Kasus Hacker yang Heboh di Indonesia, Terbaru Data KPU

Kasus Hacker yang Heboh di Indonesia, Terbaru Data KPU

Aisyah Kamaliah - detikInet
Sabtu, 23 Mei 2020 02:02 WIB
BERLIN, GERMANY - DECEMBER 27:  A particpant checks a circuit board next to an oscilloscope on the first day of the 28th Chaos Communication Congress (28C3) - Behind Enemy Lines computer hacker conference on December 27, 2011 in Berlin, Germany. The Chaos Computer Club is Europes biggest network of computer hackers and its annual congress draws up to 3,000 participants.  (Photo by Adam Berry/Getty Images)
Kasus Hack yang sempat bikin geger di Indonesia. Foto: GettyImages
Jakarta -

Era globalisasi dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih bagaikan pisau bermata dua, bisa berguna atau justru disalahgunakan untuk melakukan hack atau kejahatan di dunia cyber.

Berikut ini adalah beberapa kasus hacker yang sempat bikin geger di Indonesia:

1. Hacker Situs SBY

Pada tahun 2013, Jember Hacker meretas situs presidensby.info selama dua jam. Ialah Wildan dalang di balik kejadian tersebut. Ia hanya lulusan SMK Teknologi Pembangunan, namun kelebihan yang didapatkan Wildan ini berkembang semakin kuat secara otodidak.

Menkominfo yang saat itu menjabat, Tifatul Sembiring, menuturkan situs tersebut sebenarnya tidak di-hack oleh pelaku.

"Sebetulnya yang terjadi bukan hacking atau peretasan dalam situs presiden, tapi mengalihkan IP address yang ada di DNS yang ada di soft layer di Texas. Itu pun pulih dalam beberapa jam kemudian karena masih dalam tanggung jawabnya DNS server itu," ujar Tifatul, sebelum rapat terbatas di Istana Negara, Jakarta, Kamis (10/1/2013).

2. Hacker Jogja retas server perusahaan AS

Polisi menangkap seorang pria berinisial BBA (21) karena meretas server perusahaan di Amerika Serikat. Pelaku ditangkap pada Oktober 2019.

Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Pol Rickynaldo Chairul, menjelaskan tersangka menyebarkan tautan e-mail ke 500 akun e-mail yang berada di luar negeri. Salah satu korbannya adalah sebuah perusahaan di San Antonio, Texas, Amerika Serikat.

Dengan melakukan peretasan, tersangka dapat menyedot data-data korban. Selain itu tersangka melakukan pemerasan dengan mengancam akan menghapus data-data dalam server korbannya jika korban tak memberinya mata uang virtual, bitcoin.