Quo Vadis Pembelajaran Jarak Jauh?

Kolom Telematika

Quo Vadis Pembelajaran Jarak Jauh?

Kinanti Kusumawardani - detikInet
Sabtu, 02 Mei 2020 22:06 WIB
Seorang murid sekolah dasar (SD) belajar melalui siaran streaming TVRI di rumahnya, di Padang, Sumatera Barat, Senin (13/4/2020). Kemendikbud resmi meluncurkan program
Siswa belajar jarak jauh selama masa pandemi. Foto: Antara/Iggoy el Fitra
Jakarta -

Sejak pandemi COVID-19 merebak di Indonesia, institusi pendidikan merupakan salah satu yang pertama diimbau 'merumahkan' peserta didik dan para gurunya.

Terhitung sekitar pertengahan Maret 2020, sekolah berlomba memindahkan proses pembelajaran dari sekolah ke rumah melalui pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan berbagai fitur pada teknologi online, seperti online video conferencing, student-led online portfolio, hingga alat pendeteksi plagiarisme submisi tugas secara digital.

Prinsip pembelajaran jarak jauh yang digunakan oleh sebagian besar institusi pendidikan saat ini adalah 'classroom as usual' atau dengan kata lain, proses pembelajaran tetap terselenggara seolah-olah para peserta didik dan guru masih berada di kelas, hanya saja tatap muka dilakukan secara maya melalui perangkat komputer untuk menggantikan tatap muka langsung.

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dilakukan bervariasi, namun sekolah tetap berupaya untuk dapat menyelenggarakan KBM online secara penuh-waktu sesuai dengan hari dan jam belajar siswa di sekolah dengan harapan agar tujuan pembelajaran pada periode tersebut dapat tercapai sesuai kurikulum.

Ada beberapa faktor yang membuat penerapan prinsip 'classroom as usual' dalam KBM online tidaklah ideal dalam situasi pandemi virus Corona yang kita hadapi sekarang, khususnya terkait dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sedang berlangsung di sejumlah wilayah di Tanah Air.

gadget ubah duniaSmartphone, salah satu perangkat untuk belajar jarak jauh. Foto: Brainberries

Pertama, terdapat ketidakmerataan akses terhadap internet dan gadget untuk memfasilitasi proses pembelajaran. Tidak semua peserta didik dan guru memiliki komputer, tablet, atau smartphone yang dapat digunakan untuk mengakses ruang kelas online.

Seandainya pun ada, belum tentu satu keluarga memiliki jumlah perangkat yang cukup untuk digunakan oleh setiap anak berusia sekolah secara bersamaan.

Kedua, pembelajaran jarak jauh tidak dapat dilakukan secara sinkronus (real-time). Tuntutan untuk melakukan komunikasi online secara serempak melalui komputer atau perangkat komunikasi lainnya setiap hari pada jam pelajaran sekolah tidaklah realistis.

Sebelum pandemi virus Corona, sudah banyak contoh pembelajaran jarak jauh yang terselenggara di tingkat universitas maupun sekolah dasar dan menengah (melalui metode homeschooling). Salah satu prinsip yang dikedepankan dalam pembelajaran jarak jauh adalah pembelajaran secara tidak serempak atau asinkronus.

Ketiga, pembelajaran jarak jauh menuntut kemandirian belajar dari peserta didik itu sendiri. Kemandirian belajar secara online mencakup penguasaan kemampuan dasar seperti baca, tulis, dan berhitung.

Selain itu, dituntut pula penguasaan keterampilan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dasar, seperti mengunduh dan mengunggah konten belajar, menggunakan alat video conferencing, keterampilan mengetik dan membuat dokumen atau presentasi digital, serta etika berkomunikasi secara online.

Seorang murid sekolah dasar (SD) belajar melalui siaran streaming TVRI di rumahnya, di Padang, Sumatera Barat, Senin (13/4/2020). Kemendikbud resmi meluncurkan program Murid sekolah dasar belajar dari rumah didampingi orangtua. Foto: Antara/Iggoy el Fitra

Namun, yang terpenting dari pembelajaran jarak jauh adalah peserta belajar dituntut untuk mampu mengatur waktu dengan baik dan menghadirkan motivasi belajar pribadi. Hal ini barangkali sudah bisa dilakukan oleh pelajar usia sekolah menengah atas, sekolah menengah pertama, dan sekolah dasar kelas atas.

Akan tetapi, bagi pelajar sekolah dasar kelas rendah dan pendidikan anak usia dini (PAUD), semangat belajar mereka masih sangat dipengaruhi oleh aspek sosial, yaitu keberadaan mereka dalam kelompok pertemanan, belajar melalui permainan, dan masih perlunya pendampingan yang intensif dari guru atau orangtua untuk setiap kegiatan pembelajaran.

Keempat, saat ini sebagian besar orang dewasa di Indonesia dituntut working from home (WFH) alias bekerja dari rumah yang juga mengandalkan gadget dan jaringan internet memadai.

Koneksi internet yang masih fluktuatif di sejumlah wilayah dan terbatasnya perangkat membuat pembagian waktu pemakaian gadget dalam satu keluarga cukup menantang.

Kelima, dengan penerapan PSBB banyak layanan pendukung rumah tangga yang dibatasi untuk sementara waktu, seperti jasa asisten rumah tangga harian dan pengemudi (sopir) harian.

Ilustrasi work from home atau kerja dari rumahPara orangtua yang bekerja dari rumah sambil melakukan tugas rumah tangga. Foto: Getty Images

Hal ini berakibat pada pengalihan beban pekerjaan rumah tangga seluruhnya kepada keluarga masing-masing. Bagi sebagian keluarga, ini berarti tuntutan untuk melakukan WFH dengan bekerja penuh waktu dari rumah yang dibarengi dengan pengasuhan bayi dan balita, serta penyelesaian pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah.

Jika sejumlah pekerjaan tersebut ditambah dengan tanggung jawab untuk mendampingi kegiatan belajar anak secara online selama 6-7 jam setiap harinya, maka dapat dibayangkan tekanan fisik maupun psikis yang terjadi di unit sosial terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga.

Lima faktor di atas membuat kita harus mempertimbangkan ulang kurikulum dan target-target yang ingin dicapai melalui pembelajaran jarak jauh untuk anak-anak kita, setidaknya untuk 1 tahun ke depan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengumumkan kemungkinan skenario pembelajaran jarak jauh hingga akhir tahun 2020.

Jika ini terjadi, maka pemerintah harus merumuskan ulang target-target pembelajaran di masa pandemi ini. Kegiatan belajar secara online diupayakan untuk tetap berlangsung, namun institusi pendidikan harus bersiap untuk menurunkan standar capaian ideal akademik.

MOSCOW, RUSSIA - MARCH 20, 2020: Recording an online lecture for students of the Russian University of Transport. The university's rector Alexander Klimov ordered to shift the secondary vocational education programs to online learning amid the COVID-19 coronavirus pandemic, starting from March 23, 2020. Sergei Savostyanov/TASS (Photo by Sergei SavostyanovTASS via Getty Images)Perlu perumusan ulang tujuan KBM online untuk memaksimalkan pendidikan. Foto: Getty Images

Penyesuaian standar ini dapat diimbangi dengan memaksimalkan masa-masa belajar di rumah melalui pembekalan karakter dan life skill melalui aktivitas keseharian di rumah, sebagaimana arahan Kemendikbud.

Sebagai contoh, anak-anak dapat diajarkan bergotong royong di rumah melakukan beberapa pekerjaan bersama-sama seperti mencuci dan memasak, yang kelak akan menjadi bekal life skill mereka.

Akan tetapi, jika tugas-tugas akademik dari sekolah masih terus diberikan seperti biasa, seperti tugas menulis esai, membuat laporan penelitian, presentasi, dan mengerjakan lembar kerja siswa secara online, maka sulit bagi anak untuk menyempatkan waktu belajar life skill tersebut.

Hal yang perlu diingat adalah KBM online bukanlah 'classroom as usual' yang berjalan secara sinkronus (real-time) di dunia maya. KBM online adalah KBM yang terkendala secara jarak dan waktu sehingga sebaiknya diselenggarakan secara asinkronus.

Oleh karena itu, perlu perumusan ulang tujuan-tujuan pembelajaran KBM online untuk setiap jenjang pendidikan, penurunan standar pencapaian akademik, dan memanfaatkan momentum COVID-19 ini untuk memaksimalkan pendidikan karakter, memberikan pembekalan life skill kepada anak, dan menguatkan ketahanan keluarga dengan pembagian fungsi dan peran keluarga yang baik.

*) Penulis adalah dosen dan pemerhati pembelajaran jarak jauh.



Simak Video "SMP di Makassar Beli 428 Tab Tablet Dukung Proses Belajar dari Rumah"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)