Tumor Otak Kini Bisa Dideteksi Pakai Artificial Intelligence

Tumor Otak Kini Bisa Dideteksi Pakai Artificial Intelligence

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 10 Jul 2020 19:07 WIB
Doctor and patient using digital tablet
Kalau AI Dipakai Deteksi Dini Tumor Otak. Foto: iStock
Jakarta -

Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di dunia medis tampak sangat menjanjikan, salah satunya untuk deteksi dini tumor otak seperti yang sedang dikembangkan Intel.

Bekerja sama dengan Perelman School of Medicine di University of Pennsylvania (Penn Medicine), Amerika Serikat (AS), Intel Labs mengembangkan teknologi untuk melatih model AI yang mengidentifikasi tumor otak.

Dijelaskan Santosh Viswanathan selaku Managing Director Intel APJ Territory, AI memerlukan data dalam jumlah masif. Untuk bagian ini, Intel mengandalkan software dan hardware-nya untuk menyokong kinerja berbagai komputasi dalam proses analisis data.

"Otak manusia punya 86 miliar neuron dan 100 triliun neurotic access yang tak pernah berhenti bekerja. Sangat powerful. Kami mencoba proses komputasi yang meniru cara kerja otak. Meski masih sangat jauh dibandingkan otak manusia, tapi sangat menjanjikan untuk AI dalam berbagai bidang di masa depan," ujarnya dalam wawancara eksklusif via video conference dengan detikINET.

Penn Medicine dan 29 lembaga kesehatan dan penelitian dari AS, Kanada, Inggris, Jerman, Belanda, Swiss, dan India akan melakukan pembelajaran gabungan yang merupakan pendekatan machine learning terdistribusi yang memungkinkan organisasi berkolaborasi dalam proyek pembelajaran mendalam tanpa berbagi data pasien.

Para peneliti internasional ini akan melatih model AI untuk perawatan kesehatan dan menggunakan teknologi machine learning yang tetap menjaga privasi pasien. Pengembangan algoritma yang mengidentifikasi tumor otak sudah dimulai tahun ini.

Tim besar ini memungkinkan peneliti medis mengakses data kesehatan yang jumlahnya jauh lebih masif namun tetap sambil melindungi keamanan data pasien.

Mengapa upaya ini penting? Berdasarkan data Asosiasi Tumor Otak Amerika (American Brain Tumor Association/ABTA), hampir 80 ribu orang akan didiagnosis menderita tumor otak tahun ini, dengan lebih dari 4.600 di antaranya adalah anak-anak. Deteksi dini tumor otak dengan memanfaatkan AI tentunya akan membantu banyak.

Untuk melatih dan membangun model untuk mendeteksi tumor otak yang dapat membantu dalam deteksi dini dan hasil yang lebih baik, para peneliti membutuhkan akses ke sejumlah besar data medis yang relevan.

Di sisi lain, penting diingat bahwa data pribadi tetap terlindungi. Dengan memanfaatkan pendekatan ini, peneliti dari berbagai organisasi bisa bekerja sama membangun dan melatih algoritma untuk mendeteksi otak.

"Intel membangun teknologi tak hanya untuk masa kini tapi juga menginvestasikannya untuk masa depan. Meski masih jauh dari cara kerja otak manusia, sistem yang kami bangun 10-20 kali lebih dari komputer yang ada sekarang, dan betapa teknologi ini adalah sebuah terobosan," kata Santosh.

Selain untuk deteksi dini tumor otak, dia memberikan contoh lain penggunaan AI dan neurotic computing di dunia medis, yaitu untuk mengidentifikasi bermacam-macam bau.

"Dengan meniru cara kerja otak manusia, bisa mengenali hingga 10 bau berbeda menggunakan neuromophic computing. Itu tidak bisa dilakukan komputer dengan arsitektur zaman sekarang. Sangat mengagumkan mengetahui teknologi ini masih akan berkembang lebih jauh lagi di masa depan," tutupnya.



Simak Video "Jangan Salah! Tak Semua Artificial Intelligence Bisa Gantikan Manusia"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)