2.500 Saluran YouTube Terkait China Dihapus Google, Kenapa?

2.500 Saluran YouTube Terkait China Dihapus Google, Kenapa?

Josina - detikInet
Minggu, 09 Agu 2020 05:25 WIB
Ilustrasi Google, ilustrasi YouTube, dan ilustrasi Facebook
2.500 Saluran YouTube Terkait China Dihapus Google, Kenapa? (Foto: Andhika Prasetia)
Jakarta -

Google telah menghapus lebih dari 2.500 saluran YouTube terkait China sebagai bagian dari upaya untuk membersihkan disinformasi dari platformnya.

Ribuan saluran YouTube ini telah dihapus antara bulan April dan Juni sebagai bagian dari penyelidikan tentang operasi pengaruh terkoordinasi yang terkait dengan China.

Dijelaskan Google saluran yang dihapus umumnya memposting dengan konten spam dan non-politik. Meski demikian ada sebagian kecil saluran yang terkait politik.

Google tidak mengidentifikasi secara detail tentang saluran yang dihapusnya, namun untuk menautkan video tersebut memiliki aktivitas yang serupa dengan yang ditemukan oleh Twitter. Dan juga saluran yang memiliki kampanye disinformasi teridentifikasi pada bulan April.

Dilansir detikINET dari The Guardian, laporan ini muncul saat bersamaan kondisi antara AS dan Cina tengah panas atas teknologi dan media sosial jelang pemilihan umum AS.

Para hari Rabu lalu Gedung Putih mengatakan sedang meningkatkan upaya untuk memberikan aplikasi China yang tidak dipercaya dari jaringan digital AS. TikTok dan WeChat disebutkan memiliki ancaman signifikan.

TikTok memiliki waktu paling lambat sampai tanggal 15 Sepember 2020 untuk mendapatkan kesepakatan pembelian oleh Microsoft jika aplikasinya ingin tetap beroperasi di AS.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan kampanye AS yang disebut 'Jaringan Bersih' akan fokus pada lima area dan termasuk langkah-langkah untuk mencegah berbagai aplikasi China, serta perusahaan telekomunikasi China, mengakses informasi sensitif tentang warga negara dan bisnis Amerika

Sebabnya disinformasi dari pihak asing begitu ditakuti, karena saat pemilu tahun 2016 di mana saat itu Rusia dituding mempengaruhi hasil pemilu, saat itu 'aktor' terkait dengan pemerintah Rusia dicurigai menyebar ratusan ribu pesan hoax di media sosial.

Sejak itu dalam waktu 4 tahun AS dan perusahaan teknologi berusaha untuk menghindari kejadian tahun 2016 kembali terulang. Google dan Facebook pun rutin mengeluarkan update tentang bagaimana cara mereka melawan propaganda online.



Simak Video "Hukuman Denda Rp 362 Miliar dari Turki untuk Google"
[Gambas:Video 20detik]
(jsn/jsn)