
Mereka pun mengundurkan diri dan mendirikan Handspring setahun kemudian, dan kemudian merilis PDA lain bernama Visor yang juga menggunakan sistem operasi Palm. Uniknya, Handspring ini juga kemudian diakuisisi oleh Palm beberapa tahun kemudian.

Pada Maret 2000, Palm akhirnya memisahkan diri dari induknya dan melakukan initial public offering (IPO) atau resmi masuk ke pasar saham. Valuasi mereka saat itu lebih tinggi dibanding General Motors, McDonalds, dan bahkan induk perusahaannya 3Com, namun valuasi yang kelewat tinggi itu hanya bertahan setahun, dan mereka pun kehilangan 90% valuasinya.

Kompetisi di pasar PDA saat itu sangatlah ketat karena banyak perusahaan seperti HP, Sony, Compaq, Nokia, dan Casio yang ikut bertarung. Meski Palm tetap bisa bertahan karena punya 70 ribu developer pihak ketiga.

Namun akhirnya merkea harus menyerah dan merilis perangkat dengan OS Windows Mobile, yaitu Palm Treo 700w. Bisnis mereka mulai goyang saat Research In Motion (RIM) merilis BlackBerry, lalu dilanjutkan dengan Apple yang merilis iPhone pada 2007, dan kemudian tentunya adalah kehadiran Android.

Palm belum mau mengaku kalah, dan pada CES 2009 mereka merilis Palm Pre, sebuah smartphone yang menjalankan sistem operasi webOS. Namun, bisa ditebak, penjualan produk tersebut tak mengesankan.

webOS pun kemudian dibeli oleh HP dan dijadikan platform open source, yang kemudian merilis Pre 2, yang juga tak berhasil. webOS kemudian dibeli oleh LG dan dijadikan OS untuk berbagai perangkat buatannya, seperti TV, kulkas, dan lain sebagainya.

Saat ini, Palm sebagai perusahaan memang sudah tidak ada. Namun hak penggunaan namanya sudah dibeli oleh TCL. Mungkin saja ke depannya TCL bakal merilis perangkat dengan nama Palm, sama seperti saat mereka bekerja sama dengan BlackBerry untuk menghidupkan kembali nama tersebut, meski kemudian gagal.



Simak Video "Melihat Indahnya Atraksi Air Mancur Terbesar di Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/rns)