WeChat Dicekal, Hubungan Pengguna ke Keluarga di China Terancam

WeChat Dicekal, Hubungan Pengguna ke Keluarga di China Terancam

Josina - detikInet
Sabtu, 08 Agu 2020 15:30 WIB
Ilustrasi WeChat
WeChat Dicekal AS Akan Memutus Hubungan Pengguna Ke Keluarga di China. (Foto: istimewa)
Jakarta -

Rencana larangan Presiden AS Donald Trump terhadap akses menggunakan aplikasi perpesanan WeChat akan berdampak pada jutaan pengguna Amerika Serikat yang menjadi korban baru dalam perselisihan antara Amerika dan China.

Itu karena dengan diblokirnya WeChat, akan memutuskan komunikasi pengguna yang tinggal di AS dengan keluarga, kerabat dan teman di China. Trump dalam perintah eksekutifnya akan melarang WeChat dalam waktu 45 hari kecuali induk perusahaan di China menjualnya. TikTok juga kena kebijakan serupa, tapi mereka diminati Microsoft dan WeChat belum jelas.

WeChat yang dimiliki oleh perusahaan teknologi Tencent ini, populer di kalangan pelajar China, ekspatriat, dan beberapa orang AS yang memiliki hubungan personal atau bisnis di China.

Hal itu lantaran aplikasi perpesanan yang paling populer di AS, termasuk Facebook Messenger, WahtssApp dan Telegram, telah diblokir oleh China. Tak heran jika WeChat jadi juru selamat.

"Saya datang ke AS untuk mendapatkan akses informasi gratis. Saya kini merasa menjadi sasaran Trump," ujar Tingru Nan, seorang mahasiswa pascasarjana China di University of Delaware yang dilansir detikINET dari Reuters.

"Saya hidup dalam ketakutan terus-menerus sekarang karena berpikir saya mungkin akan terputus dengan teman dan keluarga." tambahnya.

Menurut data dari Firma Analitik Apptopia, larangan ini akan memutuskan komunikasi lebih dari 6 juta orang China yang tinggal di Amerika Serikat, di mana dalam tiga bulan terakhir Wechat memiliki rata-rata 19 juta pengguna aktif harian di Amerika Serikat.

Banyak pengguna China mulai memikirkan rencana cadangan saat berada di AS. Beberapa pengguna WeChat telah mulai membagikan kontak cadangan untuk sejumlah aplikasi terbatas yang masih tersedia di China, termasuk Skype dan LinkedIn Microsoft Corp (MSFT.O).

Ada juga yang berencana untuk menggunakan virtual private networks (VPN) untuk membuka akses aplikasi yang telah diblokir.

"Saat di China saya perlu menggunakan VPN agar Gmail dan Instagram berfungsi. Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya perlu melakukan hal serupa di AS," kata Tao Lei, seorang pekerja teknologi yang tinggal di Philadelphia.

Allison Chan, seorang Tionghoa-Amerika di Florida, menggunakan VPN setiap kali dia mengunjungi Tiongkok untuk mengakses situs AS seperti Facebook, Google, dan Twitter, yang telah diblokir oleh pemerintah Tiongkok.

"Setelah periode 45 hari habis, saya akan bereksperimen dengannya dan melihat apakah kita masih dapat menggunakan WeChat," kata Chan.

Dia mengatakan WeChat telah menjadi alat utama baginya dan orang tuanya untuk berkomunikasi dengan kakek-neneknya di China.

"Saya memahami argumen tentang keamanan, tetapi bagi saya, ini lebih tentang bagaimana saya akan berbicara dengan keluarga saya," kata Chan. "Orang tua saya mengkhawatirkan kakek nenek saya karena kesehatan mereka menurun dan mereka ingin terus mendapat kabar terbaru tentang mereka."

Beberapa ekspatriat China di AS juga khawatir bahwa ini akan menjadi kerumitan terbaru dalam hubungan AS-China yang memburuk. "Orang tua saya lebih khawatir daripada saya ketika mereka melihat berita," kata Yun Li, seorang desainer User Experience (UX) di Boston yang berasal dari Guangdong, China.

"Mereka juga meminta saya untuk secara serius mempertimbangkan kembali ke China mengingat lingkungan politik saat ini," tambahnya.



Simak Video "Siap-siap! AS Bakal Blokir TikTok dan WeChat Mulai Besok"
[Gambas:Video 20detik]
(jsn/fyk)