Rabu, 08 Jan 2020 12:29 WIB

Grup WhatsApp dan Facebook Jadi Sarang Hoax Tumbuh Subur

Rachmatunnisa - detikInet
Grup WhatsApp dan Facebook Jadi Sarang Hoax Tumbuh Subur. Foto: iStock
Jakarta - Disinformasi sering terjadi melalui grup WhatsApp dan Facebook yang secara khusus dibuat untuk membahas politik. Facebook sendiri memberi prioritas pada postingan semacam ini pada halaman news feed-nya.

Berdasarkan laporan Reuters Institute Digital News Report 2019, kekuatan grup Facebook tertentu memiliki peran dalam mengoordinasikan gerakan dan protes, contohnya seperti protes Yellow Vest (Gilets Jaunes) baru-baru ini di Prancis yang menyebabkan ribuan orang turun ke jalan.

Laporan yang ditugaskan oleh Reuters Institute for Study of Journalism ini memberikan wawasan baru yang penting mengenai isu-isu utama, termasuk kesediaan orang untuk membayar berita, perpindahan platform ke aplikasi dan grup pesan pribadi, serta bagaimana orang melihat media berita di seluruh dunia melakukan pekerjaannya.

Dikutip dari The Shift News, laporan tersebut menggambarkan 2019 sebagai tahun dramatis bagi media sosial. Dalam hal ini, Facebook dan YouTube paling mendapat sorotan terkait dengan penyebaran hoax, disinformasi, ujaran kebencian dan keamanan serta privasi pengguna.



Publisher berita sendiri terdampak oleh respons Facebook terhadap masalah ini melalui serangkaian perubahan algoritma yang diterapkannya. Langkah selanjutnya yang akan dilakukan mungkin akan lebih mengganggu.

Februari lalu, CEO Facebook Mark Zuckerberg mengumumkan pergeseran fokusnya pada pesan pribadi. Zuck sudah mengatakan bahwa dirinya berharap WhatsApp dan Facebook Messenger menjadi cara utama pengguna berinteraksi di seluruh jaringan layanan Facebook. Ini berarti, aktivitas berbagi berita dan komentar di masa depan akan menjadi kurang terbuka dan kurang transparan menurut laporan tersebut.

Laporan ini juga mengungkapkan, pada 2019 di banyak negara, orang menghabiskan lebih sedikit waktu di Facebook dan beralih menjadi lebih banyak menghabiskan waktu dengan WhatsApp dan Instagram dibandingkan tahun sebelumnya.

Facebook mungkin masih menjadi jejaring sosial paling penting untuk mendapatkan berita, sementara komunikasi sosial yang berkaitan dengan berita akan menjadi bersifat lebih pribadi, mengingat aplikasi pesan terus bertumbuh.

Sementara itu, WhatsApp telah menjadi jaringan utama untuk mendiskusikan dan berbagi berita di negara-negara non-Barat seperti Brasil (53%), Malaysia (50%), dan Afrika Selatan (49%).



Orang-orang di negara-negara ini juga jauh lebih mungkin menjadi bagian dari kelompok WhatsApp yang besar dengan orang-orang yang tidak mereka kenal. Lagi-lagi, ini memperlihatkan sebuah tren yang mencerminkan bagaimana aplikasi pesan instant dapat memudahkan berbagi informasi pada skala yang berpotensi mendorong penyebaran informasi yang salah.

Kekhawatiran tentang penyebaran informasi yang salah tetap tinggi meski ada berbagai upaya dilakukan platform media sosial dan para publisher berita dalam membangun kepercayaan publik.

Inggris dan AS adalah dua negara paling mengkhawatirkan hal ini, dengan masing-masing persentase sebesar 70% dan 67%. Di semua negara, rata-rata tingkat kepercayaan terhadap berita secara umum turun menjadi 42%, dan kurang dari setengahnya (49%) setuju bahwa mereka mempercayai media berita yang mereka gunakan sendiri.

Di samping itu, laporan ini mengungkapkan bahwa media berita hanya dipandang bagus dalam menyampaikan breaking news ketimbang menjelaskannya. Di seluruh negara, hampir dua pertiganya merasa media bagus dalam membuat orang tetap update (62%), tetapi kurang membantu mereka memahami berita (51%).

Kurang dari setengahnya (42%) berpikir bahwa media melakukan pekerjaan yang baik dalam meminta pertanggungjawaban sosok berkuasa dan kalangan elit, dan angka ini jauh lebih rendah di Korea Selatan (21%), Hungaria (20%), dan Jepang (17%).

Secara keseluruhan, kepercayaan terhadap berita turun dari 44% menjadi 42%. Lompatan terbesar terjadi di Inggris (70%) di mana media berita dipandang punya andil besar dalam penyebaran informasi yang salah di Facebook dan YouTube sehingga DPR Inggris turun tangan dalam penyelidikan mengenai masalah ini.

Tambahan lainnya, studi ini juga menyoroti tren di mana publisher berita mulai banyak yang menyediakan konten berlangganan atau keanggotaan berbayar, sementara audiensnya sendiri sekarang lebih banyak yang beralih ke podcast.



Ditemukan hanya sedikit peningkatan dalam jumlah orang yang rela membayar untuk mendapatkan akses berita, entah dalam bentuk berlangganan, keanggotaan, atau sumbangan. Pertumbuhan ini hanya terbatas di beberapa negara terutama di wilayah Nordik seperti Norwegia (34%) dan Swedia (27%). Sementara jumlah yang membayar di AS (16%) tetap stabil setelah sebelumnya sempat melonjak pada 2017.

Bahkan di negara-negara dengan tingkat payment yang lebih tinggi, sebagian besar hanya memiliki satu langganan konten berita online. Ini mungkin disebabkan 'subscription fatigue', di mana mayoritas orang lebih suka menghabiskan anggaran mereka untuk konten hiburan seperti Netflix atau Spotify ketimbang berita.

Simak Video "Iklan di WhatsApp Bakal Dibatalkan"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)