Jumat, 08 Nov 2019 08:05 WIB

Mantan Karyawan Twitter Dituding Mata-mata Arab Saudi

Rachmatunnisa - detikInet
Foto: Irna Prihandini/detikINET Foto: Irna Prihandini/detikINET
Jakarta - Dua mantan karyawan Twitter dituding sebagai mata-mata Arab Saudi. Keduanya diduga menyelinap ke ribuan akun pribadi di Twitter, mencari informasi yang terkait dengan kritikan terhadap pemerintah Arab Saudi, berdasarkan berkas pengajuan kasus yang ditujukan ke pengadilan San Francisco, Amerika Serikat (AS).

Kasus ini, seperti dikutip dari NPR, Kamis (7/11/2019), merupakan yang pertama kalinya terjadi penuntut federal menuduh orang-orang Arab Saudi menempatkan agen-agen mereka di AS.

Salah satu tersangka, Ahmad Abouammo, warga negara AS keturunan Arab, adalah Media Partnerships Manager di Twitter yang tidak berwenang mengakses informasi pribadi pengguna jejaring sosial berlogo burung biru tersebut.



Namun dia diduga melakukan praktik terlarang mengakses informasi pengguna Twitter dan menerima pembayaran hingga USD 300 ribu dari seorang sumber di Saudi, yang diidentifikasi sebagai 'Pejabat Asing-1.' Abouammo juga diketahui menerima arloji mewah Hublot bernilai USD 20 ribu.

Tahun lalu, Abouammo diinvestigasi di rumahnya oleh FBI tentang arloji dan pembayaran yang diterimanya. Menurut pengaduan, dia membuat faktur palsu di laptopnya, mencoba membuat alasan bahwa pembayaran tersebut adalah kompensasi untuk konsultasi media yang disebutnya tak lebih dari USD 100 ribu. Abouammo juga dituduh bertindak sebagai agen asing dan memalsukan catatan untuk menghalangi penyelidikan federal.

Tersangka kedua, Ali Alzabarah, merupakan warga negara Arab Saudi yang bekerja di Twitter mulai Agustus 2013 sebagai Site Reliability Engineer. Pada 21 Mei - 18 November 2015, Alzabarah diketahui mengakses data lebih dari 6.000 pengguna Twitter secara ilegal.

Sebanyak 33 pengguna di antaranya, oleh penegak hukum Arab Saudi diajukan untuk pengungkapan darurat ke Twitter. Yang lebih mengejutkan, salah satu akun yang 'dikuliti' adalah milik kritikus ternama yang vokal terhadap pemerintah Arab Saudi.

"Salah satu akun adalah milik seorang 'pembangkang' terkenal, Omar Abdulaziz, yang diketahui dekat dengan Jamal Khashoggi, seorang kolumnis Washington Post yang mengadvokasi kebebasan berekspresi di dunia Arab," tulis The Washington Post.

Berdasarkan laporan, setelah dikonfrontasi oleh atasannya di Twitter, Alzabarah mengaku bahwa dirinya memang melihat data-data tersebut karena penasaran. Dia meninggalkan Twitter San Francisco pada 2 Desember 2015, dan di hari berikutnya mengajukan pengunduran diri lewat email saat dalam penerbangan kembali ke Arab Saudi.

Selain dua mantan karyawan Twitter, ada satu lagi tersangka lainnya, Ahmed Almutairi alias Ahmed Aljbreen yang juga dituding sebagai mata-mata. Dia adalah warga negara Arab Saudi yang dalam laporan kasus digambarkan sebagai kepala sebuah perusahaan marketing media sosial yang bekerja untuk keluarga kerajaan Arab Saudi.

Dia diduga merupakan penghubung di antara pejabat Arab Saudi dengan dua mantan karyawan Twitter tersebut dan diyakini berada di Arab Saudi sambil bekerja sama dengan Alzabarah dalam proyek media sosial untuk 'kepentingan' kerajaan Arab Saudi.

Sementara itu, Twitter pernyataannya terkait kasus ini, mengatakan bahwa pihaknya mengetahui bahwa ada 'aktor jahat' yang mencoba merusak layanannya. Twitter juga menegaskan bahwa mereka membatasi akses ke informasi dan akun sensitif untuk sekelompok karyawan terbatas yang sudah terlatih dan telah melalui berbagai tahap screening.



"Kami memahami risiko luar biasa yang dihadapi banyak orang yang menggunakan Twitter untuk berbagi perspektif mereka. Kami memiliki alat untuk melindungi privasi mereka dan kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan vital mereka," tutup Twitter.

Simak Video "Respons Twitter Ada Mantan Karyawannya Dituduh Memata-matai "
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fyk)