Seputar Cincin Pemain NBA yang Dipercaya Bisa Deteksi COVID-19

Seputar Cincin Pemain NBA yang Dipercaya Bisa Deteksi COVID-19

Aisyah Kamaliah - detikInet
Minggu, 28 Jun 2020 11:42 WIB
FILE - In this Jan. 5, 2020, file photo, Phoenix Suns guard Devin Booker (1) dunks over Memphis Grizzlies forward Jaren Jackson Jr. in the second half of an NBA basketball game in Phoenix. Booker won the NBA 2K20 Players Tournament on Saturday, April 11, 2020, sweeping Suns teammate Deandre Ayton in the best-of-three final. (AP Photo/Rick Scuteri, File)
NBA meminta pemainnya mengikuti prosedur dan anjuran memakai cincin pintar yang diklaim bisa mendeteksi dini COVID-19. Foto: Rick Scuteri/AP Photo
Jakarta -

NBA, meski masih tentatif, rencananya akan menggelar musim terbaru pada 30 Juli mendatang. Meski begitu, ada sejumlah aturan termasuk opsi penggunaan cincin titanium yang diklaim bisa mendeteksi COVID-19.

Meski awalnya cincin Oura dirancang untuk melacak pola tidur, perusahaan ini sekarang mendanai studi di Rockefeller Neuroscience Institute Universitas Virginia dan University of California San Francisco untuk menentukan apakah perangkat itu dapat berguna untuk deteksi COVID-19 awal.

Cincin pintar seharga USD 300 ini bisa mendeteksi suhu tubuh, detak jantung, tingkat pernapasan, dan data fisik lainnya yang bisa mendeteksi dini COVID-19 sekalipun pemakainya belum menunjukkan gejala. Dengan memasukkan variabel-variabel ini ke dalam algoritma, cincin itu akan memberi para pemain 'skor probabilitas penyakit' yang memberi tahu apakah mereka harus menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut.

Aplikasi telepon pintar yang terhubung dengan cincin akan menyajikan skor dan informasi lain yang telah dikumpulkan perangkat. Permukaan bagian dalam cincin memiliki tiga sensor: sensor infrared photoplethysmography untuk pernapasan dan detak jantung, koefisien suhu negatif untuk suhu tubuh, dan accelerometer 3D untuk gerakan.

Namun, tidak ada bukti bahwa cincin pintar seperti Oura Ring berguna untuk deteksi dini. Berbagai ahli medis mengatakan kepada CNN bahwa masih sangat sedikit informasi tentang potensi perangkat-perangkat itu.

Tidak jelas juga apakah produk yang dapat dipakai dapat membedakan antara keberadaan virus corona atau infeksi virus lainnya, seperti influenza. Orang-orang kemungkinan besar menularkan penyakit kepada orang lain dalam periode sebelum mengalami gejala, sehingga perangkat mungkin tidak terlalu membantu untuk memprediksi kapan seseorang akan menjadi sangat menular.

Ditambah, keakuratan untuk pengukuran tergantung juga pada beberapa aspek termasuk suhu kulit yang dapat berfluktuasi tergantung pada seberapa ketat seseorang mengenakan perangkat. FDA juga belum menyetujui produk yang dapat dikenakan untuk mendeteksi COVID-19, demiakian melansir Slate.



Simak Video "WHO: Penularan Corona Lewat Udara Mungkin Terjadi di Kondisi Spesifik"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/asj)